Tanggal : 31 January 2010
Kejadian bermula ketika saya mengantarkan Om saya ke sebuah Hotel (beliau tidak mau menginap dirumah saya), karena sudah booking duluan kami tidak perlu berlama-lama dilobby, saya mengantarkan Om ke kamar dan setelah berbasa-basi sebentar saya pamit, karena pada jam 11.00 WIB saya harus kembali ke Laboratorium untuk mengambil hasil test darah dan Urine yang saya lakukan tadi pagi dan sorenya saya harus menemui dokter yang merawat saya.
Pada saat melewati Lobby saya melihat/mendengar seorang bapak sedang berdepat dengan satpam hotel.
“Saya menginap disini bayar bukannya gratis, jadi anda tidak berhak mengatur saya…” saya dengar suara Sang Bapak cukup kencang, meskipun jarak saya dengan kedua orang tersebut cukup jauh.
“Maaf Pak, ini memang sudah peraturan hotel. Bapak tidak boleh merokok disini”, saya mendengar Sang Satpam mencoba memberikan penjelasan.
Baca Selanjutnya »
Tanggal : 28 January 2010
Azan mahgrib baru saja selesai berkumandang dengan merdu, masih terdengar lamat-lamat suara terakhir sang muazin. Aku masih diam, termangu dengan sebatang rokok yang sedang menyala. Tatapanku jauh menerabas bukit sebunga yang menjadi pemandangan hari-hari dilokasi kerja. Aku sendiri bingung apa yang ada dalam fikiranku saat ini. Kosong.
“Anak muda…kamu tidak sholat ?”
Aku celingak-celinguk, menoleh kekiri dan kenan mencari sumber suara yang menegurku dengan halus. Jelas terdengar suara itu ditelingaku, tapi aku tak melihat sosok siapapun yang ada didekatku. Yang ada hanya aku sendiri, berdiri terdiam dikeremangan senja itu.
Baca Selanjutnya »
Tanggal : 27 January 2010
Ini cerita superlawas, cerita lama yang sudah terkunci dilemari harta karun. Tetapi karena salah seorang rekan blogger sedang membuat hajatan dan meminta cerita tentang pengalaman bersepeda, apaboleh buat. Lemarinya dibongkar dengan kampak (kuncinya udah hilang), bolak-balik buka arsip yang sudah mulai berdebu dan sedikit dimakan rayap akhirnya saya menemukan kisah ini. Mungkin sudah tidak utuh lagi, tetapi esensinya masih tetap sama.
Saya terlahir dari keluarga yang sangat sederhana (ayah PNS rendahan dan ibu penderes karet), sehingga kendaraan yang paling mewah dirumah waktu itu berupa sepeda ontel merk (kalau nggak salah) “Releigh” khusus untuk laki-laki (karena memiliki palang tengah) dan menjadi kendaraan kebanggaan bapak.
Baca Selanjutnya »
Komentar Terbaru