Arsip Kategori : Etika

Admin Blog ini, Sombong!

Benarkah admin blog ini sombong?

Mungkin ada benarnya, karena kesombongan sudah menjadi bagian dari manusia itu sendiri. Karena admin blog ini manusia (belum berubah menjadi mutan atau android), maka sematan kata sombong diatas tidak ada salahnya.

Bukan ingin membela diri (ach…sekali lagi, membeladiri juga merupakan sifat dasar manusia), tetapi penjelasan berikut mungkin merupakan pledoi terhadap anggapan sombong tersebut.

Sudah sangat banyak blogger lain, bertandang ke Gubuk reot ini. Dan banyak pula diantaranya yang mengajukan permohonan penukaran link (link exchange?), tetapi sampai dengan saat ini, admin blog tidak memasang link milik blogger yang mengajak pertukaran link tersebut. Ini artinya culas, tidak adil, angkuh dan sombong. Jika anggapan yang muncul seperti itu, apa boleh buat, admin blog akan menerimanya dengan lapang dada. Baca selanjutnya »

Yang tersurat dan yang tersirat

Pernah mendengar ada teman mengatakan lain yang diucapkan, lain yang dimaksud? tidak semua orang mau mengatakan yang sebenarnya dengan kata-kata yang jelas. Banyak yang mengatakannya melalui kiasan, istilah-istilah tertentu dan ada juga dengan menggunakan kata-kata yang bersandingan maksudnya tetapi ada juga yang terbalik. Mengatakan baik tetapi bermakna jelek. Baca selanjutnya »

Anda salah, lalu?

Judul dengan pertanyaan diatas adalah judul yang bodoh dan dungu. Jika salah (terbukti secara sah dan meyakinkan), tidak ada lagi peluang untuk mencari alasan, jalan terbaik dan mulia yang dapat anda lakukan adalah MEMINTA MAAF.

Anda Malu? buang kemaluan anda jauh-jauh.

Anda Gengsi? silahkan makan gensinya sampai puasa anda batal.

Anda merasa derajat anda lebih tinggi? hey…Tuhan tidak butuh derajat mu bok! dimata-Nya kita ini sama saja.

Anda takut permintaan maaf anda ditolak? datangi dan minta maaf. Ingat, tidak semua permintaan bisa dikabulkan, jika anda sudah minta maaf tetapi dia tidak memaafkan anda, setidaknya anda sudah punya niat baik mengakui kesalahan yang telah anda lalukan. Tuhan saja tidak mengabulkan semua permintaan umat-Nya. Apalagi dia orang tempat anda melakukan kesalahan.

Introspeksi diri, coba berkaca (awas, jangan karena buruk rupa, cermin dipecahkan), mengapa anda bisa melakukan kesalahan tersebut, ini berfungsi sebagai alarm bagi anda agar kejadian konyol tersebut tidak terulang kembali.

Jika demikian adanya, masih perlu mencari alasan untuk tidak meminta maaf? Permintaan maaf tidak akan menurunkan citra diri anda, tetapi justru mengangkatnya dan menunjukan bahwa anda mahluk yang berjiwa besar.

Mungkin rekan-rekan narablog berniat menambahkan yang lainnya? Monggo.

  Copyright secured by Digiprove © 2010 Aldy Markopiola

Tertawalah, mumpung tertawa belum dilarang.

tertawaTertawa, apalagi tertawa lepas ( nggak ngangkut ? ) bisa membuat kita lebih rileks, lebih santai. Oleh karenanya dan kemudian dari pada itu, sebaiknya tertawa dahulu sebelum tertawa itu dilarang.

Setelah beberapa hari ini berkutat dengan related post yang aneh dan Validasi CSS yang gagal, mungkin saatnya santai sejenak dengan tertawa lepas.

Tetapi tertawa juga harus mengikuti kaidah toh, kayaknya belum saatnya mau dibilang sinting karena tertawa-tawa sendiri atau tidak mau juga kena semprit karena tertawa tidak pada tempatnya.

Mumet, semuanya harus mengikuti aturan (apa boleh buat; agar disebut orang yang tahu aturan). Pernahkan narablog tertawa ditempat-tempat atau pada kondisi berikut :
Baca selanjutnya »

Avatar dengan Foto Sendiri Sama Dengan Narsis, Benarkah ?

Artikel ini berasal dari perbincangan offline dengan teman-teman saya yang saat ini baru “belajar ” ngeblog. Dari hal yang non prinsip sampai pada hal yang prinsip. Dari sekian banyak yang dibahas entah mengapa saya tertarik dengan pendapat salah seorang teman yang mengatakan bahwa membuat avatar dengan foto sendiri adalah perbuatan narsis. Saya mungkin tidak perlu menjelaskan lagi arti/makna kata narsis, karena saya yakin rekan-rekan blogger pasti sudah tahu.

Kemudian dengan ilmu tenggelam-timbul yang saya miliki saya mencoba untuk menganalisa ( tentu saja analisa sekenanya ), benarkah avatar dengan foto sendiri adalah pebuatan yang Narsis ?

Jika merujuk pada kata narsis, mungkin ada benarnya penggunaan avatar dengan foto diri sendiri masuk kategori Narsis, apakah perbuatan itu dibenarkan ?

Please, jangan tanya saya dari sudut pandang agama, jika dari sudut ini yang rekan-rekan maksudkan silahkan tanyakan kepada kakak saya Mbak Dewi Yana.

Saya hanya mampu melihatnya dari sisi Self Branding, menurut saya, avatar dengan foto diri lebih menunjukan identitas yang jelas pemilik blog, dengan demikian jika kita sudah familir dengan avatar blog tertentu, tanpa melihat alamat blog, hanya dengan melihat avatarnya saja kita sudah tahu ini blog siapa, ini artikel siapa atau ini komentarnya siapa.

Saya sendiri, menggunakan avatar yang berbeda untuk setiap email saya dan saya enjoy melakukannya, rekan saya yang lain Mas HP Nugroho juga memiliki dua atau tiga avatar, Mas Abdul Cholik juga menggunakan avatar yang berbeda untuk setiap emailnya.

Lantas adakah yang salah ? saya mengatakannya TIDAK SALAH. Adakah pendapat rekan-rekan yang lain ? jika ada dan tidak berkeberatan mohon sharing alasan menggunakan avatar dengan foto sendiri.

  Copyright secured by Digiprove © 2010 Aldy Markopiola