Please, Don’t Smoke Here…

Kejadian bermula ketika saya mengantarkan Om saya ke sebuah Hotel (beliau tidak mau menginap dirumah saya), karena sudah booking duluan kami tidak perlu berlama-lama dilobby, saya mengantarkan Om ke kamar dan setelah berbasa-basi sebentar saya pamit, karena pada jam 11.00 WIB saya harus kembali ke Laboratorium untuk mengambil hasil test darah dan Urine yang saya lakukan tadi pagi dan sorenya saya harus menemui dokter yang merawat saya.

Pada saat melewati Lobby saya melihat/mendengar seorang bapak sedang berdepat dengan satpam hotel.

“Saya menginap disini bayar bukannya gratis, jadi anda tidak berhak mengatur saya…” saya dengar suara Sang Bapak cukup kencang, meskipun jarak saya dengan kedua orang tersebut cukup jauh.

“Maaf Pak, ini memang sudah peraturan hotel. Bapak tidak boleh merokok disini”, saya mendengar Sang Satpam mencoba memberikan penjelasan.
Saya mencoba memutarkan pandangan sekeliling saya dan saya dapati beberapa tulisan yang tertempel dinding dengan tulisan bahasa Inggris “Please, Don’t Smoke Here…

“Jika bapak ingin merokok, silahkan bapak keruangan pojok sana…”, saya kembali mendengar suara Sang Satpam dan secara otomatis mata saya mengarah ketempat yang ditunjuk oleh Sang Satpam.

Dipojok ruangan terdapat sebuah bilik kaca dan di depan ada tulisan “Smoking Area“….Hmmmm….kayak dibandara saja.

“Memang saya kambing Saudara suruh saya merokok dalam kandang…”, kembali sibapak ngotot (kelihatannya nggak mau kalah).

“Sekali lagi maaf Pak, ini peraturan yang ada disini dan saya hanya menjalankan tugas saya”, Sang Satpam memberikan penjelasan.

Tiba-tiba dari belakang saya muncul seorang Wanita Cantik, tidak terlalu tinggi (lebih tinggi Putri saya), bergegas meninggalkan harum dihidung saya. Menuju ke Sang Bapak dan Sang Satpam, entah apa yang diucapkan oleh si Wanita Cantik kepada Sang Satpam, yang jelas saya melihat kemudian Sang Satpam pergi meninggalkan Sang Bapak dan si Wanita Cantik dengan wajah di tekuk kesal.

Entah apa disampaikan lagi oleh si Wanita Cantik kepada Sang Bapak (jika melihat dari pakaian dan penampilannya saya menduga paling tidak jabatannya Assisten Manager Hotel). Saya melihat si Wanita Cantik berhasil menggiring Sang Bapak keluar dari Lobby dan mematikan rokoknya diluar. Dengan senyuman si Wanita Cantik mengucapkan sesuatu dan menyalami si Bapak dan saya juga melihat si Bapak tersenyum dan kerutan diwajahkan karena emosi mulai memudar.

Dari kejadian tersebut saya menyimpulkan beberapa hal :

  • Kekerasan tidak akan selesai jika dilayani dengan kekerasan.
  • Benarkah laki-laki selalu tunduk dengan yang bening-bening? (Istilahnya Deka), jika melihat kasus diatas, karena saya tidak mendengar yang disampaikan oleh Si Wanita Cantik mungkin saja kesimpulan ini menjadi benar, tetapi saya juga tidak meyakini sepenuhnya. Karena saya percaya tutur bahasa yang lembut dari si Wanita Cantik mungkin yang paling besar pengaruhnya.
  • Benarkah laki-laki selalu tidak mau kalah terhadap sesama laki-laki apalagi jika dia merasa “derajatnya” lebih tinggi ?.
  • Yang mengherankan buat saya, mengapa tulisan dilarang merokok tersebut harus menggunakan bahasa Inggris? berapa persen sih jumlah orang asing yang menginap di hotel tersebut? taksiran saya sendiri sepertinya tidak lebih dari 5 persen. Jika demikian, mengapa harus menggunakan bahasa Inggris, mengapa tidak menggunakan Bahasa Indonesia saja atau digabung keduanya?.
  • Saya, pada awalnya tidak menyalahkan si Bapak, karena mungkin saja dia tidak mengerti bahasa Inggris (sekalipun dari pakaiannya saya menduga si Bapak cukup sering bergaul dengan orang penting), tetapi setelah dijelaskan sang Satpam, harusnya sang bapak mengalah. Bukannya ngotot, karena ternyata dia yang salah.

