Kunci Emosimu, Damai Menanti.

fireManusia tanpa emosi tidak lebih dari seonggok daging yang hidup. Kata-kata itu pernah saya dengar dari temannya teman saya. Dan ada juga yang mengatakan bahwa manusia yang selalu dipenuhi dengan emosi seperti bara api, selalu panas dan siap membakar siapa saja bahkan di sertai dengan penyakit darah tinggi. Ada lagi yang bilang, jika ingin kedamaian dan menjadi orang yang besar; kendalikanlah emosi dengan bijak. Mana yang benar ?

Jangan mempertanyakan kebenarannya, tetapi kita coba untuk meng-istropeksi diri sendiri. Apakah masuk kategori kedua, kategori pertama atau kategori terakhir. Kok gitu ? lha diatas kategorinya cuma tiga dink 🙄 Apa topik kita mengenai pengendalian emosi ? Entahlah. Ini berkaitan dengan kejadian tadi sore 😉

Setelah dari pagi di lapangan (puanasnnya poll ), lutut rasanya sudah mau copot, pinggang cenut-cenut…
Tetapi karena belum waktunya pulang kantor, saya putuskan lebih baik masuk kantor saja lagian dirumah juga tidak ada yang dikerjakan.

Belum lama saya duduk, datang seseorang yang tidak saya kenal mengajukan permohonan sumbangan, karena surat permohonan tersebut tidak diketahui oleh Kepala Desa atau Sekretaris Desa, dengan santun (perasaan) saya katakan bahwa sumbangan tersebut tidak bisa saya penuhi karena surat permohonan tidak diketahui oleh Kades maupun Sekdes.
Yang bersangkutan bukannya menerima penjelasan tetapi justru mempersalahkan aparat desa yang tidak ada ditempat, sering pergi dan lain sebagainya.

Dengan menekan perasaan kesal saya katakan bahwa permohonan tersebut akan saya kabulkan setelah aparat desa mengetahuinya, jika tidak dengan berat hati terpaksa saya tolak. Ternyata eh ternyata, dia justru mengeluarkan kata-kata yang membuat kuping saya bersayap dan sudah cenderung menyerang pribadi.

Saya masih mencoba menahan emosi yang sudah melewati ubun-ubun, mungkin (maaf) karena pendidikannya yang rendah sehingga kata-kata yang dikeluarkanya dianggap biasa tetapi saatnya saya harus berkata tegas bahwa yang bersangkutan harus memenuhi dulu persyaratan yang diajukan.

Saya tatap matanya dalam-dalam (hampir kelelep :mrgreen: ), dan saya katakan “Bapak, sekali lagi bapak mengeluarkan kata-kata seperti yang barusan bapak ucapkan, maka bapak akan berhadapan dengan saya secara pribadi. Jangan kira dari tadi saya bicara lembut saya takut dengan bapak. Silahkan bapak urus suratnya dulu, nanti akan saya setujui permohonannya”.
Dia terdiam (sebenarnya saya ingin senyum juga melihat si bapak), kemudian dia langsung permisi pergi. Saya hanya mengelus dada yang tidak bidang ini, jika begini semuanya tidak tertutup kemungkinan suatu saat menjadi sinting.

Mohon sharing dari narablog; apakah tindakan yang saya lakukan sudah digolongkan benar ?

Image : www.sxc.hu

  Copyright secured by Digiprove © 2010 Aldy Markopiola

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari tiga orang putu (update). Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

44 Tanggapan

  1. Cahya says:

    Benar dan salah itu relatif (menurut Enstein), tapi pengalaman membuat orang makin matang untuk menghadapi situasi tertentu, saya saja kadang belum tentu tahu bagaimana mengatasi situasi seperti itu. Dan belum tentu juga putusan saya akan dipandang lebih baik daripada daripada Pak Aldy jika dipandang oleh publik.

    Kembalikan saja pada masing-masing Pak, ndak usah terlalu dipusingkan, nanti kalau perlu toh dia balik lagi – jika syaratnya ada – dan Pak Aldy ndak akan menolaknya kan. Yang mengganjal rasanya mesti disingkirkan dulu agar kita bisa melangkah dengan lebih ringan. (Walah padahal saya sendiri banyak masalah).

    • Aldy says:

      Kalau sumbangan tetap direalisasikan sepanjang persyaraqtannya dipenuhi Mas. Gimana nggak mengganjal Mas, lha wong lagi capek, diminta untuk memenuhi persyaratan wajib saja malah menyalahkan orang lain :mrgreen:

  2. Masdin says:

    Saya gak bisa putuskan mas, apakah sudah tergolong benar atau hampir benar :D, habis saya juga sering mengalami hal yang sama tetapi sepertinya cara saya berbeda 😆

  3. TuSuda says:

    Baik Mas, Teguran simpatik yg lugas nan tegas, wujud kecerdasan emosional…

    • Aldy says:

      Sebenarnya sih nggak sampai hati juga Bli, cuma kalau tidak dikerasin sedikit ntar melebar kemana-mana 🙁

  4. rismaka says:

    Maaf mas OOT, utk blog aldymy.name, coba disetting ulang permalink-nya.

