Rencana, pelaksanaan, evaluasi dan nasib
“Kita hanya bisa berusaha, tetapi Tuhan yang menentukan”.
Kalimat ini membuat naik pitam ketika salah seorang peserta evaluasi semester pertama dilangsungkan, tadi pagi. Bukannya tidak percaya dengan kekuasaan Tuhan, tetapi apa jadinya jika setiap evaluasi teknis selalu dikaitkan dengan nasib. Yang diperlukan pada saat ini adalah evaluasi kegiatan terhadap pelaksanaan rencana kerja yang sudah disahkan pada awal tahun.
Belum waktunya untuk mengatakan bahwa Tuhanlah yang menentukan. Mengapa?
- Evaluasi ini hanya untuk semester pertama, masih ada waktu 6 (enam) bulan lagi untuk menentukan hasil akhir rencana awal tahun.
- Evaluasi diperlukan untuk mengamati, menilai dan menyimpulkan apakah kegiatan yang dilakukan pada semester pertama sudah sesuai dengan rencana, mencari sumber permasalahan yang menghambat tercapainya target antara pada pertengahan tahun (semester pertama).
- Evaluasi hanya bersifat teknis, belum mempermasalahkan campur tangan kekuatan lain.
- Evaluasi dilakukan, selain untuk mengetahui kendala teknis, juga mencari solusi pemecahan masalah, mengantisipasi kemungkinan yang sama, serta menetapkan langkah-langkah baru (revisi rencana) untuk pelaksanaan 6(enam) bulan kedepan.
Anda boleh, dan sangat dianjurkan taat beribadah, apapun agama anda. Tetapi tidak ada satupun agama didunia ini yang menganjurkan umatnya pasrah membabi buta, setiap kegagalan selalu di katakan cobaan dari Yang Maha Kuasa.
Seharusnya, tindakan teknis terhadap sebuah rencana tidak selalu melibatkan kuasa Tuhan, apalagi jika gagal. Terdengar seperti keputusasaan
Sebelum menyerahkan nasib kepada Tuhan, ada baiknya instropeksi dulu. Sudahkah anda menjalankan rencana tersebut dengan benar?, realistiskah rencana yang dibuat?, berapa batas toleransi kegagalan terhadap rencana?, sudah maksimalkah usaha anda?, jika semua langkah tersebut sudah anda lakukan, tetapi hasil yang anda dapat belum juga maksimal, silahkan menghibur diri dengan mengucapkan kalimat sakti tersebut.
Bagaimana dengan kalimat berikut?
“Tuhan tidak akan mengubah nasib umatnya, jika umatnya sendiri tidak berniat mengubah nasibnya.”
Benar sekali bang, dimana ada kemauan disitu ada jalan.
Ada seribu jalan bahkan lebih yang diberikan Tuhan bagi manusia untuk bisa bangkit dari keterpurukan.
Bayangkan, lebih dari seribu jalan yang diberikan oleh Tuhan, tetapi masih juga manusia bersandar kepada Tuhan ketika dia gagal.
“Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang berusaha mengubah nasibnya…”
Ayat Al-Quran yang selalu aku bawa kmanapun aku berada
salam akrab dari burung hantu
http://blog.beswandjarum.com/denus/2010/08/03/kisahku-tentang-ibu-pertiwi-yang-sedang-lara/
Denuzz, yah. Kita sendirilah yang berusaha dan Tuhan merestui.
Mungkin ada kaitannya: Tuhan tidak menciptakan nasib dengan lemparan sebuah dadu [ Einstein]…, sebuah petuah teman yg tak sengaja sy comot di ingatan.
Tuhan memperhitungkan dengan cermat semua yang terjadi dialam ini.
setuju sangat dengan tulisan yang ada dibagian akhir , sebaik2nya hasil adalah setelah berusaha semaksimal mungkin.
ungkapan paling atas tulisan ini, mengesankan seolah2 tdk mau berusaha maksimal, hanya menyerahkan ,bahkan terkesan menyalahkan Tuhan.
salam