Distro OS Linux, Membuat saya bingung.

LinuxAkhir-akhir ini muncul pemikiran untuk menggunakan software yang tidak berbayar ( bukan tidak berlisensi; saya pernah bertengkar dengan teman gara-gara Linux Fedora, menurut teman Fedora itu Non Lisensi karena tidak bayar; sementara saya ngotot Fedora itu berlisensi cuma Lisensinya GPL ).  Entahlah siapa yang benar.

Sebenarnya ada pilihan yang sangat mudah, sejauh ini masih menggunakan Windows XP dan beberapa waktu yang lalu mencoba menggunakan Windows 7 Home Edition.  Sehingga pemikiran untuk menggunakan OS Open Source sebenarnya pemikiran yang cukup sia-sia.  Saya sendiri malah heran, sejak adanya kabar dari SFS tentang dosa-dosa Windows, jadi kefikiran kenapa tidak menggunakan Open Source saja ?

Padahal putri saya yang pertama sudah menggunakan Ubuntu Karmic Koala, Open Office 3.1.1, messanger dengan Pidgin 2.6.1 dan dan Laptop Asus, sepertinya tidak mengalami kesulitan.   Bahkan ketika saya mengatakan bahwa saya sudah menggunakan Windows 7, si cantik hanya tertawa ditelepon.

Saya sudah mencoba referansi, berbagai buku, majalah khusus linux sampai mencari di internet tapi masih belum mendapatkan gambaran yang jelas, sebenarnya distro mana yang paling baik dan cocok untuk kerja kantoran seperti saya.

Saat ini saya memiliki Distro Linux cukup banyak, dari yang tidak pernah saya dengar sebelumnya sampai yang sudah terkenal.  Mari kita lihat sama-sama :

  • Fedora 11 (full paket)
  • SimpyMepis 8.0.10
  • Ubuntu Karmic Koala
  • IGOS Nusantara 2009
  • Mandrake
  • Genome
  • Mandriva

Itu baru sebagian, masih banyak yang lainnya. Jujur saja sebetulnya saya tertarik dengan fedora, tetapi setelah saya bertanya dengan teman yang menggunakan Ubuntu, dia malah bilang Ubuntu yang terbaik.
Ketika saya bertanya kepad teman yang menggunakan Distro Blankon 4.0, ini teman malah bilang bagus Blangkon, maintenancenya mudah.
Kemudian saya bertanya kepada putri saya, dia juga bilang mana ada sih yang bisa mengalahkan Ubuntu ?

Mumet, barangkali inilah salah satu penyebab kenapa banyak pengguna Windows seperti saya malas beralih ke OS yang lain. Padahal sudah jelas, jika menggunakan Windows aplikasi utamanya harus bayar dan itu bukan nilai yang kecil.

Barangkali ada teman yang nyasar kesini dan kebetulan pengguna Linux ( dari Distro apapun ) mohon sharing. Mau baca manual Englishnya ? bisa mabok. Salam.

Ilustrasi Gambar : www.linux4windows.com

  Copyright secured by Digiprove © 2010 Aldy Markopiola

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari tiga orang putu (update). Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

48 Tanggapan

  1. dani says:

    pengguna linux bukan anti windows. jika bisa dan mampu memakai keduanya, bahkan kesemuanya yang lain seperti mac, freebsd, dan open solaris sekalian ya gak pa pa toh.. 🙂

    coba googling “memilih distro linux pemula”..banyak tulisan sejenis.

    menurut saya (dengan asumsi distro atau kernel versi terbaru, fungsi desktop):

    yang populer: tentu saja ubuntu. banyak teman yang bisa ditanyai jika ada masalah. 🙂
    yang paling dipoles, tampilan desktop (KDE, GNOME) dan control setting-nya: opensuse.
    yang tinggal pake, multimedia on out-of-the-box: linux mint, mepis, sabayon, dan beberapa distro lokal. kok bisa dipaket dengan paket proprietari lalu diperbanyak?? 🙂

    multimedia dan paket proprietari mesti instal sendiri? ya begitulah untuk menghargai lisensi GPL.

    sistem manajer paket terbaik: apt-get+synaptic (punyanya debian, ubuntu, mint, blankon).
    ‘control panel’ GUI terlengkap: YaST-nya opensuse. the “next” generation. pokoknya tinggal klik next..next..next…gitu.. 😀

    desktop manager terlengkap: KDE (berbasis pustaka Qt), GNOME (berbasis GTK). KDE terasa lebih ‘bloated’ (mungkin banyak fitur yang tidak terpakai/dibutuhkan, tapi memang satu paketnya ya gitu itu jee..saling terkait/dependensi) dibanding GNOME.

