Laki-laki itu duduk lemas dengan wajah kusut, tatapan matanya kosong, fikirannya melayang entah kemana. Dia sedang diterpa cobaan yang berat, orang yang dicintainya dengan sepenuh hati ternyata berpaling kelain hati. Ini bukan kejadian yang pertama, tetapi sudah beberapa kali.

Malam tadi mungkin merupakan malam yang paling berat bagi dia, berita yang diterima melalui telepon genggam itu meluluh lantakan hatinya. Saya hanya bisa menarik nafas panjang, sejak kejadian pertama saya sudah bersuara sangat keras agar dia menceraikan pasangannya, tetapi dia bersikukuh mempertahankan perkawinan tersebut demi anak.

Dan kini kejadian itu berulang kembali. Saya hanya meminta dia segera pulang (kebetulan saya bisa merekomendasikan cutinya), cari kebenaran berita yang diterimanya, jika terbukti benar, tidak perlu berfikir panjang, lebih baik berpisah. Tentunya mengikuti ketentuan yang umumnya berlaku, agar tidak terjadi silang sengketa dibelakang hari.

Sejujurnya kasihan dengan kondisinya, tetapi mau bagaimana lagi. Kesalahan bermula dari sikap penuh toleransi demi kebaikan, tetapi dimanfaatkan oleh pihak lain untuk kesenangan sendiri. Ach… mengapa harus terjadi? begitu rendahkan nilai harga diri dan keimanan, sehingga rela merontokan mahligai rumah tangga demi kenikmatan sesaat?

Ya Allah, jauhkanlah hamba Mu yang hina ini dari perbuatan-perbuatan duniawi yang menyesatkan.