Dokter Bukan Manusia Dewa.

Sebelumnya saya mohon maaf kepada rekan-rekan baik blogger maupun bukan yang kebetulan berprofesi sebagai dokter. Tulisan ini tidak bermaksud mendiskreditkan siapapun, tetapi adalah pengalaman empiris pribadi yang saya alami beberapa waktu yang lalu.

Sekitar seminggu yang lalu, saya akhirnya menyerah karena kondisi fisik yang anjlok dan akhirnya harus beristirahat total beberapa hari. Sore itu saya diantar keluarga pergi ke dokter untuk berobat. Karena sudah telepon duluan, sehingga ketika datang ditempat praktek tanpa menunggu waktu yang cukup lama, giliran saya yang masuk ruangan periksa.

Sudah menjadi kebiasaan saya jika sakit, saya akan mengutarakan semuanya kepada dokter mengenai penyakit yang saya derita, bahkan bisa dikatakan rinci dan sangat runut. Kebetulan saya sudah cukup lama mengenal beliau ( dokter ), sehingga saya merasa tidak ada yang harus saya sembunyikan.

Mungkin karena keluhan yang saya ungkapkan banyak, maka waktu konsultasinya cukup panjang, terkadang saya tidak terlalu memikirkan pasien yang lain. Setelah dianogsa selesai, ternyata saya diharuskan menjalani pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui dengan pasti, apakah saya menderita malaria atau DBD.

Pada saat keluar ruangan, salah seorang pasien yang sampir seusia dengan saya menegur kenapa saya lama, kenapa saya tidak memikirkan pasien yang lain. Dan biasanya saya hanya diam atau tersenyum saja kemudian menjelaskan kenapa saya lama. Tetapi jawaban yang saya terima sungguh membuat saya naik pitam, “jangan mentang-mentang orang kaya lantas bapak semaunya saja berlama-lama dengan dokter”.

Walaupun badan saya lemas, kepala pusing dan nyeri pada semua persendian; tiba-tiba hilang mendengar kata-kata itu. Kemudian yang bersangkutan saya hampiri dan saya kembali memberikan penjelasan [pekerjaan bodoh yang seharusnya tidak perlu saya lakukan]. Tetapi dia tetap saja ngoceh seperti burung gagak. Dari pada memperpanjang masalah, akhirnya saya mengalah.

Ternyata sang jagoan membawa orang tuanya berobat dan kelihatannya cukup parah (pertanyataan meggelitik saya; kenapa tidak langsung kerumah sakit?). Karena saya dan kelurga harus menunggu hasil pemeriksaan laboratorium yang cukup lama, maka ketika giliran sang jagoan dengan ayahnya masuk ruang praktek saya masih ada ditempat.

Saya asyik ngobrol dengan keluarga, tiba-tiba saya mendengar umpatan dan ketika saya menoleh ternyata sang jagoan kita yang kelihatan marah.
“Dokter bodoh, udah tahu orang sakit malah ditanya sakit apa, percuma sekolah dokter kalau ndak tahu penyakit” (umpatan ini dalam bahasa daerah).

Hmmm…., saya geli sendiri; memang profesi dokter sudah menjalani pendidikan khusus untuk mengobati orang sakit dan memang menjadi kewajiban dokter untuk menyembuhkannya. Tetapi apakah setelah menjalani pendidikan khusus tersebut lantas dokter tahu semua penyakit? saya pastikan tidak.

Dokter/mantri akan mudah mendianogsa, memberikan resep yang tepat jika pasien juga bersikap kooperatif, tidak menyembunyikan penyakit yang sebenarnya dan memberikan penjelasan sejelas-jelasnya.
Dari kejadian tersebut dan pengalaman saya sendiri, dapat saya simpulkan (jika kurang mohon ditambah), bahwa :

  1. Bersikaplah aktif dalam menjelaskan penyakit yang kita derita kepada dokter yang akan memberikan pengobatan kepada kita, dengan demikian dianogsa menjadi mudah.
  2. Jangan memaki dokter bodoh ketika dokter mengajukan pertanyaan kepada kita, jika kita salah memberikan penjelasan, kemungkinan pemberian obat yang salah juga semakin tinggi, lagian kalau udah tahu dokternya bodoh, mengapa mendatangi dokter untuk berobat?.
  3. Jika niat kita memang berobat ingin sembuh, dokter membutuhkan kerjasama dengan kita sebagai pasien.
  4. Dokter bukan manusia dewa yang tahu penyakit yang kita derita tanpa mengajukan pertanyaan yang merupakan rangkaian dari dianogsa penyakit kita.
  5. Jangan takut memberikan penjelasan kepada dokter mengenai penyakit yang kita derita, karena dokter punya kode etik dan percayalah dokter tidak akan menceritakan penyakit yang kita derita kepada khalayak karena kita bukan kelompok selebritis yang suka mencari sensasi atau pejabat tinggi negara yang penyakitnya ingin diketahui rakyat.

