Belok Kanan, Bukan Belok Kiri.

Ini cerita superlawas, cerita lama yang sudah terkunci dilemari harta karun.  Tetapi karena salah seorang rekan blogger sedang membuat hajatan dan meminta cerita tentang pengalaman bersepeda, apaboleh buat.  Lemarinya dibongkar dengan kampak (kuncinya udah hilang), bolak-balik buka arsip yang sudah mulai berdebu dan sedikit dimakan rayap akhirnya saya menemukan kisah ini.  Mungkin sudah tidak utuh lagi, tetapi esensinya masih tetap sama.

Saya terlahir dari keluarga yang sangat sederhana (ayah PNS rendahan dan ibu penderes karet), sehingga kendaraan yang paling mewah dirumah waktu itu berupa sepeda ontel merk (kalau nggak salah) “Releigh” khusus untuk laki-laki (karena memiliki palang tengah) dan menjadi kendaraan kebanggaan bapak.

Seiring dengan dengan bertambahnya usia pelan-pelan saya mulai belajar naik sepeda.  Dan satu-satunya kendaraan yang bisa dipakai hanyalah sepeda bapak.  Tentu saja tidak bisa langsung tancap gas, karena masih rendah dan kaki tidak sampai jika langsung melewati palang tengah sepeda.  Cara simpel belajarnya dengan cara naik dari sebelah kiri, kaki kanan dimasukan antara palang tengah, sehingga dibutuhkan daya lentur tubuh yang lumayan agar bisa memegang stang sebelah kanan dan menyesuaikan dengan kayuhan sepeda.

Awalnya belum dikayuh, hanya didorong saja kemudian naik.  Meluncur tanpa diengkol/kayuh sampai akhirnyan sepeda berhenti sendiri (masih dalam taraf menjaga keseimbangan).

Beberapa kali jungkir balik tapi nggak kapok juga karena pengen bisa naik sepeda.  Setelah beberapa waktu (saya lupa berapa lama), perlahan sudah mulai bisa mengayuh dengan tertatih-tatih.  Kalau sudah mengayuh stangnya nggak pernah luruh, selalu kelak kelok seperti ular lari, diikuti dengan goyangan pantat lenggak-lenggok untuk menyesuaikan diri dengan keseimbangan sepeda.

Sejauh ini masih belum berani kejalan, hanya berputar-putar dihalaman rumah.  Karena rumahnya di kampung, sekalipun dengan hidup yang sederhana selalu saja memiliki halaman yang luas dan kolam (empang yang berisi ikan lele/gabus).  Posisi kolam ada disebelah kiri depan rumah, jika mau ke jalan raya harus melewati kolam ini terlebih dahulu.

Hari itu saya disuruh ibu membeli terasi kewarung sebelah, karena lagi maruk (keranjingan) naik sepeda, saya  menggunakan sepeda bapak untuk membeli terasi.  Dan dengan hakul yakin saya selipkan kaki kanan melalui palang tengah untuk menginjak pedal kanan.  Wow…mulus jalannya.

Dari arah rumah warung dituju berada di sebelah kanan, sehingga saya harus belok kanan agar sampai ke warung.  Entah mengapa sampai pada penghujung kolam, saat mau berbelok kekanan yang terjadi justru berbelok kekiri…saya sudah berusaha sekuat tenaga membelokkan sepeda kekanan, tetapi karena badan saya menyelip dari kiri keingin belok kanan kalah dengan berat badan yang condong ke kekiri.   Dan akibatnya sepeda belok kekiri…terus…..sampai akhirnya….cbyuuuurrrr……

Saya kecebur kedalam kolam, semuanya basah…karena masih belum fasih berenang dan sedikit tersangkut pada palang sepeda saya tenggelam. Gelap. Gulita.

Sayup-sayup saya mendengar suara lembut memanggil nama saya.  Saya memcoba membuka mata, saya lihat ibu duduk disebelah kanan saya sambil memanggil-manggil nama saya dengan derai air mata.  Saya keheranan.  Perlahan saya mencoba mengingat apa yang sedang terjadi.

Disuruh beli terasi, naik sepeda, kecebut kolam.  Wow, ternyata saya pingsan karena tenggelam dikolam.

“Seharusnya kamu berbelok kekanan, bukan kekiri…”, saya mendengar omelan bapak.

Sejak saat ini apabila ingin naik sepeda kejalan, sepeda terpaksa saya seret dulu dari rumah sampai kejalan.  Baru saya naiki dengan gaya ular lari dan pantat yang seksi lenggak-lenggok kekiri dan kekanan untuk mengimbangi sepeda ontel yang belum dapat saya naiki dengan sempurna.

Sayang foto sepeda bersejarah itu tidak dapat saya tampilkan dalam postingan ini, sepeda itu masih ada dan sesekali masih digunakan oleh bapak.   Jika melihat sepeda tua itu, banyak kenangan pahit dan manis yang saya alami.  Bukan hanya sekali ini saya mengalami kesialan dengan sepeda tua itu, tetapi banyak juga hal lucu lainnya.  Bahkan saya penah menabrak bapak dengan sepeda itu.

