Dugem ala Kampung

Berjalan menelusuri daerah pedalaman membawa hikmah yang tidak ternilai. Selain melihat nilai-nilai budaya yang tersisa juga menemukan nilai budaya yang mulai luntur dikalangan anak-anak muda. Mungkin pengaruh buruk modernisasi kota telah merasuk kedalam diri mereka dan jika tidak ikutan mereka khawatir dinilai anak-anak muda yang kampungan, norak dan tidak gaul.

Hari kedua dalam perjalanan tempo hari membuat saya terhenyak dan tertegun. Sungguh saya tidak percaya dengan penglihatan saya sendiri. Pada hari kedua itu, saya menginap di sebuah desa, kebetulan sedang ada acara pernikahan salah seorang penduduk dan sudah lazim, jika ada yang menikah, malamnya selau disertai dengan musik dangdut dari sound system, minuman keras (baram/tuak/arak) dan acara joget.

Pada awal malam, semuanya berjalan normal. Irama dangdut dan tamu berdatangan cukup ramai. Anak-anak muda berdandan dan wanginya menusuk hidung. Saya tersenyum dalam hati, sepertinya acara dangdutan bakalan ramai dan asyik. Karena sudah saya ketahui, tamu jauh seperti saya akan mendapatkan prioritas untuk joget dengan pasangan yang ditentukan. Hmmmm.

Setelah semua tamu menyalami pengantin, musik dangdut bertambah nyaring tetapi suara yang keluar dari sound system masih terdengar nyaman ditelinga, tidak cempreng dan pecah. Karena penasaran, saya mendekati sound system yang digunakan. Dan sungguh tidak pernah saya duga DVD playernya merk Kenwood, Amplifier bermerk BMB dan speakernya juga Kenwood, bukan sembarang Kenwood tetapi Kenwood orisinil. Saya menaksir harga sound system yang digunakan tidak kurang dari delapan jutaan. Perfect.

Belum hilang rasa kaget saya, saya mendengar teriakan anak-anak muda. “Ganti disc…ganti disc”, jujur saya bingung dengan maksud teriakan tersebut. Dan wooowwww…, tidak lama kemudian berdentam house music. What the hell is this. Dengan irama funky yang cepat, music ajeb-ajeb menggoyang desa yang sebelum sepi. Saya berfikir, sejak kapan desa ini berubah menjadi “Stadium” atau “Hailai”.

Karena tidak bisa mengikuti iramanya, saya memilih duduk. Irama music funky itu memenuhi telinga dan membuat budek. Saya hanya memaki dalam hati, lagi enak-enak goyang dangdut terpaksa harus stop. Beberapa anak muda mencoba mengajak bergoyang, tetapi saya menjawabnya dengan senyuman. Entah mereka melihat atau tidak, lha wong gelap gitu.

Saya melirik jam murah yang ada ditangan kiri, ops…sudah jam 12:30 WIB, saatnya istirahat. Ketika beranjak dari tempat duduk, mata ini tertarik melihat gaya dugem sepasang muda-mudi yang bergoyang asik dengan kepala digeleng-gelengkan, selain itu ada beberapa orang lain dengan gaya dugem yang sama. Pengalaman membisikan ada sesuatu yang salah dengan anak-anak itu. Tetapi saya tidak berani berburuk sangka. Saya ingin membuktikannya.

Celingak-celinguk kiri kanan, saya lihat ada yang jualan. Saya beli sebotol minuman mineral, kemudian saya hampiri pasangan yang dugem tersebut, samar saya perhatikan matanya terpejam (may-be they are still flying to the heaven), saya sentuh tangannya perlahan. Dingin. Saya sodorkan minuman yang tadi dibeli, saya nyalakan rokok LA menthol, mereka menyambutnya dengan suka cita dan mengajak bergabung. Kembali saya hanya tersenyum dan memberikan isyarat bahwa saya akan memberikan minuman kepada teman-temannya yang lain. Kemudian saya berlalu.

Saya tercenung diantara hingar bingar musik, sudah sebegitu jauhkah rusaknya generasi muda negeri ini? Ketika saya tanyakan pada yang lain, anak-anak itu sedang sekolah dikota dan sekarang sedang pulang ke kampung karena ada keluarga yang mengadakan pesta. Musim liburan belum tiba tetapi kok bisa pulang ke kampung hanya untuk menghadiri pesta? hebat.

Saya yakin penduduk setempat tidak tahu apa yang sedang berlaku dengan anak-anak muda tersebut, tetapi saya percaya rekan-rekan blogger tahu. Andai saja orang tua mereka tahu, mungkin mereka akan menangis. Saya sendiri hanya bisa mengelus dada dan geleng-geleng kepala. Anak-anak harapan tersebut sudah terjerembab kedalam modernisasi yang salah. Lalu siapa yang harus dipersalahkan?

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari dua orang putu. Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

45 Tanggapan

  1. Darin says:

    Ternyata kondisi anak2 muda desa dimana-mana sama ya mas. Bahkan saya mengalami sendiri, di pedalaman NTT pun begitu. Setiap ada pesta, sudah dipastikan house music berdentum semalam suntuk. Anak mudanya? berjoget, mabuk, dan lebih parah, berjudi!

    Inikah yg disebut modernisasi?

  2. dedekusn says:

    Prihatin… sudah segitunya moral anak muda negeri ini… mudah2an ini perilaku minoritas gnerasi muda kita.

  3. iskandaria says:

    Membaca kisah Pak Aldy di atas, saya jadi teringat dengan pengalaman beberapa tahun lalu (saat saya mengikuti kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa/KKM di salah satu desa). Desanya yaitu Sungai Rengas, Kec.Sungai Kakap Kab.Pontianak. Sekarang masuk Kab.Kubu Raya.

    Saat itu saya masih berstatus sebagai mahasiswa Kehutanan Untan. Kami satu kelompok menginap di balai desa Sungai Rengas. Tau nggak, baru hari pertama aja, kami sudah didatangi oleh sekelompok anak muda desa tersebut. Mereka langsung nodong kami untuk menggunakan halaman depan gedung balai desa tersebut sebagai ajang pesta nanti malam.

    Dan ternyata, pestanya ialah PESTA DUGEM semalam suntuk. Dengan sound system yang cukup nyaring, para anak muda desa tersebut berjoget ria. Kami hanya memandang dari dalam gedung balai desa 🙂

    Entahlah, saya kurang tahu apakah ada miras juga. Yang jelas, muda-mudi udah campur aduk berjoget ria di tengah hingar bingar house-music. Wow, desa yang sudah bisa dibilang modern tuh. Mungkin karena nggak begitu jauh dari kota Pontianak.

  4. adin says:

    parah, korban pergaulan kota tu anak-anak, gak siap mental, jadi terpengaruh, dibawa ke kampung lagi, bisa nularin ke yang lain dah

  5. Tentu kita sangat prihatin dengan kondisi yang demikian itu pak. Mereka justru bangga dapat berbuat seperti itu.

  6. lyna riyanto says:

    astaghfirullah
    saya sangat prihatin
    resiko dari semakin globalnya informasi adalah terjadinya pergeseran nilai
    hal ini bisa semakin parah jika tanpa dibarengi dengan penguatan spiritual
    semoga tidak terjadi dengan anak-anak kita ya mas

  7. indam says:

    Sedih juga, jika kerusakan remaja sudah sampai ke pelosok desa.

    Yang harus disalahkan, mungkin adalah pembimbing mereka.
    Jika kerusakan masih sebatas miras, mungkin wajar2 aja saya rasa. Tapi kalau narkotika “semoga meraka bisa sadar”.
    Miras, hanya membuat kita lepas kontrol dan rusak fisik.

    Tapi kalo udah narkotika “semangat kita digrogoti”, rasa was-was itu selalu ada.

    Ujung-ujungnya, pemalakan, pencurian dan penjara.

    Saya bersyukur tidak mengikuti mereka.

    Pertanyaanya adalah, apa yg harus kita lakukan?

  8. ga di kota ga di desa, pergaulan malam sama bebasnya!
    mau dibawa kemana generasi muda kita ini 🙁

  9. Nur'Amilah says:

    dari pada dugem, mendingan diajak ngebLoG aja Mas biar SDM warga desa pada meningkat. tp jangan biarkan mereka membuka situs xxx 😀 hehehe…

  10. Hem adat di desa sudah dilindas oleh kehebatan dunia modern alhasil pengen modern dengan modal pas-pasan ya begitulah, dugem ala kampung wkwkkwk

  11. Starwrite says:

    Ne akibat negatif dari perkembangan teknologi..membuat warga di desa pun mengenal budaya buruk dari kota..tinggal bagaimana kita melindungi diri aja.

  12. ysalma says:

    ikut berkabung membacanya mas,,
    dan semakin deg-deg an dengan anak-anak yang masih SD sekarang,,
    semoga jangan sampai memilih teman yang salah..

  1. 26/10/2010

    […] kenyataan yang membuat saya merinding. Masih didesa yang sama, setelah malam sebelumnya acara dugem yang menunjukan sebuah kenyataan bahwa tingkat kerusakan moral sudah jauh merambah kedesa, pagi […]