Karena mau

Ini cerita kosong teman-teman tadi sore sebelum pulang kerja. Entah siapa yang memulainya, lima orang teman sedang asik berdiskusi mengapa ada artis kita yang mau membuat self-film. Seperti seorang anak kecil mendengarkan dogeng, aku diam mendengarkan.

  • Teman pertama, “Seharusnya film-film seperti itu tidak pantas mereka buat, apalagi mereka bukan pasangan suami istri yang sah. Hanya pacaran yang juga belum tentu berakhir dipelaminan. Sebagai public figure, layaknya mereka menjadi contoh yang baik, bukan contoh yang buruk”.
  • Diam-diam, aku setuju dengan pendapat ini.

  • Teman kedua, “Biarkan saja, toh mereka bukan keluarga kita. Dan kita tidak tahu, mungkin saja mereka menjalani profesi ganda, sebagai artis yang menghibur masyarakat banyak atau sebagai artis yang menghibur kalangan terbatas.”
  • Mungkinkah? aku merenung. Profesi ganda? tahu yang dimaksud?

  • Teman ketiga, “Itulah kehidupan artis kita, menjadi artis yang tidak dibekali dengan ilmu agama yang baik justru menjadi artsi yang lain. Kesenangan dunia lebih diutamakan, kenikmatan sesaat lebih nikmat dibandingkan menjalankan hidup dengan normal. Mereka hanya ganteng dan cantik secara fisik, tetapi moralnya? nol besar”.
  • Ada nada emosi ketika dia mengucapkan kata-kata ini. Maklum saja, karena putrinya penggemar berat salah satu artis yang menjadi bintang dalam pembuatan self film tersebut.

  • Teman keempat, “Itu hak mereka, mereka mau berbuat apa terserah mereka. Emangnya apa hak kita mencampurinya. Yang menjadi masalah buat saya hanyalah, mengapa mereka mau mem-film-kannya?”
  • Aku masih asik mendengarkan, sambil nyengir kuda.

  • Teman kelima, “Jadi kesimpulannya gimana? apa karena moral mereka bejat? atau mereka mengidap kelainan seksual?, berprofesi ganda atau karena popularitas mereka sudah turun? sehingga dengan membuat sensasi seperti ini popularitasnya meningkat?”

Aku merasa, obrolan tersebut tidak ada gunanya, toh kejadiannya sudah berlalu dan sedang ditangani oleh aparat kepolisian.
Sambil bangun dari tempat duduk, aku cuma menyeletuk “SEMUA ITU MEREKA LAKUKAN, KARENA MEREKA MAU“, aku tidak menunggu jawaban, karena jam sudah menunjukan pukul 16:00 WIB, waktunya pulang. Dan aku berlalu dengan santai. Sambil menunggu komentar mereka besok. :D

Please Blogger

Mungkin sudah jamak, dalam dunia ini selalu ada senior-junior, oldest-newbe, tua-muda.

Demikian juga dengan dunia blogger, dan satu hal yang menarik dunia antah berantah ini. Kita tidak pernah bertemu dengan blogger lain (sebagian besar), tetapi bisa merasakan keakraban yang sangat dekat.

Ternyata dunia maya memberikan tambahan kebahagiaan sendiri yang tidak didapatkan pada dunia offline. Tentu saja dengan kiprah yang benar.

Jika sudah seperti ini, seharusnya tidak ada lagi jiwa-jiwa yang kosong. Atau kekosongan memang harus selalu ada?

Pulang kandang

Setelah berlibur seminggu dalam rangka menyambut hari raya Idul Fitri 1431h, kini saatnya kembali ke kandang (tempat tugas). Waktu yang hanya seminggu tersebut terasa sangat-sangat singkat, tetapi mau bagaimana lagi? tugas sudah menanti didepan mata, sementara keluarga juga butuh makan dan keperluan lainnya.

Ada perasaan yang tidak terlukiskan, meninggalkan keluarga. Tetapi ketegaran dalam menghadapi tantangan dan cobaan harus lebih dikemukakan.

Ya Allah, berikanlah hambamu ini kekuatan menjalankan kewajiban sebagai kepala rumah tangga, berikanlah keluargaku kelapangan hati dan jiwa, limpahkanlah keselamatan kepada mereka yang telah setia menanti dan mendukung aku melaksanakan tugasku mencari nafkah sebagai bentuk pertanggungjawaban sebagai kepala rumah tangga. Amin.

Dengan kembali ke kandang, berarti aktifitas ngeblog kembali aktif seperti sedia kala. Sahabat blogger, terima kasih atas segala dukungan dan do’a selama ini dan sampai hari ini saya dapat ngeblog kembali.

Now, we are start blogging again.