Maaf, ini pilihan saya.

Beberapa waktu yang lalu saya pernah menulis bahwa Distro Linux membuat saya bingung, bukan hanya bingung karena saking banyaknya tetapi karena saya juga memang belum mendalami linux ( pernah mencoba Suse dan Kannopix ), sudah familiar dengan Windows akhirnya saya memilih tetap menggunakan Windows.

Tetapi belakangan ini saya kembali tertarik dengan Linux, terutama setelah putri saya yang pertama menggunakan Ubuntu Karmic Koala. Kemudian saya mendapatkan informasi yang detail dari Mas Dhani dan dari Gadgetboi. Mas Dhani bahkan secara spesifik menjelaskan beberapa hal yang mungkin saya butuhkan dikemudian hari. Kalau Gadgetboi lebih mengompori agar saya menggunakan Linux.

Ada banyak Distro Linux yang saya miliki saat ini, mulai yang kelas berat sampai ke versi portable. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya mencoba memutuskan untuk menggunakan Ubuntu versi 8.1 Desktop. Masih belum murni, karena di Laptop masih ada Windows XP dan Windows 7. Artinya ada tiga OS pada satu mesin.

Beberapa waktu yang lalu, datang seorang teman ( kita panggil Sang Programmer ), dia melihat saya asik dengan linux dan ketika dia tahu yang saya gunakan Ubuntu 8.1 dengan nada sedikit sinis (mungkin perasaan saya saja), mengatakan bahwa Linux saya sudah ketinggalan, lebih baik mengunakan bla…blaa…blaaa…. Saya lebih memilih diam, tapi karena merasa dirinya lebih pintar (mungkin), sang programer memberikan masukan sebaiknya menggunakan ini, itu, sana, sini, situ….., puiiiih mumet juga akhirnya.

Saya tahu dia memang programmer dan dia menguasai bahasa C++ serta pintar. Tetapi dalam kasus ini, saya the owner, orang yang paling berkuasa terhadap laptop saya dan isinya. Kemudian saya tanyakan ke Sang Programmer, Distro apa yang paling bagus. Tetapi jawaban yang diberikan kepada saya juga tidak memuaskan. Kesal juga akhirnya. Akhirnya saya matikan laptop saya.
Kesimpulannya :

  • Jangan memaksakan pendapat anda, sekalipun dia adalah teman. Pengetahuan teman mungkin terbatas, atau mungkin dia lebih menguasai dari kita tetapi memilih untuk tidak memamerkan kelebihannya.
  • Hormatilah perbedaan pendapat, karena setiap orang memiliki hak untuk mempunyai pandangan dan pendapat yang berbeda.
  • Jika teman anda memiliki opini yang berbeda dengan kita, biarkan dan hargai opininya karena anda tentu juga mau opini anda dihargai orang lain.
  • Perbedaan ini hal yang lumrah, jangan jadikan perbedaan pandangan sebagai senjata kita tidak bergaul dengan teman yang lainnya.

Kita hidup dalam sebuah lingkungan sosial dan kita harus siap menghapai perbedaan. Bukan hanya perbedaan pendapat tetapi perbedaan lainnya sehingga kita tidak sulit untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar.

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari dua orang putu. Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

55 Tanggapan

  1. dani says:

    Linux itu pilihan. Semua distro Linux, sistem operasi (Windows, Mac, FreeBSD, openSolaris, dll), sama baiknya sesuai kebutuhan dan kemampuan. Menurut saya, tidak ada distro yang paling bagus. Untuk Linux, batasnya hanya pengguna itu sendiri. Terserah tuh sistem Linux mo dijadiin seperti apa, untuk apa, sesederhana apa, secanggih apa.

    Untuk distro Linux tertentu, yang memiliki versi tertentu, patch security updates biasanya dibatasi 1-2 tahun setelah rilis terakhir distro tersebut–sehingga saya menulis tentang distro rolling release itu. Kecuali semacam Ubuntu LTS yang didukung lebih lama.