Bagaimana dengan teman-teman blogger? pernahkah diingat oleh Satpam, Anak kecil, teman, sahabat jika melakukan sesuatu yang tidak berkenan?

Saya sendiri tidak perduli dengan siapa yang mengingatkan saya, jika saya salah. Saya akan berlapang dada untuk menerima kenyataan jika saya salah. Sekalipun awalnya saya tidak tahu jika yang saya lakukan tersebut dilarang ditempat tersebut.

Mau sharing pengalaman? Monggo…

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari tiga orang putu (update). Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

52 Tanggapan

  1. Deka says:

    Pertamaxxxx Mode ON
    Dari postingan diatas yang paling menarik adalah “Tiba-tiba dari belakang saya muncul seorang Wanita Cantik” Mungkin adegan ini harus di reka ulang untuk memastikan lagi kebenarannya, hahahahhaahahahahhahahahahhahahahahhahahahahahhahahahahhaha

  2. Deka says:

    Keduaxxxx Mode ON
    Yang bening-bening tetap bisa menurunkan tingkat ESmosi (bukan emosi), khususnya buat laki-laki dan terlebih buat pejantan tangguh. Maka tidak heran yang bening-bening kadang sangat di perlukan dalam kondisi seperti diatas, so wajar dunk perusahaan yang terkait langsung untuk melayani client kadang menyediakan posisi atau bisa dibilang posko khusus bening-bening untuk hal seperti itu, haahahahahahahahhahahahahahah

    • Aldy says:

      Ow…ternyata keponakan yang satu ini semakin dewasa saja kalau berkaitan dengan masalah/permasalahn yang berbeda jenis kelamin.

  3. Deka says:

    Ketigaxxxx Mode ON
    Pernah di ingatkan satpam waktu mau minggat dari sekolah, hahahhahahaha
    [udah ah komentnya, mau sok sok sibuk lagi]

  4. guskar says:

    larangan merokok yang kita buat sering berkonotasi “menghimbau” sehingga bukan larangan tegas.
    **dlm kasus di atas, sepertinya cara menegur yg dilakukan satpam kurang berkenan di hati sang bapak sehingga si bapak gengsi mengakui kesalahannya << jika anda merasa berkuasa tidak serta merta bebas melanggar larangan

    • Aldy says:

      Kebanyakan memang hanya sebatas menghimbau Gus, tetapi ada juga peraturan daerah tentang larangan merokok yang dendanya juga tidak masuk diakal. Kebanyakan kalau merasa dirinya hebat, agak sulit untuk menerima dengan lapang dada teguran dari yang lebih “rendah”.

  5. dani says:

    Si wanita cantik pasti memakai pesonanya. 🙂

    Menurut saya, jika kita ada di ruang publik, sudah harus membiasakan diri melihat kondisi sekeliling. Mau buang sampah kan harus melihat di mana tong sampahnya. Harusnya demikian juga dengan merokok. Menghargai kesehatan orang lain. Jika anda sudah tidak menghargai kesehatan paru-paru anda sendiri.

    • Aldy says:

      Agree, saya sependapat Mas Dhani. Walaupun saya masuk dalam kategori perokok berat, tetapi jika diruang publik saya berusaha semaksimal mungkin menahan diri untuk tidak merokok.

