Melihat Dari Dekat, Pulau Terkecil di Dunia

pulau-simping

Pulau Simping, terletak di Singkawang – Kalimantan Barat dan diakui sebagai Pulau terkecil didunia walau tanpa dokungan dokumen resmi.

Pulau super kecil itu (luas kurang 1/2 hektar) terletak di Pantai Teluk Mak Jantu, Kecamatan Singkawang Selatan, Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Secara geografis berada pada koordinat 0o 52? 2? Lintang Utara (LU) dan 108o 67? 11? Bujur Timur (BT). Penduduk setempak menamakannya Pulau Simping, sebelumnya pulau ini lebih dikenal dengan sebutan pulau Kelapa Dua.

Dari berbagai sumber dan penjelasan yang didapat dari para pedagang makanan setempat, dahulunya pulau tersebut berpenghuni, tetapi karena abrasi yang parah, secara berangsur pulau itu kemudian ditinggalkan. Penyebutan sebagai pulau terkecil didunia itu sendiri terpampang pada papan petunjuk yang terdapat pada sisi kiri jembatan menuju pulau. Disebutkan bahwa statusnya sebagai pulau terkecil diakui oleh Perserikatan Bangsa-bangsa. Tetapi pada papan petunjuk tidak disebutkan sejenis nomor surat/nomor piagam atau nomor registrasi yang dikeluarkan oleh PBB. Ketiadaan dokumen resmi yang menunjukan bahwa Pulau Simping sudah diakui PBB sebagai pulau terkecil didunia, menimbulkan tanda tanya banyak pihak(termasuk saya) tentang keabsahan pengakuan tersebut.

20150722083028Saya dan keluarga, berkunjung ke Pulau tersebut, selain tertarik dengan predikat sebagai pulau terkecil didunia, juga dimaksudkan untuk menghilangkan sejenak kepenatan setelah bergumul dengan pekerjaan sepanjang hari. Kebenaran status tersebut sama sekali tidak mempengaruhi keindahan pulau dan pemandangan laut yang jarang bisa disaksikan secara langsung.

20150722083112Kawasan wisata ini bisa ditempuh 2-3 jam perjalanan dari Pontianak atau menginap di Singkawang, karena dari dalam kota Singkawang menuju lokasi tidak lebih dari 15 menit. Informasi bisa didapat di hotel tempat menginap atau dari beberapa driver taxi atau travel yang sudah mulai tumbuh subur di Singkawang.

Pilihan jatuh pada pagi hari tujuannya untuk menghindari panas yang menyengat. Kedatangan kami disambut jalanan berliku-liku, sempit dan kubangan. Rumah-rumah penduduk sangat dengan jalan. Hampir sebagian besar jalan yang dilalui teduh, karena pada kiri kanan jalan, ditumbuhi pohon kelapa milik penduduk setempat.

20150722083544Digerbang masuk, perorang dikenakan tarip sebesar Rp. 15.000,– dan mbak/ibu yang menjaga gerbang menjelaskan bahwa pulau simping tidak bisa lagi dikunjungi dengan berjalan kaki, karena sebagian jembatan sudah runtuh. Ada sedikit rasa kecewa, tapi tetap diputuskan masuk lokasi pulau yang dikawasan Sinka Island Park. Pemberian nama kebarat-baratan itu menebarkan aroma sedap. All about money.

Beberapa saat kemudian, hamparan luasnya laut terbentang didepan mata, ada kenikmatan tersendiri memandang birunya laut, agak kontras dengan kenyataan sehari-hari yang lebih sering memang hijaunya hutan. Desiran semilir angin, melahirkan rasa sejuk dan menerbangkan mumet yang memenuhi kepala.

Pulau Simping

Pulau Simping

Tatapan mata langsung terpusat pada sebuah pulau kecil yang ditumbuhi pepohonan yang berusia cukup tua. Disisi barat pulau, terdapat persembahyangan (kelenteng kecil) yang dimanfaatkan oleh masyarakat Tionghua setempat untuk bersembahyang.

Dari tempat saya berdiri, kira-kira disebelah barat laut, terlihat hamparan batu-batu alam dan pasir yang memenuhi sekitar pantai. Panorama yang menyejukan semakin membuat betah, apalagi pengunjung pada pagi hari masih sepi, sejuk dan sunyi membuat suana semakin nyaman.

20150722083544Mengalihkan padangan ke sisi Selatan, terlihat hamparan hijau pepohonan berjajar kokoh batu-batu alam sepanjang pantai. Saat seperti ini terasa sekali, betapa besarnya kuasa alam dan betapa pongah mahluk yang menamakan dirinya manusia.

Walaupun tidak bisa mendatangi pulau karena runtuhnya jembatan, ada kepuasan tersendiri saat melepaskan penat dengan menyaksikan keindahan pantai bahkan saya tidak lagi perduli dengan status pulau Simpin sebagai pulau terkecil didunia.

Dan sudah dapat diduga, sampah, ya sampah selalu menjadi penyakit kawasan wisata kita. Ini juga yang terjadi di Pulau Simping, sampah dibiarkan bertebaran atau ditumpuk pada suatu tempat (yang pasti bukan tempat sampah), kesadaran pada pedagang makanan kecil masih rendah. Walaupun kawasan wisata ini seperti ditinggalkan, tapi masih memberikan masukan kepada para pedagang tempatan, apalagi saya juga mendapat informasi non formal dari ibu-ibu yang berjualan bahwa kawasan wisata ini akan dikelola oleh Pemda Singkawang.

20150722083544Terlepas dari segala kekurangannya, jika kawasan ini dikelola dengan lebih profesional saya meyakini akan memberikan tambahan penghasilan untuk penduduk setempat selain pendapatan mereka sebagai nelayan. Pemda tidak perlu terlalu memikirkan pendapatan tambahan untuk kas daerah. Penyelamatan pulau Simping dan pantainya dari abrasi parah bisa dijadikan prioritas. Asset yang ditinggalkan oleh pihak pengelola sebelumnya bisa diambil alih dan menurut pendapat saya, aset tersebut masih sangat baik dan potensial.

Dan satu hal penting yang tidak boleh dilupakan oleh Pemerintah Daerah setempat, adalah klaim sebagai pulau terkecil didunia, bukan klaim sepihak, artinya Pemda atau pengelola harus mampu menunjukan dokumen bahwa benar pulau tersebut diakui sebagai pulau termini. Semoga.

Tulisan ini pernah tayang di Kompasiana, Tanggal 25 Juli 2015, Jam 18:03:16 dan tulisan di tersebut disebarluaskan lagi oleh Tribun New Pontianak, pada tanggal 26 Juli 2015

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari dua orang putu. Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik