Makan harus Nasi !

Dalam perjalanan kali ini banyak hal yang saya jumpai, diantaranya masih melekat kuat dalam budaya kita bahwa kata “makan” sangat identik dengan nasi. Dan saya merasa paradigma tersebut harus sudah mulai diubah. Peranan ini mungkin bisa mulai oleh rekan-rekan yang kebetulan dari bidang medis dan bertugas dipedalaman ( maaf, bukan bermaksud melemparkan tanggung jawab ). Karena paradigma ini seharusnya secara perlahan harus dikikis. Bahwa kata makan tidak harus identik dengan Nasi.

Waktu melakukan perjalan beberapa waktu yang lalu, kami harus singgah dibeberapa desa dan dusun, dan kali ini tiba didusun pertama yang akan kami kunjungi ( maaf, saya tidak menyebutkan dusunnya; khawatir ada salah tafsir dibelakang hari ).


Sudah menjadi kebiasaan saya jika melakukan perjalan kepedalaman selalu berbekal jajan pasar ( bakwan, korket, lumpia atau getuk lindri; saya yakin semua tahu makanan ringan yang saya maksudkan tersebut; jika ragu silahkan tanyaknya dengan Mbak Yanti ).

Saat memasuki dusun, saya duduk di sejenis kursi panjang yang ada dihalama, tetapi terbuat dari log ulin (tebelian ) dengan diameter kurang lebih 30 cm. Ketika lagi asik mengaso, dengan memandangi rerimbunan pohon, saya melihat anak kecil ( berusia kurang lebih 2 atau 3 tahun ) menghampiri saya. Melihat rona wajahnya saya menduga jika sianak dalam kondisi lapar. Karena kasian, saya tawari bakwan. Dia mengangguk dengan segala keluguannya yang membuat saya gemas ingin mencubit pipinya yang agak pucat.

Saya sodori satu buah, tak disangka dia langsung duduk didepan saya. Jujur saja saya teringat putri kecil saya yang saat ini sudah kelas lima SD. Dengan lahap dia menghabiskan bakwan tersebut sampai-sampai pipinya belepotan. Dan tanpa terasa saya tersenyum simpul. Saya keluarkan lagi satu buah lumpia dan kembali dengan lahapnya dia menikmati makanan tersebut. Setelah habis saya lihat dia masih belum beringsut dari tempat duduknya dan terus memandangi rangsel yang saya bawa.

Hmmm….dua buah jajanan belum membuat dia kenyang. Dari tatapan matanya dia sepertinya masih menginginkan makanan lainnya. Karena kasihan sekali lagi saya berikan lumpia dan wow…betapa lahapnya. Ach kamu putri kecil, apa kamu tidak pernah menikmati makanan itu ? saya membatin. Melihat pakaian yang dikenakan cukup bersih dan sisiran rambut yang rapi saya menduga siorang tuanya mungkin memiliki pengetahuan yang cukup. Setelah habis, saya tawari lagi. Ternyata sekali ini dia menggeleng. Mungkin sudah cukup kenyang. Sayangnya, bicaranya masih kurang jelas dan menggunakan bahasa daerah yang tidak sepenuhnya saya pahami. Sedang asik-asiknya kami bercengkrama, tiba-tiba saya mendengar seorang ibu berteriak memanggil sebuah nama dan wow…wow…putri kecil dihadapan saya ketakutan. Agar dia tidak semakin takut saya bimbing dia mendatangi sang ibu yang berteriak tadi. Rupanya sang ibu marah kerana si putri kecil pergi ketika sisuruh makan.

Oh my God, anak sekecil itu ternyata disuruh makan sendiri. Dan saya dengar di ibu ngomel, ” Kalau sudah besar mau jadi apa kamu, disuruh makan nasi tidak mau, maunya kue saja”.

Terus terang, saya ingin mematahkan pendapat sang ibu, tetapi karena khawatir terjadi kesalahpahaman, saya diam saja. Dari kejauhan saya lihat di putri kecil menunjuk-nunjuk kearah saya, mungkin maksudnya ingin menjelaskan jika dia sudah kenyang karena sudah menikmati kue yang saya berikan. Tetapi si ibu ternyata lebih cuek dari bebek, dia tetap memaksa anaknya makan. Karena dari pagi belum makan nasi.

Hmm…jika sudah masuk perut walaunpun sedikit, ternyata nasi identik dengan makan. Baru dikatakan makan jika perut terisi dengan nasi. Entahlah, apakah saya yang berfikiran kelewat maju dan tidak mampu menyesuaikan dengan lingkungan dalam waktu singkat. Atau paradigma ini memang masih melekat disebagian besar masyarakat kita.

Sayangnya saya tidak sempat mengambil gambar, karena kamera dibawa oleh rekan lainnya.

