“Siapa bilang puasa itu wajib? jika ada yang mengatakan puasa itu wajib silahkan temui saya dan akan saya pertanyakan landasan hukumnya”. Saya terkesima mendengar kata-kata tersebut keluar dari bibir teman saya sendiri. Bagaimana mungkin, teman yang selama ini menjadi panutan kami menjalan ibadah tiba-tiba bicara seperti ini. Habis mimpi apa dia.

“Bro, jangan membuat pernyataan yang bukan-bukan, kita semua tahu puasa Ramadhan ini wajib hukumnya”, salah seorang teman menyanggah. Tetapi dia hanya tersenyum kecil. “Kamu bro, apa pendapatmu?”, pertanyaan ini justru dia lemparkan kepada teman yang lain.

Tidak ada satupun yang menyahut, karena harus diakui sang teman memiliki pengetahuan agama yang lebih baik dibanding kami yang lainnya. Memiliki sejuta argumen dan dilengkapi dengan ayat suci Al-Qur’an dan Hadist, tapi tidak pernah dia mabok seperti hari ini.

“Bro, apa pertimbangan dan alasan kamu mengatakan puasa Ramadhan tidak wajib. Saya belum menemukan satupun dalil yang dapat memperkuat argumen kamu. Mohon kamu tidak main-main dengan ucapanmu”, salah seorang teman lainnya menimpal. Anak ini memiliki ilmu agama yang baik, tetapi dia pendiam. Tidak pernah terdengar kata-katanya jika tidak benar-benar perlu. Dan sepertinya, kali ini dia sudah tidak dapat menahan gejolak dihatinya.

Entah apa yang ada dibenak teman yang melontarkan pernyataan tadi, buktinya dia hanya terseyum simpul, disatu sisi dia seperti mengiyakan perkataan teman barusan, tetapi disisi lain dia sangat yakin dengan pendapatnya.

Suasana senyap, saya yang memiliki ilmu agama paling rendah diantara teman-teman belum berani angkat bicara, karena jika sudah dihajar dengan dalil-dalil agama, saya pasti mati kutu :(

Karena semuanya diam. Tetapi sang teman tetap tersenyum simpul (mungkin sedikit najis), seakan-akan mentertawakan pengetahuan agama kami yang rendah.

“Bro, sebaiknya kamu jelaskan kepada kami atau kamu sekarang sudah berubah menjadi menara karena ilmu agamamu? atau kamu justru menjadi jumawa karena mengetahui semuanya?”, saya mengeluarkan kata-kata perlahan.

Kelihatan dia menarik nafas panjang, ciri khas jika dia kecewa. “Baiklah, saya akan menjelaskan kepada kalian kenapa puasa Ramadhan itu tidak wajib. Tetapi perlu saya garis bawahi, tolong dengarkan kata-kata dengan seksama agar tidak terjadi salah penafsiran”. Buseeettt, saya merutuk dalam hati, bukannya menjelaskan malah bergaya.

“Salah satu syarat menjalani puasa Ramadhan adalah sudah akil baliq”, dia diam dan memandang kami yang melongo bego’. “Apakah puasa Ramadhan wajib bagi yang belum akil baliq?”, dia melemparkan pertanyaan. Terdengar jawaban serempak “Tidaaaakkkk”. “Tolong”, dia melanjutkan. “Tolong jelaskan kepada saya dalil mana yang mewajibkan orang yang belum akil baliq wajib puasa Ramadhan, jika tidak ada berarti puasa ramadhan tidak wajib, bagi yang belum akil baliq.”

Selesai mengucapkan kata-kata itu dia langsung kabur dengan langkah seribu. Terdengar umpatan kecil dari teman-teman yang lain. Bahkan ada sandal yang terbang. Tetapi karena dia sudah mempersiapkan diri untuk kabur, sandal tersebut hanya mendarat dengan seadaanya ditanah.

Saya perhatikan sekeliling, ada yang kesal dan ada juga yang bernafas lega. Ternyata dia hanya melontarkan pernyataan yang seharusnya sudah sama-sama kami pahami.

Cerita ini terjadi hampir 17 tahun yang lalu, dua orang diantara yang berkumpul pada saat itu sudah menghadap Yang Maha Kuasa. Pak Sam, masih sering khotbah?, rekan-rekan yang tahu cerita ini, mohon maaf saya tidak konfirmasi terlebih dahulu. Selamat Ramadhan.