Gelar Sarjana itu…

Pernah mendapatkan tawaran gelar sarjana hanya dengan uang lima belas juta rupiah? Atau pernah mendengar adanya jual beli gelar?
Ini kondisi yang menyedihkan dunia pendidikan dan yang paling menyedihkan para pembeli gelar ini telah melakukan pencerdasan nama tetapi melakukan pembodohoan intelektual terhadap dirinya sendiri, bayangkan saja, yang bersangkutan sudah sanggup membodohi diri sendiri apalagi membodohi orang lain.

Praktek ini banyak terjadi dikalangan Pegawai Negeri Sipil (silahkan dibantah atau diamini), tetapi inilah kenyataan yang bisa kita temui dimasyarakat. Cara mengenalinyapun sangat mudah, cukup perhatikan tahun kelahiran (lihat pada Nomor Induk Pegawai), kemudian perhatikan gelar yang digunakan. Apakah tidak meragukan, jika PNS tersebut lahir pada tahun 60-an kebawah tetapi gelar yang digunakan S.Sos?

Perlukah gelar sarjana?

Disebagian kalangan masyarakat, gelar ini masih dianggap sebagai lambang kecerdasan, kemampuan berfikirnya lebih baik dari yang bukan sarjana dan masih prestisius, sehingga gelar sarjana masih sangat diperlukan. Anggapan ini tidak sepenuhnya salah, jika gelar sarjana tersebut didapat dengan menempuh pendidikan normal, tentu saja (dan seharusnya) kemampuan berfikir dan daya nalar mereka lebih baik dari yang tidak berpendidikan sarjana.

Tetapi jika gelar tersebut didapat hanya dengan menempuh pendidikan sabtu-minggu (uch…kok malah ingat persami), perlu dipertanyakan kualitasnya, kecuali mereka yang benar-benar cerdas atau orang-orang yang memiliki latar pendidikan khusus (SKMA) dan pendidikan extension tersebut hanya sebagai penegasan kemampuan intelektual mereka. Apalagi jika gelar tersebut didapat dengan cara menggelontorkan sejumlah uang tertentu.
Saat ini justru terbalik, banyak lulusan perguruan tinggi yang enggan menyematkan gelar didepan nama mereka, terkecuali untuk kepentingan pembuatan surat-surat penting yang mensyaratkan pencantuman gelar jika ada.

Mengapa harus sarjana?

Dilingkup lembaga pemerintahan, gelar kesarjanaan masih menjadi patokan dalam menentukan jabatan, golongan dan kenaikan pangkat/golongan. Pegawai dengan pendidikan lulusan Sekolah Menengah Atas, saat pertama kali masuk kerja hanya berada pada golongan 2A, sementara lulusan strata I dengan golongan 3A, jika kenaikan golongan tersebut rata-rata 4 (empat) tahun sekali, maka dibutuhkan waktu 16 tahun masa kerja bagi lulusan SLTA untuk mencapai Golongan 3A. Waktu yang sangat lama.

Inilah salah satu penyebab mengapa gelar sarjana menjadi sebuah keharusan jika ingin mendapatkan golongan yang lebih tinggi. Hanya saja, banyak yang melakukannya dengan jalan pintas karena mengajukan ijin tugas belajar dianggap sulit dan berbelit (sebenarnya tidak sulit, hanya saja setiap pengajuan tugas belajar harus disertai dengan persyaratan-persyaratan tertentu). Pemicu lainya adalah kemudahan yang diberikan berupa penyetaraan golongan, pegawai yang sudah memiliki gelar sarjana dapat mengajukan penyetaraan golongan. Enak, kan?

Siapa yang dirugikan?

Banyak pihak yang dirugikan dengan adanya cara mendapatkan gelar dengan mudah (jika tidak mau dikatakan jual beli gelar), dampak yang paling nyata berimbas kepada :

  • Para mahasiswa yang lulus dengan susah payah untuk mendapatkan gelar tersebut, sudah berjibaku sekian tahun dibangku kuliah, eh..diluaran ada pihak lain yang mendapatkannya dengan mudah.
  • Lembaga yang mempekerjakan, sebagian besar lulusan seperti ini patut dipertanyakan kualitasnya, terkecuali sebelum yang bersangkutan mengikuti kuliah sabtu minggu sudah menunjukan prestasi yang baik.
  • Pribadi yang bersangkutan, apalah artinya menyandang gelar sarjana kalau kemampuan akademisnya dan nalarnya tidak lebih dari siswa SLTA, tidakkah akan mempermalukan diri sendiri?

Lain-lain

Realitas yang ditemukan dilapangan menunjukan gelar-gelar bidang sosial yang banyak diperlakukan seperti ini, dan ini tentu saja menghancurkan kredibilitas sarjana-sarjana bidang ini. Kasihan mereka yang benar-benar menempuh pendidikan tinggi selama 3.5 sampai 5 tahun dikalahkan oleh orang-orang yang memanfaatkan celah ini dengan “cerdas”. Solusi terbaiknya, pemerintah dalam hal ini Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan harus segera mengambil langkah-langkah kongkrit untuk menertibkan dengan melakukan akreditasi atau bila perlu menutup lembaga-lembaga pendidikan tersebut. Kita tunggu action-nya, bukan kita dengar lagi kalimat “sedang kami pelajari”. Karena masalah ini sebenarnya sudah mencuat bertahun-tahun yang lalu, terutama di daerah, waktu itu, yang dilakukan hanya penertiban seadanya.