Ach…kesederhanaan memang tidak selamanya kesusahan.  Ada kelucuan, ada hal-hal unik yang tidak pernah dirasakan oleh teman-teman yang kebetulan hidup berkecukupan.  Lebih sayang lagi, karena lokasi kerja dan tuntutan pekerjaan, sudah lebih dari 20 tahun saya tidak pernah lagi benar-benar naik sepeda.  Jika saya kangen ingin naik sepeda, saya hanya bisa menggunakan sepeda sibungsu yang sudah bergaya Harley Davidson.

Artikel ini saya persembahkan untuk Rekan Blogger Kang Isro/Humberqu yang sedang membuat hajatan pengalaman mengesankan dalam bersepeda.

Semoga  sukses kang, salam dari perbatasan Kalbar & Kalteng.
Ilustrasi gambar dari : Keukenhoof2101.files.wordpress.com

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari tiga orang putu (update). Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

42 Tanggapan

  1. nakjaDimande says:

    keren! bundo suka cara mas Aldy mengisahkan ini.. Rasanya kita semua melalui masa belajar bersepeda ini ya.. penuh perjuangan, mengharukan.

  2. badruz says:

    asyik juga nih pengalamannya mas.
    salam erat dari Kebumen.

  3. badruz says:

    waduh, itu sepeda bikin ngiler saya mas, di Kebumen sudah sulit di jumpai sepeda yang kayak gituan. paling yang tidak ada palangnya, dan sudah jelek2 lagi. kedepan menjadi spededa yang sangat antik mas.

    salam.

    • Aldy says:

      Sekarang di Sintang(kalbar) sepeda tua jenis ini sudah mulai langka kang. Punya bapak sendiri sepertinya menjadi sepeda antik dan syukur sampai sekarang masih bisa dinaiki. Walau pedal remnya sering ganti pake sandal jepit he…he…eh…

  4. ganda says:

    Sepeda ontel Bapak juga masih ada di rumah bro. Namun gak tahu merek nya apa. 😀 Ntar klo saya dah balik ke Medan, saya mau perbaiki sepedanya lagi 😀 Di cat ulang. Yah, susah memang naik sepeda ontel, untungnya saya belajar naek ontel udah SMP, jadi gak maen nyamping lagi. Mengayuh dari samping memang susah banget belokannya, saya sendiri sering jatuh. Biasanya, saya akan duduk di bangku boncengan kalau naek sepeda ini. 😀 Lebih aman dari pada maen samping. Namun sampai sekarang, aku belum bisa sepiawai penjual “tape”/peuyeum yang sering lewat dari depan rumah menggunakan sepeda ontel. Penjual tape itu bisa meluncur dengan kencang hanya dengan mendorong sepeda dengan kaki kiri, sementara kaki kanan berada di pengayuh sebelah kanan. Bahkan turunnya pun gak pakai rem dulu, beliau langsung pindah ke sisi kanan/kiri sepeda dengan satu kaki pada satu pengayuh sementara sepeda masih berjalan kencang. Pernah saya coba, hasilnya, luka di sekitar lutut dan siku. 😀 Belum lagi stang sepeda menghantam perut. Hehehehe… Ontel adalah jenis sepeda tersulit yang pernah kucoba. 😀

    Kupikir, belajar naek sepeda itu yang paling menyenangkan, rupanya saya salah ketika saya belajar naek Solu(bahasa batak, dalam bahasa indonesianya adalah sampan). Jauh lebih sulit dari pada naik sepeda, dan lebih menantang. Mau naik aja susah(sering terbalik), belum lagi mengayuh dayung, berbelok, apalagi sampai berdiri seperti layaknya seorang nelayan. Itu pengalaman yang paling mengasyikkan.

    • Aldy says:

      Jihahahahaha….. Naik sampan juga merupakan salah satu pengalaman yang pernah saya alami bro. Maklum saja, rumah juga berada dipinggir sungai melawi (anak sungai kapuas ).
      Kalau disini sampan itu ada “kelas”nya, hanya untuk satu orang ( seperti kano), untuk 2 dua orang dan seterusnya.
      Dan tingkat bahayanya lebih tinggi (karam). Bisa dibayangkan, sebuah sampan dinaiki,oleng kiri kanan kemudian “byuuuuurrrrrr” karam. huaahhhh…..
      Sekarang sih naik sampan sudah mahir bro, bahkan sambil menebarkan jala juga bisa. inilah istimewanya anak kampung.

      • ganda says:

        Wah, boleh dung saya sekali2 diajak ke sana. 😀 Pengen belajar sama bro Aldi. 😀 Jujur, berdiri masih goyah saya. 😀

        • Aldy says:

          Kapan-kapan boleh datang ke Kalimantan, kita Danau Sentarum mencari ikan dengan jala atau…kita sama-sama ke Danau Toba ?

