bos marahBiasanya dalam lingkungan keluarga atau dikalangan teman dekat kita memiliki identitas unik berupa panggilan sayang. Rekan-rekan jawa biasanya memanggil dengan Nduk, Ngger atau kalau didaerah saya dipanggil Ujang, Adoi. Sekali lagi saya tekan bahwa ini biasanya berlaku dalam lingkungan keluarga atau diantara teman-teman dekat.

Untuk orang baru pertama kali dikenal biasanya saya akan melihat/mengira-ngira usianya. Jika laki-laki saya cenderung memanggil Mas atau Kang, seandainya perempuan saya biasanya lebih cenderung memanggil Mbak ( not yet Kakak ).


Sangat jarang saya memanggil orang baru saya kenal dengan sebutan Bapak atau Ibu terkecuali jika saya tahu yang bersangkutan pejabat atau usianya selisih jauh dengan dengan saya. Kalau saya tidak salah Bapak Jacob Utama owner Kompas Gramedia pernah mewajibkan semua karyawannya untuk memanggil dengan sebutan Mas dan Mbak tanpa memperdulikan usia dan jabatannya.


Dilingkungan saya kerja, ibu-ibu umumnya akan memanggil kami para karyawan dengan Panggilan OM (*harapannya sih bukan Otak Miring*). Sementara diantara para karyawan sendiri biasanya memiliki julukannya sendiri-sendiri.
Julukan ini umunya melekat erat, sehingga seringkali dalam meeting internal masih terdengar panggilan julukan.

Biasanya julukan ini berkaitan erat dengan keseharian si karyawan dan ide kreatif teman-teman tidak pernah habis, buktinya dari hampir dua ribu karyawan tidak ada yang memiliki julukan yang sama.
Contohnya seperti ini :
Jika ada teman yang susah mingkem akan dipanggil “Cengir”,
Jika orangnya lincah dan jahil dijuluki “Kancil”,
Jika yang bersangkutan memelihara jenggot akan dijuluki “Pak Jenggot”, begitu seterusnya.

Saya sendiri sering di panggil “Aceng” karena ada darah cina yang mengalir ditubuh saya. Ada yang memanggil “Pak Cik”, karena dulunya logat melayu saya seperti logat melayu Malaysia. Saya sendiri tidak pernah perduli dengan segala macam julukan panggilan tersebut.

Tetapi ada satu panggilan yang akan membuat saya marah, apa itu ? “JANGAN PANGGIL SAYA BOSS”, buat saya panggilan bos adalah penghinaan terhadap diri saya. Dan maaf, mungkin adakalanya saya bertindak kelewatan ketika ada yang memanggil saya dengan sebutan bos.

Pernah suatu kali saya carter mobil ketika pulang cuti, dengan si supir saya tidak begitu akrab tetapi saya mengenalinya, karena sehari-harinya mangkal dilogpond. Ketika sampai ditempat tujuan yang sisupir minta tambahan Rp. 20.000 dengan alasan untuk membeli rokok. Saya sebenarnya tidak berkebaratan, tetapi karena dia meminta dengan memanggil saya boss, sambil menahan emosi saya cuma bilang uang carteran mobilnya nanti minta dengan anak buah saya saja.

Kemudian saya pergi, walaupun demikian sewa carteran itu saya bayar satu bulan kemudian melalui perantaraan teman, saya sendiri sudah malas menemui yang bersangkutan.

Apakah hal ini terjadi pada rekan-rekan blogger ?

http://binsar.blogspot.com/2008/03/kiat-sukses-menjadi-sahabat-boss.html