Jangan…

Ini cerita lawas, sudah puluhan tahun yang lalu. Dari pada mumet mendengar berita yang isinya cuma huru-hara dan perdebatan kosong para poli-tikus ditelevisi, dan omongan ngawur anggota dewan, mendingan mengingat kejadian unik yang pernah dialami.

Cerita ini terjadi pada saat kegiatan pramuka dan waktu itu perkemahan dilaksanakan di area transmigrasi. Namanya juga transmigrasi, pasti identik dengan saudara-saudara yang berasal dari pulau jawa. Tidak perduli yang datang itu sukunya apa, pokoknya yang datang dari pulau jawa, oleh penduduk setempat disebut orang jawa (tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar).

Kebetulan, pada saat dilaksanakannya kegiatan tersebut, ada teman yang berasal dari lokasi yang sama, orang jawa, namanya Murkidi dan wew…bahasa jawanya masih kental (medhok), kalau orang Melayu kalbar bilang, bahasa jawanya masih meletop 😀

Sehari sebelum pulang, kami bertiga (narablog, Murkidi dan seorang teman lagi dari suku china (namanya, Susanto)) menyempatkan diri mendatangi rumahnya Murkidi, karena lokasi perkemahan dengan rumahnya tidak jauh, kurang lebih 1(satu) kilometer. Cukup dengan berlari kecil dalam waktu singkat sudah sampai.

Ditempat tinggal si Murkidi, kami menikmati Air Pohon Tebu, cara menikmatinya khas anak-anak SMP, semuanya menggunakan Gigi, dari mulai mengupas sampai mengunyah, gigi memegang peranan utama. Setelah puas menikmati tebu, kami istirahat sebenar. Mata nakal ini sempat melirik ibunya Murkidi sedang menyiapkan makan, sialnya perut ini tiba-tiba menyanyikan lagu keroncong, untung saja tuan rumah tidak mendengar.

Kira-kira setengah jam kemudian, ibunya Murkidi mempersilahkan kami untuk makan, dengan gaya basa-basi yang basi saya dan susanto menolak, tetapi sambil mengikuti ibunya Murkidi keruang tengah. Aroma sayur bening jagung muda menyeruak plus sambal yang kelihatannya cukup pedas, selain itu ada tumisan kangkung dan lalapan daun pepaya muda. Busyeet, liur ini seperti mau menetes.

Sambil menyilakan makan, ibunya Murkidi mengatur kembali letak sayuran yang dihampar diatas lampit, tikar yang terbuat dari rotan. Beliau mengatur sayuran tersebut dengan mendekatnya kearah kami.

“Ini jangan”, beliau berkata sambil memindahkan sayur bening jagung muda, berturut beliau mengatakan jangan pada saat menata ulang letak sayuran lainnya. Saya sempat bengong, mengundang makan tetapi sayuran dikatakan jangan (waktu itu belum tahu, dalam bahasa Jawa jangan artinya sayur), tetapi karena perut malah sudah menyanyikan lagu seriosa, saya tetap saja lahap, sayuran yang disebut-sebut jangan pun saya santap, pokoknya top markotop nikmatnya.

Tanpa saya sadari, si Susanto memperhatikan saya makan, merasa ada yang memperhatikan, saya menoleh dan dipiringnya hanya ada nasi putih dan sambal. Anehnya pada saat itu tidak mempertanyakan kenapa dia tidak makan sayuran, bahkan si Murkidi sendiri, saking lahapnya tidak hirau lagi dengan dua tamu yang ada dihadapannya :D.

Setelah selesai, kami pamit kembali ke perkemahan. Ditengah perjalanan baru saya ingat, si Susanto tidak makan sayuran yang dihidangkan. Ketika saya tanyakan, dia hanya menjawab, ” aku tidak mungkin makan sayuran itu, ibu Murkidi melarangnya, lain dengan kamu sudah dilarang tetap saja dimakan”.

Beberapa waktu kemudian baru saya tahu, jangan dalam bahasa jawa berarti sayuran, kami bertiga selalu tertawa ngakak jika ingat kejadian itu, apa lagi membayangkan si Susanto makan nasi putih dengan sambal saja. Bahasa, jika salah menterjemahkanya ternyata bisa berakibat fatal.

Pak Drs. Murkidi, Msi dan Lie Sien To (Drs. Susanto), salam untuk anda berdua dan keluarga. Maaf, postingan sederhana ini tidak dikonfirmasi terlebih dahulu.

