Jujur itu, mahal!

Tidak pernah diketahui dengan pasti, sejak kapan korupsi di negeri ini diberi predikat yang “membanggakan” yaitu dianggap sebagai budaya. Istilah pahit yang seharusnya mampu membuat pelakunya malu hati. Tetapi apa lacur, pelaku korupsi semakin menjadi-jadi. Dari level yang paling rendah sampai kepada level ultra hight. Jadi, kloplah sudah korupsi layak dianggap sebagai budaya.

Coba tanyakan kepada para pelaku (mungkin diatara kita juga pernah melakukannya), apakah mereka merasa malu melakukan perbuatan tersebut? mungkin hanya malu dimulut, tetapi tidak malu dihati, dengan suara yang garang mereka akan meneriakan berantas korupi, tetapi mereka yang berteriak tersebut justru menjadi bagian terpenting dari mekanisme korupsi yang dilakukan.

Sering mendengar kalimat “yang haram saja susah, apalagi yang halal”.
Kalimat tersebut, secara jelas menggambarkan bahwa perbuatan yang tidak dibenarkan (haram), bukanlah perbuatan yang harus dihindari. Dalam kondisi tertentu, yang haram tetap boleh dimakan!.

Semuanya, berawal dari rasa malu yang semakin luntur, katakanlah pada suatu kondisi, seseorang sangat membutuhkan barang tersebut. Tetapi jika masih ada rasa malu terhadap dirinya sendiri, maka percayalah perbuatan tercela tersebut tidak pernah dilakukan. Sesulit apapun kondisinya.

Mari bertanya kepada diri sendiri (jangan melihat sekeliling), seberapa sering kita memanfaatkan “peluang” yang terbuka? jika diberi skala dari 1 (satu) sampai 10 (sepuluh) berapa pada angka berapa nilai kejujuran kita? Dan jika dijual, seberapa harga yang harus saya bayar? masih berhargakah arti/makna/nilai/inti/kandungan sebuah kejujuran?

Ini bukan renungan ramadhan, tulisan “sontoloyo” hanya sebuah renungan singkat untuk diri sendiri.

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari dua orang putu. Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

70 Tanggapan

  1. Bee'J says:

    Assalamualaikum….
    Maaf, cuma mau ngucapin
    Selamat Idul Fitri …
    Mohon Maaf Lahir dan Batin…

    Kita mulai dari angka NOL lagi yaa…. 😀

  2. AnTiViRuS says:

    keep it real, iight

  3. Cahya says:

    Jujur itu tidak mahal Pak Aldy – IMHO, yang mahal itu adalah hal-hal yang dilirik dengan menutup mata nurani & kejujuran. Coba kalau orang melirik dirinya sendiri secara mendalam, mungkin dia bisa belajar untuk jujur – setidaknya pada dirinya sendiri.

  4. JoO says:

    well kejujuran emang mahal…
    ungkapan “Jujur itu, mahal” saya pribadi kurang begitu suka 🙂 maaf neh..
    kalo “Jujur itu, berani” mungkin saya setuju…
    “jujur itu, mahal” seolah-olah orientasi jujur hanya pada materi semata… hehehe

  5. sunglasses says:

    kejujuran perlu ada dalam setiap individu…tetapi untuk pupuk sifat jujur amat sukar sekali

  6. asop says:

    Walah, skala nilai kejujuran saya…. biarkan hanya saya yang tahu… 😐

  1. 20/02/2012

    […] harus dilalui dan prosedur ini hanya diketahui oleh pihak pertama dan pihak kedua. Istilah kasarnya tahu sama tempe. Kalau bisa diperlambat mengapa harus dipercepat? hmmm…klop. Bukan saatnya menyalahkan salah […]