Cina/China atau Tionghua/Thionghua ?

Apaan lagi sih? Jangan bicara masalah suku atau hal-hal yang berbau SARA !!!

Itu petuah orang tua jika ingin selamat menjalani hidup di Negeri Yang Berdasarkan Pancasila ini.

Saya tidak mempersoalkannya, hanya saja ingin bertanya kepada diri saya sendiri dan rekan-rekan yang berasal dari suku Cina/China/Tionghua/Thionghua.

Adakah rasa ketersinggungan ketika teman menyebutkan suku kita? Mengapa?
Ini pengalaman empiris, saya memiliki teman yang tidak mau disebut Cina/China, dia hanya menerima sebutan suku Tionghua/Thionghua. Kenapa?

Menurut versi sang teman sebutan suku China/Cina terdengar lebih “kasar” dari sebutan suku Tionghua/Thionghua.
Saya sendiri heran dimana letak “kekasaran” China/Cina dibandingkan dengan Thionghua/Tionghua. Atau karena “rasa” yang saya miliki sudah kurang peka ?
Maklum saya sendiri sudah berdarah campuran antara Cina dan Dayak, Yang belum tahu baca kembali My Big Family, Bhineka Tunggal Ika. Karena sudah hybrid kepekaan jadi tumpul.

Saya sendiri tidak pernah tersinggung, tersenggol atau jungkir balik karena panggilan. Bahkan ada yang memanggil dengan sebutan “DaCin” (Dayak Cina), perasaan saya biasa saja. Memang dasarnya ndableg, jadi orang mau manggil apa silahkan.

Tetapi tidak semua orang mau diperlakukan sama seperti ini, lagi pula dimasyarakat sosial kita memang ada kaidah yang sebaiknya tidak dilanggar, yang muda menghormati yang tua (sepanjang memang layak dihormati), yang tua juga harus tahu yang muda, karena orang tua pernah mengalami masa muda. Bukan lebih baik begitu?

Jadi…kenapa harus malu dengan sebutan Cina/China? Kknapa harus di sebut Tionghoa/Thionghua ? Artinya sama bukan?
Okey Guy, ini kebetulan masih ada pengaruh obat dari dokter, karena habis tumbang beberapa waktu yang lalu, jadi kalau tulisannya rada nyeleneh, mohon dimengerti.

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari dua orang putu. Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

40 Tanggapan

  1. Siti Fatimah Ahmad says:

    Kalau di Malaysia.. sebutan Cina (merujuk kepada orang Cina), mana kala sebutan China (merujuk kepada negeri China).

    Perkataan Cina di Malaysia biasanya akan dikaitkan atau dikembarkan dengan suku bangsa cina itu agar mudah di kenali dan ia sudah menjadi kebiasaan. tiada berlakunya sensitiviti panggilannya. Maka rata-ratanya di panggil Cina Tionghua, Cina Foochow dan sebagainya.

    Bunda juga sudah menjadi sebahagian dari keluarga Cina Foochow kerana suami bunda berdarah Cina Foochow dan Melanau. Keluarga mertua bunda berasal dari Taiwan, China. Kami masih berhubungan rapat dengan keluarga di negeri China. Cuma bunda ini orang Melayu…. Sebenarnya perkahwinan campur memberi peluang untuk kita lebih mengenali adat resam sesuatu bangsa dan bunda diterima dengan begitu baik sekali dalam keluarga Cina ini. alhamdulillah.

    Salam manis selalu dari bunda buat nak Aldy dan keluarga.

    • Aldy says:

      Pada dasarnya menurut nanda semua suku itu sama saja bunda, cina, dayak, melayu, jawa, sunda….
      Masalahnya masih ada yang merasa bahwa sebutan cina/china lebih rendah dibandingkan dengan Tionghua. Nanda sendiri juga sering bingung/heran dengan kenyataan ini.
      Tapi kalau tidak seperti ini, ada yang bilang hidup ini tidak ramai. Karena tidak berwarna.
      Salam dari Kalimantan Barat Bunda…

  2. Oelil says:

    emmmm menurut saya sih juga biasa saja ya gak ada yg perlu dipersoalkan hanya saja penyebutannya memang harus tahu waktu dan kondisi dan memang bermaksud baik…kelihatan kok kalo maksud penyebutannya gak baik…ya kan?

    • Aldy says:

      Oelil,
      Benar, kita bisa tahu/membedakan mana yang bergurau dan mana yang bertujuan untuk menjelekan.
      Tapi tidak semua cara berfikirnya seperti ini. Ada teman yang selalu saja berfikiran negatif.

  3. Mega says:

    dari pada komeng saya jadi SARA, mendiang nyimak aja ah 🙂