Tanggal : 29 September 2010
Bentrokan yang terjadi Tarakan Kalimantan Timur, hanya berawal dari perkelahian biasa yang kemudian menjadi bentrokan masal, mungkin saja kelambanan penangangan oleh aparat terkait menjadi penyebabnya. Bahkan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, Priyo Budi Santoso menyerukan agar Kepolisian RI segera menangkap provokator dibalik kejadian ini. Dan saya setuju dengan seruan tersebut.
Tetapi, selalu ada tetapinya, saya tidak setuju dengan ucapan Wakil Ketua Dewan tersebut berkenaan dengan penangan kasus tarakan dengan rencana kenaikan anggaran Polri. Tetapinya apaan tuh!
Tanggal : 25 September 2010
Setelah puas dengan segala kemauan pada dua artikel tak bersambung beberapa waktu yang lalu, pada tanggal 24 September 2010 ada pemberitahuan dari Bli Budi Arnaya bahwa ada pemberian award dari beliau kepada pengelola blog ini.
Award yang cantik, dengan desain yang simple disertai dengan kata-kata “Truly Blogger From Indonesia”, sungguh menggoda. Harus diambil?
Keputusan yang pahit harus diambil, dengan berbagai pertimbangan dengan berat hati, diputuskan untuk tidak mengambil award tersebut, karena jika award diambil kesan loba/tamak dan serakah menjadi sulit dihindari. Heeh, kenapa?
Tanggal : 22 September 2010
Setelah kemarin perdebatan tentang kehidupan artis (oknum) yang suka membuat self film yang diceletuki pada bagian akhir, setelah ditunggu-tunggu ternyata tidak ada kelanjutannya. Mungkin mereka sudah tahu kalau celetukan tersebut sebenarnya ungkapan kejengkelan saja.
Hari ini, tidak ada perdebatan konyol dan basi tersebut, tetapi saya kedatangan seorang karyawan yang mengeluh pembayaran tagihan pulsa Kartu Hallo (telkomsel) membengkak. Pembayaran bulan Juli 2010 Rp. 613.000,00 dan Bulan Agustus 2010 Rp. 415.000,00. Angka yang besar jika hanya digunakan untuk bertelepon, sementara menurut penuturannya, kartu tersebut pun tidak pernah digunakan untuk browsing internet.
Masalahnya dimana?
Tanggal : 21 September 2010
Ini cerita kosong teman-teman tadi sore sebelum pulang kerja. Entah siapa yang memulainya, lima orang teman sedang asik berdiskusi mengapa ada artis kita yang mau membuat self-film. Seperti seorang anak kecil mendengarkan dogeng, aku diam mendengarkan.
- Teman pertama, “Seharusnya film-film seperti itu tidak pantas mereka buat, apalagi mereka bukan pasangan suami istri yang sah. Hanya pacaran yang juga belum tentu berakhir dipelaminan. Sebagai public figure, layaknya mereka menjadi contoh yang baik, bukan contoh yang buruk”.
Diam-diam, aku setuju dengan pendapat ini.
- Teman kedua, “Biarkan saja, toh mereka bukan keluarga kita. Dan kita tidak tahu, mungkin saja mereka menjalani profesi ganda, sebagai artis yang menghibur masyarakat banyak atau sebagai artis yang menghibur kalangan terbatas.”
Mungkinkah? aku merenung. Profesi ganda? tahu yang dimaksud?
- Teman ketiga, “Itulah kehidupan artis kita, menjadi artis yang tidak dibekali dengan ilmu agama yang baik justru menjadi artsi yang lain. Kesenangan dunia lebih diutamakan, kenikmatan sesaat lebih nikmat dibandingkan menjalankan hidup dengan normal. Mereka hanya ganteng dan cantik secara fisik, tetapi moralnya? nol besar”.
Ada nada emosi ketika dia mengucapkan kata-kata ini. Maklum saja, karena putrinya penggemar berat salah satu artis yang menjadi bintang dalam pembuatan self film tersebut.
- Teman keempat, “Itu hak mereka, mereka mau berbuat apa terserah mereka. Emangnya apa hak kita mencampurinya. Yang menjadi masalah buat saya hanyalah, mengapa mereka mau mem-film-kannya?”
Aku masih asik mendengarkan, sambil nyengir kuda.
- Teman kelima, “Jadi kesimpulannya gimana? apa karena moral mereka bejat? atau mereka mengidap kelainan seksual?, berprofesi ganda atau karena popularitas mereka sudah turun? sehingga dengan membuat sensasi seperti ini popularitasnya meningkat?”
Aku merasa, obrolan tersebut tidak ada gunanya, toh kejadiannya sudah berlalu dan sedang ditangani oleh aparat kepolisian.
Sambil bangun dari tempat duduk, aku cuma menyeletuk “SEMUA ITU MEREKA LAKUKAN, KARENA MEREKA MAU“, aku tidak menunggu jawaban, karena jam sudah menunjukan pukul 16:00 WIB, waktunya pulang. Dan aku berlalu dengan santai. Sambil menunggu komentar mereka besok.
Tanggal : 19 September 2010
Mungkin sudah jamak, dalam dunia ini selalu ada senior-junior, oldest-newbe, tua-muda.
Demikian juga dengan dunia blogger, dan satu hal yang menarik dunia antah berantah ini. Kita tidak pernah bertemu dengan blogger lain (sebagian besar), tetapi bisa merasakan keakraban yang sangat dekat.
Ternyata dunia maya memberikan tambahan kebahagiaan sendiri yang tidak didapatkan pada dunia offline. Tentu saja dengan kiprah yang benar.
Jika sudah seperti ini, seharusnya tidak ada lagi jiwa-jiwa yang kosong. Atau kekosongan memang harus selalu ada?