Jadi kenapa harus mengumpat? kenapa harus takut memberikan penjelasan yang sejelas-jelasnya kepada dokter?
Bagaimana dengan rekan-rekan blogger jika berhadapan dengan dokter?

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari dua orang putu. Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

49 Tanggapan

  1. Deka says:

    Pertama Mode ON
    Baru liht judul, sabar baca dulu. Gak bisa tidur nie om…

  2. Deka says:

    Keduaxxx Mode ON
    Oh tentang dokter nie, jadi ingat dokter yang bening-bening pas periksa mata kemarin ama dokter yang bening-bening juga di klinik disekitaran kost. Rada jual mahal euy ke mahasiswa mah, heheheh..

  3. Deka says:

    Ketigaxxxx Mode ON
    Kalo saya mah om, jika berobat ke dokter cowok sich biasanya saya kasih tahu panjang x lebar x tinggi nah kalo dokter yang cewek apalagi bening-bening gak tahu kenapa saya banyak lupanya bilang yang lain, pas di kost baru nyadar belum bilang akibat ada obat yang kurang, cape dah, hehehe..

  4. Deka says:

    Keempatxxxx Mode ON
    So Sekarang udah sehat 100%..??? atau masih kurang Om..???

  5. Deka says:

    Kelimaxxxx Mode ON
    Pantesan si Tutix di masukin ke Akbid, hehehe..

  6. nakjaDimande says:

    semoga mas Aldy sekarang ud segar lagi.
    Seorang dokter justru butuh cerita lengkap tentang riwayat penyakit dari pasien, setelah itu baru didukung dengan pemeriksaan secara visual, lab dan segala macem.
    kecuali pasiennya robot, lha iya engga usah cerita. hehhhehhh

    Bundo saat berhadapan dengan dokter, deg-degan.. **klo dokternya secakep jude law

  7. Mamah Aline says:

    saya paling jengkel jika ada orang yang gak mengenal permasalahan dan alasan dengan jelas main semprot aja, trus merepet seenaknya, pingin getok kepalanya biar benjol sukur-sukur pentungan itu bisa merubahnya menjadi lebih arif deh hehehe…

    • Aldy says:

      Jiahahahaha…..
      Mamah kalauu udah sewot bahaya juga. Kayak orang rumah saja, nggak banyak cakap mau pentung aja. Lha kalau dipentung terus modar gimana Mah ?

  8. Dewi Yana says:

    Assalamu’alaikum,
    Semoga Mas Aldy sudah sehat/sembuh sekarang, amin. Mas Aldy benar, kita memang harus menyampaikan semua keluhan sakit yang kita rasakan kepada Dokter, agar Dokter mngetahuinya dan bisa melakukan pemeriksaan, dari hasil pemeriksaan tsb baru dokter bisa melakukan tindakan medis/pengobatan. Begitulah Mas, dalam hidup ini harus sabar saat berinteraksi dengan orang yg seperti itu. Sesungguhnya, setiap kata-kata yg dikeluarkan seseorang, itu mencerminkan kepribadiannya. (Dewi Yana)

    • Aldy says:

      Alhamdullilah mbak sekarang sudah hampir 100% sembuh, walau masih masih sedikit Istirahat.
      Benar Mbak, saya pribadi tidak pernah menyembunyikan penyakit yang saya derita, toh kita juga yang merasakannya jika penjelasan kita benar sekaligus memudah dokter untuk memberikan obat yang tepat.
      Benar mbak, kata-kata merupakan cerminan dari pemiliknya.

  9. sobatsehat says:

    semoga cepet sembuh bang……….udah lama nggak ngobrol bang………..