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari dua orang putu. Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

58 Tanggapan

  1. achoey says:

    wakakak
    emang ya kadang bahasa beda suku beda artinya
    di Jawa Gedang itu Pisang, padahal kalau di Sunda artinya pepaya 😀

    • Aldy says:

      Hehehe….yah, saya pernah mengalaminya mas, tante saya orang sunda. Beliau pernah meminta saya mengambil Gedang di belakang rumah, setelah diambil ternyata saya salah. Yang maksud pepaya (kates), padahal saya mengambil pisang. 🙁

      • Sama dengan bahasa Bali ya om gedang=pepaya.
        Saya sempat bingung pas nanyain anak kecil, tetangga kost “makan apa dik” dengan cedal dia jawab “gedang” siibunya mungkin menangkap kebingungan saya, dan akhirnya menjelaskan, hehe he

  2. DikMa says:

    Ruar biasa pak aldy,
    daya ingat yang luar biasa .. masih ingat aja yaa

  3. ekopras says:

    saya malah gak habis pikir kenapa pak aldy masih juga makan ‘jangan’, nekat juga.

    • Aldy says:

      Mas Ekopras, waktu itu perut betul-betul keroncongan dan sesuatu yang sudah dihidangkan tentunya untuk dimakan 😆

  4. Denuzz BURUNG HANTU says:

    wkwkwkwk … baru tau …
    ini jangan … itu jangan… terus makan apa dong … hehe

    ~~~ Salam BURUNG HANTU ~~~

  5. alief says:

    waduh…., kasian sekali temennya itu ya?cuma makan nasi sama sambel gara gara beda bahasa… 🙂

    • Aldy says:

      Iya mas, mungkin karena kejadian juga, justru kami bertiga jika ketemu selalu ngakak lepas, seakan-akan didunia ini tidak ada masalah 😉

  6. Gugun says:

    itulah kayanya budaya indonesia satu kata saja bisa berbeda makna

  7. Jewelry Tips says:

    He2…Kenangan masa lalu yang indah dan sangat menggelitik. Tapi tadi Aq sempat mengartikan “jangan” memang jangan yang berarti larangan. Tapi setelah melanjutkan ceritanya Aq ternyata tertipu juga. Bisa jadi bahan cerita buat anak cucunya nih pak Aldy.

    • Aldy says:

      Pertama kali mendengan ibunya Mukidi bilang jangan, saya juga sempat heran. Tapi karena lapar dan berkeyakin bahwa yang dihidangkan berarti boleh dimakan, ya nekad saja. Belakangan baru tahu kalau “jangan” dalam bahasa jawa berarti sayur.

  8. Nandini says:

    saya orang Jawa dan besar di Jawa.. jadi “jangan” sudah jadi kosa kata sehari-hari saya. Walau demikian saya kagum dengan keanekaragaman bahasa di Indonesia. Ini betul2 menunjukkan betapa Negeri kita ini kaya SDA dan budaya. Sayang, belom diimbangi secara optimal dengan kekayaan moral dan hati. 🙂

    salam hangat dari Jogja

    • Aldy says:

      Mbak Nandini,
      Budaya nusantara memang sangat kaya, sekarang tinggal generasi berikutnya yang mengimbanginya dengan kekayaan moral dan hati. Generasi sekarang? no comment 😆

  9. asop says:

    Huahahahaha, iya ini salah satu anekdot bahasa daerah yang sering saya dengar sejak saya SD… 😀 😀

    Banyak lagi ‘kan Mas, humor2 bahasa daerah yang salah paham begini? 😀
    SAlah satunya orang sunda dengan orang jawa. “Atos” sunda artinya ‘sudah’, dan “atos” jawa artinya ‘keras’. 😀 Kejadiannya di WC. Huahaha, dulu waktu saya diceritain ama ayah saya, saya ketawa ngakak…

    • Aldy says:

      Iya Mas, selip arti dalam bahasa daerah banyak terjadi dan menghasil anekdot-anekdot. Hehehe…yeah, saya pernah mendengar anekdot “atos” itu. 😀

  10. imadewira says:

    di Bali, “jangan” juga berarti sayur, itu bahasa halus, kalau bahasa biasanya “jukut”

    • yayan says:

      kata apa yang disebut “jukut” maksudnya mas i made wira?
      kalo di jawa “jukut” itu artinya ambil (ada juga kata jupuk)
      jadi jangan = sayur
      dan jukut = sayur (juga)