    jika ada koneksi Internet dan mau membaca, sepertinya distro apapun tidak masalah. 🙂

    warna desktop default: favorit saya biru; ada di fedora, mandriva, kubuntu. bisa diubah belakangan sih. 🙂

    saya ngga fanatik satu distro, karena sampai saat ini kadang masih jadi kutu loncat distro. 😀

    Jadi, menurut saya, overall, memang enakan make yang berbasis debian+synaptic+KDE/GNOME, seperti Debian (konservatif, stabil), Ubuntu-Kubuntu, Mint. ♥

  2. dani says:

    Ya ampun, kok jadi panjang..maaf ya pak.

    Ubuntu mungkin ‘dikalahkan’ oleh pengguna fanatis dan idealis seperti pengguna distro utama/major: Slackware, Gentoo, Debian, openSUSE, Mandriva. Kalau ada aslinya, kenapa make turunannya? OpenSUSE dah ada turunannya lagi belum, ya? Jika mencari yang mirip Windows, kenapa ngga pake Windows aja sekalian? Mirip Mac? Pake Mac sekalian. Ya, begitulah pak. Berbeda-beda itu indah, kan… 😀

    • Aldy says:

      Lah sayanya yang harus berterima kasih sama Mas Dani, penjelasannya runut kayak menjalani operasi. Tampilan mungkin dicari yang rada mirip dengan desktop Windows atau Mac, tetapi yang utama engine (kernelnya ?) beda mas. Dan menurut yang ‘maniak’ linux, sampai sejauh ini linux masih aman dari virus yang mematikan dan hemat diongkos. Bahkan Putri saya sendiri bilang, dengan modal koneksi internet ( dirumah pake speedy ), sudah bisa mendapat program apa saja. Free dan murni bukan bajakan.

  3. Aldy says:

    Itu artinya harus berlakukan seperti hybrid Mas ?, nah pola hybrid begini yang membuat mumet. Bagaimana dengan pemakaian resources sendiri ? Sepertinya tidak cukup hanya dengan satu Distro, karena setiap distro memiliki kelebihann dan kekurangannya masing-masing. :mgreen:

    • dani says:

      sepertinya memang harus icip-icip sendiri. bisa virtual atau langsung di harddisk, atau harddisk external. 🙂

      • Aldy says:

        Benar juga Mas, harus coba sendiri dulu, try and error. Masalahnya kalau error dilinux, masih tidak paham untuk membetulkannya. Dual boot dengan Windows XP nggak ada masalah kan Mas ?

        • dani says:

          beberapa distro linux biasanya dah mampu mengenali otomatis partisi windows dan linux lain yang terpasang. asal hati-hati pas ngatur partisi. cek lagi proposal partisi yang diajukan oleh installer. mending backup data penting dulu, pak. minta tolong didampingi pengguna lain yang pernah nginstall linux. atau todong aja salah satu kelompok pengguna linux (KSL) setempat. sekalian kopdar. mereka pasti membantu sukarela. 🙂

          • dani says:

            baru sadar, maksud saya, kelompok pengguna linux (KPLI) setempat atau kelompok studi linux (KSL) di lembaga pendidikan terdekat.

        • Aldy says:

          Disini tidak ada kelompok tempat bertanya seperti yang mas Dani maksud.
          Saya bekerja pada sebuah HPH yang berada di tengah belantara mas, jadi kalaupun mau ya nekad saja dengan blog seperti ini. Teman-teman yang lain sepertinya malas, karena perusahaan sudah menyediakan OS Windows.

  4. heru says:

    kalau saya lebih familiar dengan keluarga2 debian, sekarang lagi demam2nya maenin linuxmint anaknya ubuntu cucunya debian 🙂

    • Aldy says:

      Boleh dong sharing heru, Saya sih nggak masalah mau distro yang mana, tapi kalau menurut saran mas Dani dibuat hybrid dari semua distro kayaknya lebih bagus.

  5. ganda says:

    mungkin saya menunggu untuk lappie agar mencoba salah satunya bang. 😀

    • Aldy says:

      Kan bisa pake inventaris yang ada dulu, ntar kalau error tinggal dibanting saja.
      Saya barusan buka jeroan mentahnya fedora, bah… seperti bagus bro. Sudah termasuk didalamnya Open office versi 3.