  6. andipeace says:

    semua itu memang ada etika dan peraturan

    • Aldy says:

      Benar Andipeace, kita suka maupun tidak harus mengikuti etika dan peraturan yang berlaku pada suatu tempat.

  7. Artis Indonesia says:

    Eh gw seumur2 gak pernah ngerokok loch 🙂

  8. badruz says:

    mungkin karena persoalan cara dan bahasa saja sehingga bapak itu tak mau mematika rokoknya.

    saya sependapat, tulisan di larang merokok pakai bahasa Indonesia saja,atau dua bahasa. banyak turisnya kali mas itu hotel. tapi wong ndeso juga boleh toh tidur di hotel asal bayar , he….

    salam.

    • Aldy says:

      Banyak kemungkinannya Kang Badruz. Kalau tirs, kota sebesar tempat saya tinggal ini mungkin tidak sampai 5% Kang, tulisan ini agar kelihatan keren saja.

  9. nakjaDimande says:

    diperingatkan memang paling engga enak.. yang diingatkan ga enak, yang ngasih peringatan juga sebenarnya ga enak juga. Tapi selalu ada jalan keluar bila kita mau berlapang hati.

    • Aldy says:

      Habis mau bagaimana lagi Bundo, si Satpam menjalankan tugasnya, sementara si Bapak mentang-mentang…

  10. Sugeng says:

    kebetulan aku liwat mas, sewaktu si wanita dan si bapak ngomong. isinya kurang lebih begini :
    si wanita : pak jangan mrokok disini
    si bapak : memangnya kenapa he … !!!
    si wanita : kalau bapak mau merokok di lobby nantai saya yang pegang rokoknya
    si bapak : terus ngapain juga merokok disana ?
    si wanita : nanti saya yang matikan rokoknya sebelum rokok itu yang mematikan bapak
    si bapak : :???? 😕 😕 hmmm……. oke dech 😀
    salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  11. sauskecap says:

    itulah kekuatan komunikasi… bukan masalah wanita atau pria, tetapi bagaimana caranya dia menyampaikan kepada si bapak

    • Aldy says:

      Ya mungkin saja Yan, tetapi umumnya sih pejantan tangguh selalu takluk bila dihadapkan dengan wanita…

  12. Mamah Aline says:

    wanita bisa bertutur lebih bisa diterima dibanding dengan sesama lelaki , ditambah rasa gengsi pria jika harus ngotot menghadapi wanita, benar gak sih… itu kata saya mas aldy

    • Aldy says:

      He…he…kayak benar deh Mah, soalnya kita yang sama-sama sudah punya “buntut” jadi sudah cukup paham deh kelebihan dan kekurangan masing-masing pihak.

  13. ramudeng says:

    pak Aldy sakit apa? *OONT*

  14. tukangpoto says:

    Pengalaman saya, galakan yang merokok dari yang tidak,mereka merasa berhak, padahal yang lainnya juga berhak atas udara yang bebas polusi. Salam jepret!

    • Aldy says:

      Wah akalu pas ada Mas Adit waktu itu pasti diabadikan…, sekarang ini yang perokok nggak bisa galak lagi mas, tingkat kesadaran orang-orang kita mengenai bahaya merokok sepertinya makin bagus.

  15. arkasala says:

    Saya setuju kalo ditegur punya perasaan tidak enak makanya khusus merokok ini lebih baik mencegah ditegur tapi mencoba untuk memahami. Berlagak sadar duluan Mas.
    Lain hal saya perokok, namun anti banget merokok di bis dan di tempat umum (termasuk sambil jalan-jalan) apalagi di tempat yang dilarang.
    Susahnya berhenti kebiasaan yang satu ini,
    Trims Mas. Salam hangat selalu 🙂

    • Aldy says:

      Hi…hi….hi… sama kalau gitu Kang, jadi kalau ditempat umum rokonya disimpan rapat-rapat, begitu ada tempat yang lapang langsung ngebul tuh kereta api. Salam Hangat Kang Yayat. 😉