  5. novi says:

    aq hanya mau bilang apa yang aldy lakukan itu … WAJAR 🙂

  6. tary sonora says:

    aku juga pernah mengalami hal serupa mas, memang butuh satu kebijakan hati untuk bersabar menghadapi orang seperti itu.

    • Aldy says:

      Yap, walaupun kadang bertentangan dengan hati kecil, tetapi dengan sangat terpaksa harus dilakukan juga.

  7. Hakim says:

    kalo memang orang itu mengeluarkan kata-kata yang tidak baik, saya anggap tindakan pa aldy ada benarnya.

  8. si Paijah says:

    kadang butuh jembatan menyampaikan “sesuatu “, karena tidak semua dapat dengan mudah menyerap sesuatu itu seberapa tahu kita akan seseorang pasti ada gap (usia, pendidikan,cara pandang, pergaulan apapun itu) yang kadang membuat kita hanya melihat dari sisi kita, CMIIW

    ah jadi serius kunjungan pertamax saya di sini, salam kenal

    • Aldy says:

      Saya sih berharap, gertakan saya bukan jembatan tetapi hanya sebuah titian rapuh saja. Takut juga jika setiap orang harus melalui jembatan tersebut, ujung-ujungnya saya yang terserang stroke.

  9. Harry says:

    Konon khabarnya,… eh bukan ding.
    Khabarnya, sifat emosi, gampang marah memang sudah kodratnya manusia dan sangat manusiawi sekali. Tapi menurut beberapa penganut vegetarian, sifat itu bisa diminimalisasi dengan mengkonsumsi protein nabati, sayuran lebih banyak dibanding protein hewani, daging.

    Karena, daging itulah yang menyebabkan sifat buas, kebinatangan manusia muncul dalam bentuk emosi dan rasa marah.

    • Aldy says:

      Tidak termasuk kedalam golongan vegetarian Mas, kayaknya lebih cocok kepada golongan pemakan segala 😀
      Saya percaya kepada kemampuan pengendalian diri saja mas, kalau emang sudah dari sononya berangasan dan kendali emosinya rendah, ya tetap saja temperamenya tinggi :mrgreen:

      • Harry says:

        Om Aldy,… Sebenarnya siapa sih yang bikin frase "Tunjukkan Taringmu" ?. Emosi juga nich :mrs-green: 😀 😀 Apa perlu nich acara amplas taring biar gak punya rasa emosi lagi ? 🙂

        • Aldy says:

          Yo jangan diamplas, ntar nggak bisa nguyah paha ayam goreng lagi;
          kan ada juga pepatah yang mengatakan “harimau tersenyum menunjukan taringnya”,
          atau ingat arjuna kalau marah ? kan cuma senyum doang 😉

  10. delia says:

    Kalo Pak aldy yakin itu benar.. maka itu memang benar ^_^

    Karena lia gk tau gimana persis percakapannya…. tp lia mungkin pernah mengalami hal yang sama… yahhh mereka suka mancing2 dgn alasan gk ini lah itulah.. padahal kan maksud nya bukan itu… lia akan melakukan hal yg mirip dengan pak aldy walau ucapannya berbeda…
    Klo ama mereka2 itu .. pake emosi gak ada untungnya juga…wajah malah makin tua… wekekekek

    • Aldy says:

      Tentu saja saya meyakininya mbak Delia,
      Yap, intinya memang memancing emosi dan kalau kena kail kita sendiri yang harus makan umpannya 🙄

  11. rismaka says:

    Ups maaf, tadi datang tapi langsung kabur 🙂

    Sikap mas aldy menurut saya udah tepat kok. Karena mas aldy udah menerapkan kelemah lembutan terlebih dahulu. Tindakan mas aldy yg tegas menurut saya cukup wajar dan perlu dilakukan agar org tsb mengerti akan sopan santun.

    Kalau hal itu menimpa saya, kemungkinan saya tidak akan sebijak mas aldy deh. Mungkin akan saya damprat abis2an tuh orang 😆

  12. cempaka says:

    waduh.. saya ga bisa kasih komen pak 🙂 sy merasa ga punya porsi untuk menjwabanya 🙂 *masih kecil soalnya*apa hubungannya???? xixiix

  13. rismaka says:

    O iya mas. Saya baru tahu kalau hari ini adalah hari tembakau. Hmm… kek ada sesuatu yg menyuruh saya komen di sini deh.. Hmm.. tapi apa ya.. :mrgreen:
    *nagih utang

    • Aldy says:

      😉 kena dah.
      Kebetulan juga hari kita di sarankan untuk tidak merokok atau membakar tembakau dilingkungan kerja, tapi masih ada yang melanggar. Saya coba mas, anggap puasa dink, kan ntar setelah jam 18:00 boleh lagi 😆

  14. Deka says:

    Dari kacamata saya sich Om, kayaknya udah pass deh. sabar, lembat lembut dulu, masih gak ngerti juga bari boleh agak keras dikit, masih gakmempan, berarti pengennya keras beneran nie. heheheheh

  15. Deka says:

    Kalo saya sich om, sering gak nemu kunci emosinya. udah dicari-cari tetep aja gak ketemu. mungkin karena da keturunan dna dari orang tua sich punya watak keras. Tanpa pendidikan yang selama ini saya jalanin, mungkin saat ini saya sudah mendekam dalam penjara.