Kopi luwak, kopinya para bangsawan?

Pernah mencicipi kopi luwak?

Para pecinta kopi mungkin akan menganggap belum komplit sebagai pecinta kopi jika belum pernah menikmati kopi yang satu ini. Apa sih hebatnya? Buat saya, menikmati kopi luwak sudah jamak, bahkan sudah menikmati kopi jenis ini kurang lebih tiga puluh tahun yang lalu. Rasanya memang lebih nikmat dibandingkan jenis kopi pada umumnya, tetapi kenikmatan kopi luwak tidak akan sempurna jika sipenyeduh kopi tidak mengerti cara menyeduh kopi yang benar.

Menilik dari sisi harga jual kopi luwak yang sangat mahal, cukup wajar jika kopi ini disebut-sebut sebagai kopinya para bangsawan (dengan asumsi para bangsawan pasti banyak duit), tetapi kadang timbul fikiran iseng, kok para bangsawan sukanya ‘mangan telek?’.

Dulu, ketika saya masih kecil dan berdiam di kampung, setiap pagi nenek berkelayapan dikebun karet untuk mencari biji-biji kopi yang berasal dari kotoran luwak. (biasanya, tanaman kopi ditanam dibawah naungan pohon-pohon karet, hampir sebagian besar, kebun karet diselingi dengan tanaman kopi). Awalnya saya sendiri bingung, ngapain nenek kok begitu repot mencari kotoran luwak, tapi belakangan giliran manggut-manggut, ternyata nenekku suka juga mangan telek luwak.

Proses pembuatan kopi luwak itu sendiri sangat sederhana (jangan samakan dengan proses modern), biji kopi yang berasal dari kotoran luwak, dibersihkan, kemudian dijemur, setelah kering biji kopi dioseng sampai kering berwarna kehitaman dan selanjutnya ditumbuk di penumbukan kayu, setelah cukup halus diayak menggunakan ayakan tepung, sampai didapat dapat serbuk kopi. Sampai pada tahap ini, serbuk kopi sudah siap digunakan dan silahkan menghayal menjadi bangsawan.

Dan sialnya, walaupun sudah sering menikmati kopi luwak, sampai dengan saat ini tetap saja menjadi rakyat jelata, belum pernah merasakan sebagai bangsawan, bahkan ada kalanya aku merasa menjadi orang bodo’ jika mengingat mau nyeduh kopi saja harus menunggu si luwak BAB.

Jadi, benarkah kopi luwak kopinya para bangsawan? tidak 100% benar dan tidak 100% salah, yang benar hanya bahasa iklan saja.

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari dua orang putu. Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

10 Tanggapan

  1. applausr says:

    saya pernah mencoba kopi ini.. mahal banget memang.. tapi memang luar biasa rasanya…

    Tapi buat yang tidak terbiasa, akan ada bau amis yang cukup menyenyat dan mengganggu…

    Bangsawan.. mungkin juga ya khan mahal tuh… kalau di jakarta di cafe cafe setelah minum kopi luwak di kasih sertifikatnya…

    • Aldy says:

      Rasa amis dan bau itu mungkin berasal dari enzim di perut luwak.

      Hahaha…, minum kopi saja kudu dapat sertifkat mas? keknya tuh kafe terlalu berlebihan, atau orang kita yang suka lebay, pamer kalau pernah minum kopi luwak?

  2. Alief says:

    hehhehehe, jadi ketawa sendiri ketika baca bagian “mau nyeduh kopi saja harus menunggu si luwak BAB.”

  3. Dav Dmilano says:

    Saleum,
    Nyeduh kopi biasa aja mas, sambil menikmati kopi maka menghayallah bahwa kita ini adalah bangsawan. hehehe…

  4. untung aku gak suka kopi…minum kopi BAB luwak

  5. Sugeng says:

    Saya pernah merasakan bangsawan mas, dengan mengkonsumsi kopi luwak yang sachet an. Jadi harga menjadi seorang bangsawan cuma seribu 😆

  6. dhenycahyoe says:

    weh….saya belum pernah om minum kopi luwak, meski saya penggemar berat kopi, pernah sih ngopinya luwak, tapi ngopi ditemani luwak sambil ngeliat teleknya, wkwkwkwkwkwk 😀