Tribun News memberitakan, bahwa pengamat Kebijakan Publik Riant Nugroho menyatakan jika pemerintah melakukan audit terhadap Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang ada saat ini melalui tes standard penerimaan PNS. Maka diperkirakan sekitar 10-15 persen PNS yang ada saat ini terpaksa diberhentikan karena tidak memenuhi standard.

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari tiga orang putu (update). Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

65 Tanggapan

  1. jarwadi says:

    teman saya banyak yang lulus PhD, tapi kalau menulis nama hanya roby, atau tika gitu. tanpa embel embel apa. tidak banyak yang tahu kalau sebenarnya mereka adalah PhD dari NYU dan Columbia University dari Amrik sana πŸ™‚

  2. yos says:

    beruntung bagi taman2 yang merasakan kuliah sampai mendapatkan gelar sarjana, saya sendiri cuma kuliah sampai D3 tapi tetap bersyukur, masih bisa merasakan namanya kuliah, banyak teman2 kita malah belum pernah mengenyam bangku sekolah πŸ™

  3. Hanif Mahaldi says:

    setahu saya pak, adanya jual beli skripsi, entah kalau sarjana memang sudah populer atau belum. Tapi kalau skripsi itu, banyak dijual belikan, gara2 juga sama, ingin mendapatkan gelar sarjana dengan cepat.

  4. Sugeng says:

    Mungkin karena itu aku gak berminat untuk jadi birokat dan PNS πŸ˜†
    Dan pembusukan karakter seperti ini sudah merajalela dan hebatnya para pengajar di kelas yang kebanyakan menjadi klien nya. Sungguh malang niang nasib Indonesiaku πŸ™

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  5. marsudiyanto says:

    Sarjana Blogger ada nggak ya?
    Kalo ada berarti titelnya S.Blog

  6. Gugun says:

    semuanya tergantung orangnya juga, tapi kebanyakan orang yang sudah punya gelar sarjana mereka bekerja pada pekerjaan yang orang yang tidak punya gelar pun bisa melakukannya, seolah gelarnya tuh gak ada artinya

    • Aldy says:

      Banyak kasus seperti itu mas, tapi banyak juga diataranya mereka mampu menunjukan kualitasnya, karena mereka mendapatkan gelar sarjananya dengan cara yang benar.

  7. Riky Rizkiyana says:

    Gelar sarjana memang perlu apalagi dalam dunia kerja, gelar akan menentukan kedudukan tapi apakah gelar sarjana itu sangat mencirikan orang yang berpendidikan tinggi dan yang tidak? sepertinya tidak juga karena sekarang banyak yang mendapatkan gelar sarjana dengan cara yang cepat, ya, seperti yang sudah di jelaskan diatas. “Ada uang, semua beres” πŸ˜€

    • Aldy says:

      Riky, seharusnya uang tidak digunakan untuk mendapatkan gelar dengan cara cepat seperti itu, walaupun untuk mendapatkan gelar sarjana butuh uang.

  8. 15 juta mas?
    ckckck…

    PNS macam apa yang bisa didapat dari moral seperti itu yah…
    Mudah mudahan aja di audit nya tiap tahun deh…
    biar gak kebobolan terus…

  9. wah, kalo gelar Sarjana dijual belikan
    parah jadinya tanggungjawab intelektualitas di negeri ini
    karena bisa jadi yg bergelar Sarjana, kenyataannya kemampuannya tidak ada

  10. andank says:

    wah saya tidak dapat berpendapat mengenai ini, masa masih berjibaku dengan tugas kuliah yang menyiksa πŸ˜€

  11. Deindra says:

    terlepas dari perlu apa tidak perlu tapi kalau sampai gelar kesarjanaan dan ijazah bisa diperjual belikan apalagi dengan harga hanya 15jt itu sangat memprihatinkan sekali sob…

    • Aldy says:

      Kalau aku tidak mengalaminya sendiri, akupun sulit untuk percaya. Memang memprihatinkan, tetapi kenyataan inilah yang aku temui dilapangan.

  12. Amazingtutor says:

    Mereka yang beli gelar seharusnya merasa malu
    Mereka yang menjual gelar juga seharusnya merasa malu
    Sungguh memprihatinkan…

    • Aldy says:

      Benar Mas, seharusnya mereka merasa kalau perbuatan yang mereka lakukan, bukan hanya merugikan orang lain, juga merugikan mereka sendiri.

  13. Budi Arnaya says:

    Ada Bang…bahkan ditawarin untuk S2nya dengan biaya lima puluh, bah…meskipun punya uang…saya tidak bakalan menerima, maluuuuuuuuu

  14. ysalma says:

    saya pernah dengar, memang miris sih,
    gelar sarjana yang sesuai ilmunya memang diperlukan, soalnya walaupun bukan di pemerintahan, di swasta pun sekolah beda cuma 1 tahun, walaupun pengalaman lebih baik, tetapi krna bukan sarjana, salary yang di dpat juga sangat berbeda jauh, bagi yang masih berkesempatan sekolah, selesaikan dengan baik.

    • Aldy says:

      Seharusnya gelar tersebut tidak dicari dengan cara mudah, karena tujuan awalnya bukan gelarnya, tapi ilmu sarjananya yang lebih penting.

  15. Sukadi says:

    Terkadang Gelar memang bisa mendongkrak pamor, menaikkan gaji/tunjangan, menjaga gengsi, dsb. Makanya wajar banyak yang memburunya, hanya saja, kalau cara mendapatkan gelar tersebut dengan cara yang curang, mungkin akan lebih baik kalau gelarnya ditambah dengan cuma-cuma: penipu!