          • ganda says:

            Pokoknya menunggu bang Aldy kapan available deh. 😀 Kita ke Sentarum dulu, baru ke Danau Toba. Hehehe… Bisa diatur perjalanannya tahun ini. hihihiii….

  5. abeecdick says:

    Salam kenal 🙂
    pengalaman yang sungguh mengesankan kang 🙂
    jadi terharu 🙂

    • Aldy says:

      Terima kasih kang Juhatpriyatna, he…he…he…kalau teringat ibu meneteskan air mata jadi pilu juga…tapi waktu itu sepertinya enjoy dan nggak kapok.

  6. intan rawit says:

    wah jadi teringat pengalaman belajar naek sepeda waktu kecil dulu, dari waktu ditopang roda ketiga sampai ketiga bapak mencoba melepaskan roda ketiga dari sepeda kecil saya, benar-benar menegangkan waktu itu. tapi ga sampe kecebur kolam sih, .. hehe…wah saya ndak bisa bayangin sampai kecebur di kolam, pasti keluarga panik banget ya waktu itu..

    • Aldy says:

      Kayaknya sangat panik mbak, buktinya ibu meneteskan air mata sementara bapak yang biasanya memiliki suara yang mampu mengalahkan suara guntur dilangit, hanya bilang “seharuskan belok kanan, bukan belok kiri…” he…he…he…

  7. bayuputra says:

    salam kenal mas dari saya di kalimantan,,,, indahnya kalau kalimantan ketemu sama kalimantan ya enak toh mas yah heeeee

    • Aldy says:

      He…he…benar Mas, walaupun hanya sekedari didunia maya.
      Kayaknya rimbawan ketemu Cikgu ( guru )….

  8. arkasala says:

    Mendapat tugas dari Mas Isro ni Mas Aldy. Mohon doa restunya.
    Ijin menjemput artikelnya.
    Trims.
    Salam hangat selalu 🙂

    • Aldy says:

      Ops….juragan datang…mbok…unjuane’….juragan arka teko…
      Monggo kang, sipersilahkan…
      Saya sudah trackback, tapi saya cari masih belum muncul di blognya kang isro, nggak tahu kalau didashboard.

  9. Pengalaman menarik apalagi udah 20 tahun lalu…

    Terima kasih udah mengunjungi blogku
    Salam kenal! 🙂

  10. Salam kenal…..
    Sungguh pengalaman yang amat mengesankan, pengalaman masa lampau.
    Selamat mengikuti kompetisi di Humberqu, semoga sukses.
    Artikel saya belum saya terbitkan, saya masih tanda tanya caranya trackback itu gimana ya. Terus terang saya belum pernah melakukan trackback…hehehe …ngisin2i ya.
    Salam hangat jabat erat dariku.

    • Aldy says:

      Salam Kenal Mas Rachmat,
      Trackback itu mudah mas, pada bagian bawah artikel yang sedang ditulis (silahkan scrolling) ada kolomnya; kemudian mas ketik alamat artikel kang isro trus /trackback.
      Sepengetahuan saya, wordpress melakukan trackback otomatis , karena blognya Kang Isro juga menggunakan engine wordpress.

  11. benar apa kata sahabat yg lainnya……….sebuah sajian pengalaman yg menarik
    salam hangat dari blue

    • Aldy says:

      Selamat Malam yang panjang blue, rinai gerimis ternyata masih setia menyapa dilarut dipanjang ini. salam hangat.

  12. nurhayadi says:

    Dolan-dolan malam ini ceritanya koq seputar pit onthel terus to… Sepeda seperti di atas kalau di tempat saya namanya pit kebo ( sepeda kerbau ), karena stangnya yang mirip tanduk kerbau, kalau yang untuk perempuan namanya pit onta.

    • Aldy says:

      Masing-masing daerah memiliki panggilan yang berbeda ya mas, ini cerita onthel berkaitan dengan acara dirumahnya Kang Isro.

  13. Sugeng says:

    kemana-mana yang dicari cuma sepeda, yah…. pada ikut partisipasi di humberqu, enak nya ikut apa gag ya …… 😕
    salam kenal serta jabat erat selalu dari Tabanan

  14. gaya bercerita Mas Aldy, mengasikkan sekali utk dibaca,
    memang benar kita penuh perjuangan ya Mas waktu belajar naik sepeda, dan begitu bisa, kadang kecanduannya gak bisa dikontrol he…he…
    selamat ya Mas Aldy.
    semoga sukses diacaranya Mas Zipoer.
    salam.

    • Aldy says:

      😉 Bunda bisa saja. Namanya juga masa kecil bun, banyak kenangan pahit dan manisnya. Mungkin setiap insan punya cerita masing-masing, tetapi esensi masa kecil memang masa-masa yang penuh dengan kenangan.
      Hanya meramaikan Blognya Kang Zipoer Bunda. Biar makin seru.

  15. kyaine says:

    pertama kali belajar naik sepeda seperti terjadi pada cinta pertama kita mas, sama2 tidak bisa dilupakan ha..ha…