  6. Pak…yang anda alami, sama seperti saya hehehe..terombang-ambing nich

    • Aldy says:

      Dari satu sisi enak pake Windows, vendornya jelas, supportnya juga jelas ( include yang bajakan ), tapi jika setiap ganti operating system harus keluar dana, seperti pemikiran saya harus ditata ulang. Makanya saya mencoba untuk mencari tahu linux lebih banyak.

  7. Deka says:

    Maaf Om baru muncul dari kadipaten soalnya abiz refreshing sedikit dari otak yang memulai memanas akhir-akhir ini. heheheh…

  8. Deka says:

    Gitu aja kok repot om, gunakan saja metode coba-mencoba lagi…. [kayak lagu dangdut, hihihih]

    • Aldy says:

      Maunya sih seperti itu, yang menjadi masalah ketika dicoba dan error solve masalahnya gimana ?

      • Deka says:

        gampang, install ulang lagiiiii….

      • dani says:

        kan ada live CD/DVD? Coba dulu. Baru install. Hardware yang ‘mungkin’ belum langsung dideteksi biasanya WiFi selain Intel, printer selain HP, VGA selain Intel. Tapi belakangan dukungan driver WiFi dan VGA NVIDIA-ATI selain Intel makin meningkat.

        Dulu saya googling “merek laptop [distro linux]”. ternyata banyak yang sudah mencoba. 🙂

        • Aldy says:

          Saat ini sendang coba mas Dani, ada beberapa distro yang saya coba. Nanti kalau sudah ada “bentuknya” akan saya posting.

  9. Deka says:

    kalo saya sich sekarang kok tertarik dengan linux minta, gak tau kenapa ya…??? apa karena ada tulisan mint itu ya, mengingatkan dengan ada dech hehehehe…

  10. dani says:

    tiap distro cuma beda di cara pemaketan. toh kernelnya sama-sama gnu/linux. sepertinya lebih naksir si fedora ya, pak. coba dengan kata kunci “fedora perfect desktop gnome” atau “… kde”. 🙂

    • Aldy says:

      Terima kasih mas dani, kalau dibilang terlalu naksir sih tidak juga tapi kalau mas Dani nanya saya juga harus menjawab iya. Sepertinya bundled Fedora lebih lengkap dibandingkan dengan yang lain.

      • dani says:

        karena ada opsi install paket server? kalo multimedia kan sama aja mesti nginstal codec manual. 🙂 saya sempat coba fedora 12. yang maniak fedora itu antara lain: dudi gurnadi, ibunk pinguingilo, canmasagi, yahya kurniawan. 🙂

        warna birunya itu ngga tahan. ♥ it. :mrgreen:

        • Aldy says:

          Salah satunya yang menjadi daya tarik memang opsi servernya Mas, kalau codec saya kira tidak masalah karena banyak. 😆

  11. solusidigitalku says:

    saya juga bingung… mau sempat migrasi ke linux tapi kok susah juga,
    oia, ada UNDANGAN bagi2 buku gratis (lagi) nih.. yang mau ngikut langsung meluncur ke TPK!!! DITUNGGU YAA….

    • Aldy says:

      Susah karena kita belum biasa (mungkin), tapi saya benar-benar tertarik dengan Linux (Fedora).
      Ok, ntar saya meluncur kesana.

  12. Siti Fatimah Ahmad says:

    Assalaamu’alaikum

    Apa khabar Aldy? Didoakan sihat dan damai selalu. Ini laman baru ya, Aldy. Mudahan silaturahmi akan terus terjalin dalam kebaikan. Senang sekali dapat menerima kunjungan nak Aldy lagi.. Mohon diberikan alamat kepada saya ya. Salam mesra dari bunda di Sarikei, Sarawak, Malaysia.

    • Aldy says:

      Waalaikumsalam Bunda,
      ini memang laman baru Bunda, hadiah dari Dinda Smart dan Rismaka.
      Insya Allah saya akan sering berkunjung, cuma kadang laman bunda sulit saya buka.

  13. ngupingers says:

    kalo anda bingung apali sayah

  14. Deka says:

    Masih bingung juga Om…???

    • Aldy says:

      Lumayan, tapi ada sedikit kemajuan dibandingkan beberapa waktu yang lalu. Mas Dani dan Gadgetboy banyak membantu. Om tunggu nih kontribusi dari Deka.

  1. 02/01/2010

    […] Sebuah perjalanan yang sungguh tidak menyenangkan.  Pribadi saya masih saja berkutat memikirkan apakah beralih ke Linux atau tetap bertahan dengan Windows yang semakin hari semakin terasa memberatkan isi […]