Beberapa waktu belakangan ini aku sering sewot sendiri, entah mengapa, jika mendengar seseorang menyatakan dirinya sedang galau, otakku dengan otomatis mengirimkan pesan adanya seorang pecundang. Walaupun mungkin saja, orang tersebut tidak sepenuhnya pecundang. Hanya pada bagian tertentu dan dalam kondisi yang sangat spesial saja dia bisa galau.

Jika kegalauan itu berlanjut, ujung-ujungnya bisa membunuh kreatifitas, melemahkan daya saing, menghancurkan semangat bahkan bisa membuat si galau kehilangan segalanya.
Galau (kacau fikiran) setiap orang pasti pernah mengalaminya, tetapi tempatkan pada porsi yang sewajarnya. Coba bayangkan, jika seorang staff yang diminta segera menyelesaikan pekerjaan tetapi dengan alasan sedang galau dia enggan mengerjakan pekerjaan tersebut. Apa tidak membuat jengkel?

Yang berstatus siswa menjadi malas belajar karena sedang galau. Bukankah akan bertambah galau jika kemudian tidak berhasil lulus atau naik kelas?
Tidak punya pulsa telepon, galau.
Tidak punya duit, galau.
Pacar selingkuh, galau. Everything is galau.

Jika semuanya dihadapai dengan perasaan galau, percayalah tidak ada masalah yang bisa diselesaikan dengan baik. Tumbuhkan sikap optimisme, dengan sikap ini, persoalan akan dihadapi dengan mudah. Janganlah meracuni diri dengan sikap galau berlebihan. Jangan membuat status diri menjadi galau, hanya karena diluaran sana, status galau sedang menjadi trend. Tidak baik meniru status kegalauan orang lain, sementara anda adalah tipe orang yang selalu optimis menghadapi persoalan. Saatnya sekarang say good-bye to galau.