Keras kepala vs kepala batu

Hari ini, terasa lebih melelahkan dibanding hari-hari sebelumnya. Bukan, bukan karena hari ini Senin, sehingga banyak pekerjaan rumah yang tertumpuk. Tetapi hari ini dihadapkan pada penyelesaian sebuah masalah sederhana, tetapi berubah wujud menjadi tidak sederhana.

Saat masuk kerja tadi pagi, salah seorang mandor angkutan kayu datang menghadap dan melaporkan bahwa kemarin sore, truck angkutan kayu telah menabrak mati seekor asu/anjing dengan kondisi hancur karena terlindas ban truck angkutan (jelas hancur; wong jumlah ban-nya saja 16 (enam belas) buah.

Sebenarnya ini kejadian yang biasa dan diselesaikan dengan damai (ganti rugi dalam bentuk uang tunai). Tetapi kali ini, pemilik ternak anjing, orangnya keras kepala dan sulit diajak kompromi. Tawaran tertinggi yang diberikan sudah mencapai angka maksimal, tetapi yang bersangkutan bersikeras meminta ganti rugi sebesar 1 juta rupiah. (buset, itu anjing apa rusa?)

Karena jalan negosiasi buntu, saya memain jurus perang psikologis. Saya minta dia menunggu, dengan alasan permasalahan ini akan saya sampaikan kepada pimpinan. Setelah kurang lebih selama satu jam, negosiasi dilanjutkan, tetapi apa lacur, dia tetap bertahan. Mati aku.

Setelah beberapa lama bicara dia mulai “melunak”, penggantian kerugian tidak perlu dalam bentuk uang tunai, boleh diganti dengan jenis yang sama, dengan catatan harus persis sama dengan anjing yang ditabrak. Sampai langit jungkir balik juga tidak ada anjing yang sama persis. Emosi sudah naik kekepala. Ini orang, kalau tidak dikerasi sekalian sepertinya tidak akan mundur, strategi mengalah untuk menang ternyata tidak berhasil, bahkan rayuan gombal yang dikeluarkan dianggapnya angin lalu.

Karena persyaratan yang diajukan irrasional, terpaksa saya juga mengajukan permintaan yang irrasional.
“Benar bapak meminta ganti rugi dalam bentuk anjing yang sama persih?”, saya mengajukan pertanyaan konyol dan bodoh. Si Bapak mengangguk dan dari mulutnya terucap “Ya, sama ukuran dan bulunya”. Oh my ghost. “Baik, saya akan mengabulkan permintaan bapak”, saya menjawab dengan pasti.
Teman-teman yang mendengarkan percakapan ini sepertinya menarik nafas dan mungkin dalam hati mereka setengah mengumpat “Dasar si Aldy sudah gila”. Dan si Bapak tersenyum sinis penuh kemenangan, karena tidak mungkin saya mendapatkan anjing yang ukuran dan bulunya sama.
“Tetapi, bapak juga harus memenuhi permintaan saya,” tanpa menunggu jawaban saya melanjutkan “tolong bapak ukur besar anjingnya dan bapak hitung jumlah bulunya, agar saya tidak salah”. Serta merta sibapak menjawab bahwa itu tidak mungkin.

“Baik, kalau permintaan saya tidak mungkin, apakah permintaan bapak juga mungkin saya penuhi?, karena bapak meminta yang tidak mungkin saya penuhi, makanya saya juga mengajukan persyaratan yang tidak mungkin bapak penuhi. Saya hanya akan mengganti sesuai dengan kesepakatan yang sudah ditetapkan dengan surat keputusan kepala desa, lebih dari itu tidak.” Saya nyerocos seperti banjir bandang.

Lama si Bapak terdiam, kesempatan ini saya gunakan kembali untuk menohok lebih jauh.
“Bapak selama ini menumpang kendaraan kami tidak pernah dipungut bayaran satu rupiah-pun, jika dihitung jumlah bapak naik kendaraan gratis dengan harga anjing yang mati kena tabrak, bapak masih berhutang dengan saya”.

Entahlah, apakah karena omongan kasar tadi yang membuat bapak menyetujui ganti rugi yang saya tawarkan, atau karena sikap kepala batu yang saya tunjukan, saya tidak perduli. Yang penting, saya sudah memberikan ganti rugi sesuai dengan Standar Operasional Prosedur tempat saya bekerja dan sesuai dengan Surat Keputusan yang dikeluarkan oleh Kepala Desa setempat. Kok capek? yeah, kesepakatan baru tercapai setelah negosiasi selama 6 (enam) jam. Nasib, nasib. Mengurus yang keras kepala ternyata lebih sulit dari mengurus daging mentah.

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari tiga orang putu (update). Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

87 Tanggapan

  1. Nissa Dwi says:

    anjing itu mungkin jadi binatang kesayangan dia. jadi berharga tinggi. lagian tergntung jnis anjingnya jg si…

    btw..seru jg ceritanya. cuma masalah sepele harus habis 6 jam. fiyuh…

    • Aldy says:

      Jenis anjingnya, anjing biasa mbak. Kalau memang itu anjing kesayangan, mbok ya jangan disuruh berkeliaran dijalan yang nota bene selalu dilalui kendaraan berat.

  2. ok says:

    salut nih pak aldy bisa membalikkan kondisi 😀 bener-bener melelahkannya sampe 6 jam weleh weleh…

    • Aldy says:

      Bukan masalah membalikan posisinya mbak, hanya karena seekor harus nego selama 6 jam adalah prestasi yang buruk.

  3. Mega says:

    ketauan batu siapa paling gede ya Pa’de 😉

  4. pututik says:

    tapi dengan 6 jam berbicara seperti itu pasti panas telinganya, wah wah sama2 keras ya kepalanya 🙂

  5. orange float says:

    masalah sederhana malah berlarut larut gitu negosiasinya. itu bapak maksa banget ya lama-lama bisa terpancing emosi menghadapi orang yang beginian :mrgreen:

  6. zee says:

    Hahahahaaa…
    Ah saya suka dengan cara negosiasi nya Mas. Tapi ya kasihan juga dia karena diungkit-2 soal numpang kendaraan… kejammm kejam hahaa…

  7. ganda says:

    Hahahaha… Satu ngotot gak pakai akal pikiran, dan satu ngotot pakai akal pikiran. Jelas menang bro Aldy yang sudah menggunakan strategi buat membungkan. 😀

  8. itulah kenapa perusahaan selalu saja menyerahkan pada Mas Aldy,
    krn tahu Mas Aldy itu seorang negosiator ulung…… 🙂
    salam

  9. Gugun says:

    solusi yang jitu nih pak, tapi 6 jam itu baru anj*ng ya kalau hewannya lebih besar begimana ya

    • Aldy says:

      Kalau hewannya lebih besar malah negosiasinya mudah mas, karena yang besar masih ada daging yang bisa dimanfaatkan 😉

  10. joe says:

    satu juta untuk seekor anj*ng… wah ….

  11. sabar .. sabar .. 🙂

  12. Fadel | Jelek says:

    Kepala batu 😆

  13. Reza Saputra says:

    wek kekekek *ngakak

  14. Puspita says:

    Emg Beda ya?haha..

    • Aldy says:

      Apa yang beda mbak? Keras kepala dan kepala batu? beda atuh. Jelas lebih keras kepala batu dari keras kepala 😆

  15. Sugeng says:

    Tips yang bagus, nanti akan aku praktekan saat ada teman yang menabrak mati anjing. Uupss ….. tapi disini kalau ada anjing tertabrak malah ditinggal begitu saja 🙁 seperti eleminasi jalanan
    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan