Jujur, kadang saya iri dengan teman-teman pada saat berbuka puasa, setelah seharian perut kosong, pada saat berbuka puasa, setelah minum air putih dan makan kecil, biasanya mereka langsung lahap menikmati makanan besar (nasi dan lauk pauknya).

Sementara saya? hanya minum air putih ditambah dengan minuman yang manis, makanan kecil dan ops… rokok :( sementara untuk makan nasi dan lauk pauknya, saya butuh waktu minimal satu jam setelah berbuka puasa. Kalau dipaksakan perut saya akan sakit sepanjang malam atau jika tidak saya akan muntah. Entah apa penyebabnya, mungkin setelah seharian kosong, si perut butuh adaptasi dulu terhadap makanan yang masuk.

Salut buat rekan-rekan yang mampu langsung menikmati nasi dan lauk pauknya. Dan salut dengan kemampuan perut mereka dalam melakukan penyesuaian.

Mengapa saya sedikit mengeluh? awal puasa kemarin terjadi miskomunikasi dengan ibu-ibu yang masak, dan salah saya juga karena tidak memberi tahu terlebih dahulu kelemahan saya jika berbuka puasa. Waktu itu, setelah berbuka bersama, minum secukupnya saya langsung pulang kerumah, setelah menjalankan kewajiban dibulan ramadhan, saya kembali lagi kedapur. Apa yang saya dapati? Ow… seluruh lemari makanan sudah dalam kondisi terkunci, walaupun baru sekitar jam 21:00 WIB, saya tidak mau mengganggu ibu-ibu yang masak, mereka sudah dikamar masing-masing dan perlu istirahat lebih awal, karena akan bangun subuh untuk melayani makan sahur.

Akhirnya pulang dengan tangan hampa, bagusnya dirumah selalu tersedia Indomie Kaldu ayam dan telor, dengan sedikit terpaksa kedua jenis makanan tersebut menjadi sasaran. Agar kejadian yang sama tidak terulang, besoknya memberitahukan kepada ibu-ibu yang masak, bahwa saya makan nasi dan lauknya setelah selesai ritual ramadhan. Alhamdullilah, sekarang kejadian serupa tidak terjadi lagi.

Notes : diperusahaan tempat bekerja, kami makan didapur khusus yang disediakan untuk staff senior, karena istri tidak ada dilingkungan camp.