    Kebutuhan dan selera tiap pengguna Linux berbeda. Ada yang suka KDE, GNOME, Xfce, LXDE, dll. Jika memungkinkan, kenapa tidak memakai yang terbaik dari semuanya? Menggabungkan yang terbaik dari masing-masing fitur. Jika ruang harddisk memungkinkan. Tanpa harus menjelekkan pengguna dan pilihannya. 🙂

    Btw, distro apa yang disebut paling bagus versi sang programmer? 😀

    Selamat ber-linux, Pak. 🙂

    • Aldy says:

      Benar Mas, Linux memang sebuah pilihan. Mengapa saya memilih linux ?
      Pertama, saya mengajarkan kepada putri-putri saya agar menggunakan open source ( walau mereka baru pada tahap pengguna ), tidak lucu saya meminta mereka menggunakan linux sementara yang menganjurkan masih ber-Windows ria.
      Saya akui saya lebih senang menggunakan ubuntu, karena ada fitur-fitur yang membuat saya tertarik, walau pada awalnya saya tertarik dengan Fedora. Tetapi setelah tahu Fedora itu adalah proyek uji coba dari Fedora Enterprise, saya memilih Ubuntu seperti yang disarankan oleh Gadgetboi. ternyata sangat menarik.
      Sang programmer menyarankan saya menggunakan Suse atau Fedora ? ops, ternyata setelah saya mencari referansi keduanya hanyalah proyek ujicoba untuk kelas yang lebih tinggi.
      Kalau koneksi pribadi saya sudah menggunakan linux ubuntu 8.1 desktop, walau saya masih direpotkan dengan codec sepertiyang mas Dhani sampaikan tempo hari.
      Terima kasih mas. I start using Linux now.

      • dani says:

        Saya pribadi kurang setuju jika produk Fedora dan openSUSE dikatakan ‘versi trial’ dari RedHat Enterprise Linux (RHEL) dan SUSE Linux Enterprise (SLE). Apalagi jika isu itu masih saja disebut oleh pengguna Linux yang lain. Belum lagi ‘isu kepentingan’ kerja sama SUSE dengan Microsoft.

        Saya, kutu locat distro, pernah sebagai pengguna Fedora dan openSUSE untuk beberapa bulan. Filosofinya, kedua produk itu dikembangkan oleh komunitas. Sehingga memungkinkan mengemas fitur terkini. Agak berbeda dengan versi komersilnya yang didukung support resmi. Versi komunitas hanya didukung komunitas, kecuali meminta support berbayar. Versi komersil malah bisa menyokong kegiatan komunitas dari segi pendanaan. Pengguna yang tidak sabar menanti fitur terbaru, memilih memakai versi komunitas.

        Ubuntu memiliki dukungan dana berlimpah. Ubuntu juga bagus. 🙂 Jika tidak, tidak mungkin sedemikian populer.

        Kalau pun ada benchmark antardistro dengan setelan default/standar, semua hasilnya bisa berubah karena perlakuan/setelan penggunanya. Karena, ya itu, batasnya hanya pengguna itu sendiri. Pis ya, Pak. 🙂

        • Aldy says:

