Ayam Kampung

Pada hari ketiga dalam rangka perjalanan ke desa-desa tempo hari, kembali saya dikagetkan dengan kenyataan yang membuat saya merinding. Masih didesa yang sama, setelah malam sebelumnya acara dugem yang menunjukan sebuah kenyataan bahwa tingkat kerusakan moral sudah jauh merambah kedesa, pagi harinya kembali saya dihadapkan pada kenyataan yang lebih pahit.

Berawal dari keinginan untuk mencari lauk untuk makan siang, saya bertanya pada salah seorang bapak apakah ada yang menjual ayam kampung (buras). Sang bapak memandang saya bengong dan lebih membuat saya bertambah bengong sibapak malah mengajukan pertanyaan.
“Anak mau makan ayam kampung?”, sebuah pertanyaan bodoh saya kira. Dengan tegas saya jawab bahwa saya doyan ayam kampung. Sibapak kelihatan makin bengong dan menunjukan wajah bloon-nya sambil berkata, “Ayam kota lebih enak, mengapa anak mau makan ayam kampung”.
Demi Allah, saya sungguh tidak mengerti maksud omongan si Bapak, karena jengkel saya tinggalkan dia tetapi dengan pertanyaan dan rasa penasaran yang menggantung dikepala.

Karena rasa penasaran yang tidak mau hilang, akhirnya saya mencoba mencari tahu dengan bertanya pada anak-anak muda yang ada didesa tersebut. Dan jawaban yang saya terima sungguh membuat saya geram dan jengkel setengah mati. Ternyata ayam kampung yang saya maksudkan dengan “ayam kampung” yang dimaksud oleh si Bapak bertolak belakang 180 derajat.

Saya merutuk dalam hati, memangnya tampang saya berwajah mesum? saya coba membayangkan wajah sendiri. Saya sadar, wajah ini tidak terlalu cakep tapi rasa-rasanya tidak ada wajah mesum disana. Kembali saya terkejut dengan kenyataan ini, disamping terkejut ada juga rasa penasaran seperti apa sih bentuk ayam kampung yang dimaksud oleh sibapak. Tapi sampai saya pergi dari Desa tersebut keesokan harinya, saya tidak pernah merealisasikan keinginan untuk mengetahui ayam kampung tersebut. Cukuplah sudah saya menggelengkan kepala, karena hanya itu yang bisa aku lakukan.

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari tiga orang putu (update). Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

43 Tanggapan

  1. Zippy says:

    Waduw..ternyata yang namanya “ayam” banyak yang berkonotasi negatif.
    Contoh lainnya ya “Ayam Kampus” 😀
    Kalo Ayam Panggang sih pasti mas gak nolak :p

  2. p cabar mas
    wah blue mau mau mauuuuuuuuuuuuuuuuuu
    salam hangat dari blue

  3. Nur'Amilah says:

    Masya Allah…. ternyata yang dimaksud ayam itu perempuan yach?…
    trus klo saya bener2 pengen makan ayam gimana ngomongnya pak?… ntar dikira mo makan perempuan lagi!

  4. Ha ha ha
    Kenapa Om gak jawab aja “ayam kampung tetep lebih enak karena dagingnya lebih alot” kan si bapak bisa ngeh kalau yang Om maksud ayam beneran…

    Lucu-lucu…aku juga pernah dapat pengalaman ini, seorang teman misuh-misuh gara-gara masalah ayam kampung, he he he

  5. hehehe… ternyata banyak juga ya punya pengalaman seperti mas Aldy… memang sekarang sudah zamannya e5ra globalisasi masuk desa…

    Baru berkunjung Mas.. ada proyek besar yang gak bisa di tinggal di kantor.

  6. Abdul Hakim says:

    kalo ayam kampung di rumah saya banyak om, ayam kampung beneran lho

  7. julicavero says:

    bagaimana dengan ayam kampus pak??hehe

  8. achoey says:

    jika mampunya begitu
    itu juga dah menunjukkan tanda tak sepakat 🙂

  9. ganda says:

    Weleh-weleh-weleh… Niat mau makan ayam, malah disuguhin “ayam”. Bleweh-bleweh-bleweh…

  10. jarwadi says:

    hahahaha 🙂 saya sih pernah dengar istilah ayam kampung punya konotasi seperti itu, tapi kalau ayam kampung baru dengar dari pak aldi

  11. Denuzz BURUNG HANTU says:

    selamat ya, kakak … satu lagi fenomena desa kakak temui …
    hehe …

    Semoga persahabatan kita tiada lekang oleh waktu dan tiada terbatas oleh ruang

  12. Kuker says:

    sayang sekali mas g bisa mencari tau lebih jauh hehehehe…
    tapi memang sudah bisa di tebak “ayam kampung” yg di maksud si bapak itu

  13. budiarnaya says:

    Heeee si Bapak yang Omes atau Bang Aldy yang Wames heeee yang jelas hanya si Bapak yang tau hik

  14. sedjatee says:

    hhmmmm… jaringan itu ternyata telah sampai di kampung
    ayam kampung berada di habitat sesungguhnya
    hihihi…. fenomena yang sangat mengenaskan
    kemaksiyatan telah sampai di mana-mana
    saatnya menjaga diri dan keluarga
    semoga sukses..

    sedj

  15. Didien® says:

    ayam kampus udh ada, kini ayam kampung sudah mulai terkuak…
    mudah²an tidak semakin rusak generasi bangsa ini..amin
    apakabar mas Aldy?

    salam, ^_^