Pengetahuan yang dangkal, membuat kamu buta.
Maaf, mungkin judul diatas terlalu “menusuk”, tetapi saya bingung juga mencari kata-kata yang pas untuk mendefinisikan kejadian yang saya alami dalam perjalanan tempo hari.
Mungkin sudah takdirnya menjadi anak udik, jika kekampung/daerah pedalaman yang saya tanyakan kepada penduduk sekitar apakah ada menanam ubi/singkong. Karena saya cukup doyan dengan singkong bakar.
Masih didusun yang sama dengan sebelumnya, setelah siputri kecil pergi, saya menghampiri seorang bapak yang sudah cukup berusia; mungkin sekitar 50 tahunan.
Saya tanyakan apakah beliau menanam ubi ( khawatir kalau menggunakan singkong yang bersangkutan malah bingung ).
Entah apa yang ada dibenak si Bapak, dia memandang saya seperti tidak percaya, pangeran ganteng dari kota kok yang di tanyakan ubi. Saya tersenyum simpul, saya jelaskan kepada si Bapak, bahwa ubi itu enak, gurih dan lain sebagainya. Tetapi sungguh jawaban sibapak membuat saya tercengang ( seharusnya tidak perlu; dulu dalam lingkungan keluarga saya juga punya anggapan yang sama ).
“Waiii…, nak ubi kau ke ngumpan janik. Bala direk dah nyemelih manuk, nama kak ngegak ubi ?” ( terjemahan bebasnya : “Nak, kalau ubi itu untuk makanan Babi. Kawan anak sudah menyembelih ayam, mengapa anak mau makan ubi” ).
“Nai sik muah apak, nama kak utai dimakai. Naisah kak janik, nya nyawa nak ke kak ngatuh”
(“Nggak apa-apa kok Bapak, namanya juga makanan. Jangankan babi, kalau kita mau kan pasti enak juga”).
Si Bapak masih diam, mungkin masih belum percaya.
Karena begitu timbul niatan iseng. Kebetulan dirangsel saya masih ada beberapa potong Getuk Lindri, saya keluarkan dan saya tawarkan ke Bapak tersebut. Dengan sedikit sungkan dia ambil satu potong, agar dia tidak ragu saya juga mengambil satu potong. Buat saya sih nikmat. Mungkin karena saya mengunyah tanpa ragu sibapak juga secara perlahan memasukan potongan getuk lindri dan….huuup, separo hilang.
Setelah habis saya tanyakan sama si bapak enak nggak kuenya, dengan lugunya sibapak menjawab enak. Saya ingin tertawa tapi saya tahan.
“napa tadi nuan madah ubi nai kak dipakai, ngkah kak dimakai janik ?”
(kenapa tadi bapak bilang ubi hanya untuk makanan babi ?), tanya saya ke sibapak. Tanpa menunggu jawaban saya teruskan.
“tedi’ teh ruti nuan mamah, dipulah ari ubi nuan”
(tadi tuh kue yang bapak makan, terbuat dari ubi).
Sibapak memandang saya seakan tidak percaya dan dia dengan enteng menjawab.
“nai kak ngira ari ubi kau, nai sik asa ubi, asa kak ari tepung. Ikau dari kuta, nai patut makai ubi. Bala nai hantup iya ruti ari ubi”
(Nggak mungkin dari ubi, tidak ada rasa ubi, rasa dari tepung. Kamu kan dari kota, tidak mungkin makan ubi. Saya ndak percaya kue itu terbuat dari ubi).
Saya tidak menjawab dan hanya tersenyum simpul.
Aah, sibapak memang tidak pernah keluar jauh dari kampungnya. Sehingga jika saya jelaskan panjang lebarpun jika Getuk Lindri terbuat dari Ubi/Singkong dia tetap tidak akan percaya. Sudahlah, biarlah dia menganggap ubi itu makanan ternak, tapi nyatanya Getuk Lindri yang saya berikan habis dalam waktu kurang dari 3 menit.
Keluguan dan kenaifan pedesaan memang masih terlalu kental, masih jauh dari jangkauan modernitas kota yang serba gemerlap. Jika sibapak tetap beranggapan bahwa ubi/singkong hanyalah makanan ternak. Berarti saya dan si Bapak, barusan saja menjadi ternak
Illustrasi Gambar : sekolahalamarridho.wordpress.com
dasar si bapak, katanya gak suka ubi karena itu makanan ternak, tapi waktu di kasih getuk yg terbuat dari ubi malah abis dg lahapnya.. haha
memang ya mas, kita itu harus mempunyai pengetahuan lebih, agar nanti gak kayak si bapak.??
Itu karena dia tidak tahu kalau Getuk Lindri terbuat dari ubi. Kalau saya jelaskan dari awal mungkin beliau tidak mau.
Baru denger nih kalau ubi ini makanan babi. Di Papua sini, penduduk asli maupun pendatang yg melihara babi gak ada yg dikasih makan ubi tuh. Mendingan kita yg makan ubi-nya, wong uenak tenan kok
hehehe..
Lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya
Bekicot saja bisa jadi makanan yang enak jika kita bisa mengolahnya. Potensi kita banyak sebenarnya. Namun, kenapa ya potensi besar itu tak juga membuat kita hidup lebih sejahtera dibanding bangsa-bangsa kita di dunia?
Kita punya potensi, tetapi penanganan potensi itu sendiri masih ambur adul kok.
hehehe masa ubi di bilang cuma makanan babi. Saya suka banget lho makanan dari ubi. Kaya keripik dari ubi
Saya juga doyan Fanz.
Assalaamu’alaikum
Tidak dapat disangkal bahawa budaya setempat mempengaruhi keadaan kehidupan sesuatu kaum. Maka, tidak hairan jika bapak tersebut terkejut dengan apa yang nanda maksudkan dengan ubi tersebut. Sepertinya dialog itu adalah dalam bahasa Iban kerana bunda faham apa yang dibicarakan. Bahasanya hampir sama dengan loghat bahasa Iban di Sarawak.
Alhamdulillah…. sekurang-kurangnya dengan merasa sedikit kuih ubi yang diberikan oleh Aldy akan membawa satu transformasi dalam makanan di daerah tersebut. Senang dapat kembali mengunjungi Aldy di sana. Salam mesra dari bunda di Sarikei, Sarawak.
Waalaikumsalam Bunda,
Kita sudah mencanangkan program baru bunda, pengenalan makanan yang terbuat dari singkong/ubi.
barang kali di sini perlu adanya keberpihakan pemerintah terhadap potensi daerahnya masing-masing. saya teringat bahasanya iwan fals, desa jadi tulang punggung dan urat nadi kota. jadi permasalahnnya bagaimana pemerintah bisa berpihak ke warganya….
Secara garis besar sebenarnya pemerintah sudah berpihak kepada masyarakat, cuma karena cakupan wilayah yang luas serta keterbatasan Dana membuat keberpihakan tersebut seperti tidak ada.
pengetahuan sangat penting untuk mengubah sudut pandang, mengubah karakter, mengubah hidup, mengubah nasib.
Elmoudy,
Pengetahuan memang memberikan banyak manfaat, cuma sayang masih ada orang tua yang tidak sadar akan pentingnya sekolah bagi anak-anaknya.
sepertinya terkait dengan budaya daerah setempat,
bukan semata mata karena keluguan dan kenaifan Si Bapak sehingga beliau menyebut ubi hanya sebagai makanan ternak
poto getuk lindri nya bikin ngiler,
masih ada ga sebungkus lagi?
Lyna Riyanto,
Masyarakat disini dimanja oleh Alam, mereka belum merasakan sulitnya mencari sesuap nasi seperti dijawa. Tetapi dari perjalanan beberapa hari tersebut, saya juga mendapati bahwa ubi dengan anggapan seperti itu hanya pada generasi tua, untuk generasi kebawahnya saya tidak menemukan yang beranggapan seperti itu.
Hahahah, sangat menusuk pak ..
Mudah-mudahan nggak tembus
itu bahasa daerah mana om ya?
Salah satu sub suku dayak di Kalimantan Barat.