          Pis mas Dhani,
          Ach…dokter blog yang satu ini selalu saja memberikan masukan yang luar biasa buat saya. Memang Fedora 11 yang saya miliki bukan versi trial dan setelah saya bongkar sourcenya ternyata superlengkap. Bahkan sampai pada File PDF reader juga disediakan. Suse Linux yang saya terima beberapa waktu yang lalu menyertakan 8 CD wah saya sampai kebingungan apa saja isinya kok sampai delapan CD. Informasi ini saya dapatkan dari beberapa sumber, walaupun Fedora 11 menjadi prioritas saya yang pertama akhirnya saya memilih ubuntu walaupun masih versi 8.1 desktop. Jatuhnya pilihan ini terus terang untuk mengimbangi sang puteri saya yang sudah menggunakan ubuntu karmic koala.
          Tadi sore ada teman menyarankan, sebaiknya saya memulai dari yang versi light seperti Puppy Linux. Dan jujur mas Dhani, saya baru tahu kalau Fedora itu ada yang versi komunitas, karena yang saya dapatkan Fedora itu proyek dari Red Heat untuk enterprise. Jadi membuat saya menjadi ragu.
          Saya akan mencoba menggunakan trik mas Dhani dengan pola Hybrid, karena kebetulan saya sangat menyukai warna biru dari Fedora. Cuma trik yang belum saya dapatkan.
          Terima kasih mas Dhani, betapa senangnya mendapatkan input dari teman yang hanya dikenal di Dunia maya melebihi teman yang ada direalita. Saya akan terus “merecoki” mas Dhani dan Gadget boi jika saya kesulitan. Semoga keduanya tidak berkeberatan. 🙂

          • dani says:

            ah saya bukan master, saya pemula [titik] (mas choen, ada yang kena titik lagi..) 😀

            Fedora waktu bernama Fedora Core (sekarang ‘Fedora’) memang basis dari RHEL. Tapi sekarang filosofinya berbeda. Seperti juga openSUSE. Beberapa paket yang dulunya hanya dikembangkan di lingkungan komersil RHEL dan SLE (misal YaST), kini dilepas ke komunitas. 🙂

            Jika masih penasaran dengan alasan memilih distro, tiap situs distro linux biasanya punya halaman khusus: “why [nama distro]”. 🙂 Misal: why ubuntu, why fedora, why opensuse, dll.

            Kalau tidak ada akses Internet, dan berharap pemutakhiran berkas statis dari medium CD/DVD repo, Debian paling banyak arsip koleksi reponya, ada belasan kalo ngga salah.

            Selamat bertugas, Komandan. 🙂

  2. dani says:

    btw, saya belum ngecek pingback di dasbor. ini feeling maen ke sini aja, Pak. makasi apresiasinya. 🙂

    • Aldy says:

      Apakah ini layak disebut apresiasi mas ? bukankah mas Dhani yang memberikan masukan ? saya hanya ingin pengunjung blog ini jika kesulitan bisa langsung kesumbernya dan bertanya disana. Kenapa ? bukannya ingin merepotkan, tetapi saya hanya berfikir alangkah lebih baik jika rekan-rekan yang ingin tahu lebih banyak linux justru mendatangi masternya ?

  3. Aldy says:

    Terima kasih masukannya mas, saya yang berterima kasih dengan Mas Dhani telah memberikan masukan dan saran kepada saya.

  4. gak bisa komentar krn gak ngerti Linux, UBUNTU atau apalah.
    yang penting bisa apdet blog saja sudah syukur.
    maaf ini komentar orang gaptek stadium lanjut, Mas Aldy.
    salam.

    • Aldy says:

      Ha…ha…ha…, emang kalau tidak mengerti linux lantas menjadi Gaptek Bunda ?
      Wah buang jauh-jauh fikiran itu deh, blognya bunda justru memberikan manfaat dari sisi yang lain. Keluarga saya sudah menjadi pelanggan tetap di Blgnya bunda, walau dia bukan tipe yang suka memberikan komentar. Sukanya cuma “curi ilmu” dari blog yang dianggapnya baik. Tapi biarlah saya yang mewakili memberikan komentar.

  5. Kakang…. memang kl mendengarkan orang lain akan tambah pusing dalam memilih distro linux. Karena rata2 sysadmin, server admin punya distro favorite sendiri dan biasanya mereka itu orang2 yang kaku, dan sering mengeluh jika menemukan kenyataan distro lain tidak sama / beda dengan distro yang sering mereka gunakan… saya sering mengalami dikantor saya… karena disini berkumpulnya orang2 gila linux. 🙂

    Berkaca pada kenyataan itu akhirnya saya menentukan sendiri distro pujaan hati, tapi so far sering selingkuh sih ama distro2 lain, karena memang pada bening2 sih kakang…