  10. hielmy says:

    wah, kalo baca ceritanya, kayaknya itu emang tabiat sang “jagoan” saja yang doyan mengumpat, bukan karena dokter bodoh atau anda yang kelamaan di sana. selalu saja mencari2 kesalahan orang. 🙂

    • Aldy says:

      Benar Mas Hielmy, belakangan baru saya tahu, ternyata ayahnda berpulang, rupanya pada saat itu sebetulkan oleh Dokter disarankan segera dibawa kerumah sakit untuk diopname.

  11. sauskecap says:

    tapi wajar kalo sang jagoan marah2, mengingat dia panik dengan kondisi orang tuanya, tetapi seharusnya tidak dibawa dengan emosi… yang ada malah memperburuk keadaan…

    • Aldy says:

      Dari sisi kemanusiaan saya bisa mengerti, tetapi jika memang kondisinya sudah parah kenapa harus kedokter praktek ? UGD Rumah sakit selalu terbuka 24 Jam.

  12. arkasala says:

    senang sekali Mas aldy sudah aktif kembali. Semoga selalu sehat.
    Saya punya kebiasaan buruk tidak bisa cerita di depan dokter (kecuali dengan Bundo kali di blog) termasuk bertanya banyakdan mungkin ini kelemahan yang berdampak fatal ketika anak saya masuk rumah sakit sampe akhirnya meninggal. Saya mendampingi tapi tidak banyak bertanya dan bercerita. Akhirnya hanya menyesal sekarang yang sudah tidak ada gunanya lagi.
    Saya setuju sekali dengan saran Mas Aldy ini terutama menyangkut apa yang kita rasakan ketika kita berhadapan dengan dokter/ahli medi.
    Terima kasih sekali.
    Salam hangat selalu 🙂

    • Aldy says:

      Innalillahi wainnalillahi roji’un.
      Maafkan saya kang Yayat, jika artikel ini mengingatkan buah hati yang tercinta. “Berbagialah dikau anakku sisi penciptamu saat ini, Amin”
      Maaf….saya tidak dapat meneruskan kata-kata saya…….

  13. KutuBacaBuku says:

    setelah beberapa lama bersama nona kutu dan berkenalan dengan dunia kedokteran, kutu sadar betapa berat untuk menjadi seorang dokter, perjuangannya gak tanggung2 gt. yah, saling menghormati pekerjaan masing2 aja sih lebih enaknya

    • Aldy says:

      Benar Mas, saya kebetulan banyak berkenalan dengan dokter, baik yang senior maupun yang sudah senior.
      Dan bukan pekerjaan mudah untuk menjadi dokter, bukan hanya uang tetapi juga otak yang brilliant. Dari keluarga saya, hanya ada satu yang berhasil, yang lainnya lebih memilih bidang yang lain.

  14. Alhamdulillah, Mas Aldy sudah aktif lagi, semoga segera segar kembali ya Mas.
    Kadang2 dlm keadaan panik krn ortu sakit, orang jadi suka bersikap tdk rasional, padahal itu membuatnya terlihat bodoh, gak mungkin dong dokter bodoh, kalau bodoh, khan pasti gak dapat izin praktek.
    lucu juga ya kalau kita mengamati perilaku manusia sekeliling, kadang malah dpt pelajaran dan hikmah yg berharga.
    salam.

    • Aldy says:

      Alhamdulillah Bunda sekarang sudah mulai aktif lagi.
      Saya fikir tidak terlepas dari cari berfikir dan kedewasaan berfikir seseorang bunda. Panik ? siapa yang tidak panik jika orang tua sakit. Tapi seperti Bunda tulis, justru itu membuatnya kelihatan bodoh. Atau memang dianya yang bodoh ?

  15. niQue says:

    hehehe … jadi malu sendiri.
    sepertinya perlu sosialisasi tingkat tinggi deh mas,
    agar masyarakat NGEUH se-ngeuh2nya bahwa dokter BUKAN DEWA.
    KENAPA? Karena saya pun dulu ‘mengomel’ seperti ‘si jagoan’ itu ketika ke dokter dah malah ditanyai macam2, sementara harus menyauti sambil menahan sakit.

    tapi ke sini nya, setelah semakin paham, ya molai rajin bikin kronologis sakit yg diderita,
    agar tak salah dikasi obat. hehehe … kan repot toh sakit kepala malah dikasi obat panu 😛