Maaf, The Time Is Over.

Ilustrasi | ignorenomoreapp.com

Ilustrasi | ignorenomoreapp.com

Triiiiinnnggg……triiinnnngggggg…..trrinngggggg….,
Handphone paling canggih didunia yang saya miliki saat itu berbunyi perlahan, antara mau dan tidak mau berbunyi. Maklum saja, selain usianya yang sudah ujur, typenya pun mungkin sudah tidak ada dipasaran (ada yang punya Motorolla W220?).

Saya perhatikan, nomornya asing, karena tidak terdaftar pada phonebook. Karena saya memiliki kebiasaan, setiap nomor HP/Telepon Rumah teman selalu saya masukan kedalam phonebook. Karena asing, saya biarkan.

Tidak lama kemudian handphone antik itu berbunyi lagi dan saya perhatikan nomornya sama dengan nomor sebelumnya. Hmm…berarti orang yang sama. Ach, bodoh. Saya hanya membiarkan telepon tua itu berbunyi dan beteriak dengan suara parau.

Ternyata, sipenelepon tidak bosan, handphone tuaku kembali berbunyi dan masih dengan nomor yang sama. Karena penasaran juga, akhirnya saya angkat,
“hallo….”, sunyi tak ada jawaban.
“hallo…., siapa ini?”, saya mencoba membuka pembicaraan.
“Maaf, ini dengan Aldy?”, terdengar suara merdu seorang wanita diseberang sama. Dadaku tiba-tiba turun naik tidak keruan, seperti saya sangat mengenal suara ini, tetapi siapa?
“Ya betul, saya sendiri…”, saya menjawab. “Maaf, kalau saya boleh tahu saya bicara dengan siapa ya?”, saya meneruskannya dengan pertanyaan.
Diam, tak ada jawaban dari seberang sana. Saya perhatikan Handphone saya, masih terkoneksi.
“Hallo, dengan siapa ini?”, saya kembali mengulang pertanyaan sebelumnya. Tetap sunyi tak ada jawaban. Karena jengkel saya akhirnya bilang.
“Ibu, tante, mbak, nona…saya akan putuskan koneksi ini kalau anda tidak menjawab pertanyaan saya”.
“Abang lupa dengan saya?”, saya dengan suara dari seberang. Wow, abang? siapakah engkau? tentu saja saya tidak tahu siapa kamu. Ach..bodoh, saya diam saja. Mungkin karena saya diam dia meneruskan kalimatnya kembali.
“Saya…[cencored/demi menjaga kerahasiaan/mohon maaf]…”, jantung saya serasa ingin copot.
Sekian tahun kamu menghilang tanpa bekas, sekian tahun kamu membiarkan aku menjadi pungguk yang merindukan bulan. sekarang kamu telepon saya…dan hey…dari nama dia tahu nomer Handphone-ku?
Dengan segenap kemampuan, aku mencoba menahan debar didadaku. Dan dengan bahasa yang coba dihalus-haluskan, saya menjawab.
“Oh…kamu, apa kabar?, kirain siapa….”, karena tak ingin dia tahu apa yang saya rasakan. Dengan congkaknya saya bilang ” Maaf ya..[cencor], saya masih ada yang ditangani, ntar saya telepon lagi. ini nomor hpmu kan ?”.
Saya langsung mematikan HP saya. Saya merenung. Ada apa sebenarnya? kenapa setelah sekian lama menghilang tiba-tiba menghubungi saya? dan dari mana dia tahu nomor HandPhone saya?

Ah sudahlah, dia hanyalah masa lalu. Semuanya sudah terlambat. Saat ini saya sudah memiliki 3 wanita cantik yang saya cintai dirumah. Dan mohon maaf, dengan segala kerendahan hati saya tidak dapat menerima telepon kamu lagi. Bukan karena sombong, bukan karena angkuh. Tetapi sebaiknya tidak. Jangan sampai dech terjadi Cinta Lama Bersemi Kembali, bisa runyam dunia dan akhirat.

Berjalanlah kamu dengan langkahmu kawan. Biarlah aku melangkah dengan langkahku sendiri. Jalanilah hari-harimu, seperti aku menjalani hari-hariku. Dan ketahuilah The Time Is Over.

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari dua orang putu. Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

58 Tanggapan

  1. intan rawit says:

    wah kena sensor kang askimet lagi deh rupanya saya,,hiks

    • Aldy says:

      Sudah saya lepaskan kok dan sudah saya kasih tahu, lain kali kalau mbak intan yang comment jangan diganggu,…he…eh..he….

  2. Pensioner says:

    Selamat pagi sahabatku.
    Saya berkunjung untuk berkenalan dan silaturahmi serta menyerap ilmu disini.
    Saya juga ingin memperkenalkan blog yang baru soft opening yaitu Pensioner.
    Sebagai newbie mohon masukan,kritik dan saran dari para senior agar blog saya ini menarik dan bermanfaat
    Terima kasih, salam hangat dari Surabaya.

    • Aldy says:

      Selamat datang di rumah mungil saya Mas Pensioner, Insya Allah saya akan berkunjung dan memberikan masukan, bila perlu kritikan. Why, karena saya udah ngeh, walaupun mengakun new be, Mas saya yang satu orang yang sangat terbuka dengan kritikan.

  3. ceuceusovi says:

    hihihihi… di sapa masa lalu ya mas… dia mungkin mo bilang : ‘aku menyesal dulu meninggalkanmu.. oh..pliss..maafkan aku..’ heheheh.. kalee…

    sip mas… walau mungkin hanya akan bersilaturahim, tp sebaiknya jangan deh..3 wanita cantik di rumah pastinya juga ga nyaman.. mungkin..

    *btw..nomornya gpp dihapalin, maksudny biar ga diangkat klo ada telp lagi dr nomor itu.. bener ga mas ? 🙂

    • Aldy says:

      Iya nih Teh Ceuceusovi, beberapa hari yang lalu…
      penyesalan tidak pernah datang duluan teh. Lagian sudah tidak ada gunanya kan ?
      Sebaiknya memang jangan Teh, ntar kalau 3 dara dirumah tahu bisa jadi film 2012 menjadi kenyataan ha…ha..ha…, tidak juga untuk dihapalin teh, khawatir saja bukanya menghindari nantinya malah kebalik mencari….hi…hi…hi..