Bahasa Indonesia, oh Bahasa Indonesia

Lie Charlie, Sarjana tata bahasa Indonesia dari Universitas Padjadjaran Bandung pernah memuat sebuah tulisan di Majalah Tempo, Rubrik Bahasa! pada edisi 21-27 Juni 2010 yang berjudul “Sulitnya(ujian) Bahasa Indonesia”.

Pada tulisan tersebut diberikan 3 (tiga) contoh soal bahasa Indonesia,

1. Contoh kata ulang dwilingga salin suara, ialah:

  • bebek-bebek,
  • tanam-tanaman,
  • gerak-gerik,
  • gunung-gemunung,
  • tuduh-menuduh.

2. Kata purbakala, termasuk kata majemuk:

  • dwandawa,
  • tatpurusa,
  • karmadharaya,
  • bahuvrihi,

3. Ungkapan “melihat dengan mata kepala sendiri”, termasuk gaya bahasa:

  • alusi,
  • pleonasme,
  • tautologi,
  • eponim,
  • antonomasia.

Tulisan dan contoh soal tersebut adalah upaya beliau menanggapi hasil ujian nasional yang berlangsung sebelumnya. Sekaligus kritik terhadap penyajian materi ujian bahasa Indonesia.

Kesimpulan akhir dari tulisan tersebut, untuk menguji penguasaan bahasa seseorang adalah dengan meminta yang bersangkutan membuat tulisan kreatif. Bahkan ditegaskan, untuk menentukan kelulusan ujian bahasa Indonesia sebaiknya 50% nilai diambil dari mengarang dan berbicara.

Dari uraian diatas, secara garis besar bisa kita tarik kesimpulan bahwa belajar bahasa Indonesia tidak mudah, bahasa Indonesia tidak cukup hanya dihafal tetapi butuh pendalaman berupa pemahaman terhadap bahasa itu sendiri. Hasilnya, menjadi wajar jika banyak orang di negeri ini (termasuk pejabat negara) tidak mampu bertutur menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. (baca tulisan Saya bukan penutur bahasa Indonesia yang baik)

Tes mandiri :
Apakah anda sudah bertutur menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar? belum? yang baik? belum juga, yang benar? 🙁

Atau bisakah ketiga soal tersebut dijawab dengan benar? (jangan cari kata tersebut di wikipedia atau KBBI dalam jaring).

Happy blogging.

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari dua orang putu. Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

81 Tanggapan

  1. Epenkah says:

    jujur aja nih, kalo ketiga soal di atas ditanyakan kepada saya.. ampun deh, pastinya saya tidak lulus 😀

  2. Abdul Hakim says:

    saya dari dulu nilai bahasanya ga pernah lebih dari angka 6, paling banter 7

  3. ganda says:

    Nilai bahasa Inggris saya lebih baik daripada bahasa Indonesia sewaktu kuliah. Yah, Bahasa Indonesia memang jauh lebih susah, atau mungkin seperti kata Bli Dani, semuanya hafalan, sementara saya kurang menyukai hafalan. 😀

  4. imadewira says:

    jadi ngeri, ingat dengan pelajaran bahasa Indonesia waktu SMA. Jujur saja, seharusnya pelajaran bahasa Indonesia adalah pelajaran favorit dan tempat mendulang nilai ketika UN. Tapi kenyataannya bahasa Indonesia yang baik dan benar itu sulit.

  5. Joko Sutarto says:

    Mas Aldy, tulisan ini mengungkapkan sebuah ironi di satu sisi. Banyak orang mahir berbahasa asing tapi tak cukup terampil untuk berbahasa indonesia dengan baik dan benar. Dan saya termasuk orang yang ada di dalamnya meskipun kemampuan bahasa asing saya juga pas-pasan, tetap tak bisa mengalahkan kemampuan dua bahasa yang saya kuasai, yaitu bahasa ibu (Jawa) dan bahasa Indonesia.

    Saya juga pernah menulis serupa, sebuah kegundahan hati saya kepada para orang tua jaman sekarang yang lebih suka mengajarkan ke anaknya dengan bahasa Indonesia dan bahasa asing daripada mengajarkan bahasa ibu yang bagi sebagian besar orang tua dianggap sudah ndeso atau katrok. Seharusnya tak boleh begitu, bahasa ibu tak boleh dilupakan begitu saja dan tetap diajarkan kepada anak-anaknya.

    Ya, bahasa ibu, anak tiri yang kini benar-benar dianaktirikan. Dan bahasa Indonesia kalau disejajarkan dengan bahasa asing (Inggris) nasibnya (mungkin) juga sama seperti bahasa ibu nantinya di mata generasi akan datang.

  1. 10/08/2010

    […] bahasa Indonesia yang baik dan benar saja masih ambur adul, sekarang musti berbahasa Inggris lagi. Mau mabok? Bagi penutur bahasa […]