Rekan-rekan punya pendapat ? Mohon sharingnya dong 😉

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari tiga orang putu (update). Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

77 Tanggapan

  1. fanz says:

    hahaha iya bener banget om. Kalo saya makan itu ya nasi, bukan roti ato yang laennya 🙂

    • Aldy says:

      Ya…ya…
      Kalau makanan rutin memang nasi, tapi kalau perut sudah penuh dengan bakso 2 mangkok masak harus dijejali dengan nasi lagi ?

  2. fansmaniac says:

    iya, kalo gk makan nasi katanya belum dianggap uda makan hehe… tapi bener juga sih, kadang kalo saya sendiri gk afdol kalo seharian gk ada makan nasi… dan itu juga menjadi tertanam di memory otak kalo gk makan nasi merasa lapar terus 😀 :mrgreen:

    Salam Blogger

    • Aldy says:

      Fansmaniac,
      Mungkin lebih terdorong karena faktor kebiasaan, jika tidak ada asupan nasi sehingga dianggap tidak makan.
      Tapi yakin dah, kalau sudah dua mangkok Mie Tiau masak masih lapar ?

  3. Bang Dje says:

    Sebagian bangsa Asia memang “memilih” nasi sebagai makanan pokoknya. Dan namanya makanan pokok kalau belum disantap, walaupun sudah melahap makanan yang lain, belum makan namanya.
    Saya jadi teringat ketika jamaah haji Indonesia ada yang tidak kebagian nasi. Merekapun banyak yang kelimpungan. Padahal dari informasi yang saya peroleh ternyata kalau sekadar untuk mengisi perut masih tersedia roti yang jumlahnya sangat banyak. Dan dibagikan secara gratis.
    Saya mungkin juga akan merasakan hal yang sama. Sudah kebiasaan kali ya. Dan untuk mengubah kebiasaaan tidak akan semudah membalikkan telapak tangan.

    • Aldy says:

      Benar Bang Dje,
      Semuanya bermula dari kebiasaan.
      Nasi memang sudah menjadi makanan pokok bagi kita, tetapi ketika si “lumbung” sudah penuh, saya fikir janganlah dipaksakan untuk diisi dengan nasi lagi 😉

  4. and1k says:

    kalo buat saya pribadi pak sebagai rakyat indonesia tulen emang bener pak makan ya harus nasi . kalo makan roti saya rasa bukan makan pak tapi jajan ya soalnya dah cinta banget ama yang namanya nasi

    • Aldy says:

      Nggak salahnya kok 😉
      yang salah itu kalau perut sudah penuh dengan jajan apa harus dipaksakan makan nasi ?

  5. JhezeR says:

    Perut orang indonesia umumnya mmg kenyang dg nasi, gak dg mkanan laen..

    • Aldy says:

      Tidak ada yang salah kok dengan makan nasi karena kebiasaan ( bukan budaya ) kita memang makan nasi. Tetapi tidak semua warga indonesia makan nasi, sebagian warga kita di Irian Jaya dan Papua Barat mengkonsumsi sagu dan umbi-umbian sebagai makanan pokok.

  6. ebisanya sih td mesti tergatung sm nasi y om pasti ada sesuatu yg sama nilai gizinya dr nasi itu sendiri……..wah tumben nich blue pintar…….hehehe
    salam hangat dari blue

    • Aldy says:

      Kebanyakan kita memang tergantung pada nasi dan itu tidak salah.
      Blue memang pintar kok, buat cerita selalu berseri…awas ntar tak copas trus dijadikan novel.

  7. nuances pen says:

    Perut kita sudah terbiasa dengan nasi! Jadi yang namanya makan ya sama nasi!

  8. Acara makan sebaiknya bersama anak-anak sambil pengawasan dan membiasakan anak makan dengan menu yang benar dan bergizi! Jajanan sekali-kali aja!

    • Aldy says:

      sebaiknya memang seperti itu, tetapi keterbatasan pengetahuan dalam mendidik anak, membuat para ibu dipedalaman tidak memahami esensi kebersamaan makan dengan anak-anak.

  9. nuansa pena says:

    Lumpianya mana, aku suka!

  10. andipeace says:

    😀 kalo makan bubur kebanyakan orang cina, kalo makan roti + keju kebanyakan orang barat alias bule tapi kalo makan nasi, itu baru indonesia banget 😀 herannya lagi.kenapa ya kalo waktu makan selalu diam ga berisik, ironinya habis makan terkadang ada merasa ngantuk dan terkadang ada yang merasa tambah semangat 😀

    salam sejahterah
    OM izin linknya saya pasang diblogrol sahabat saya ya OM

    • Aldy says:

      Andi,
      Saya juga keturuna China tapi jarang makan bubur kecuali kalau sakit :lol:,
      disini, kalau habis makan ngantuk dijuluki ular sawa ( Phyton ).
      Silahkan Brur, saya lagi uji coba plugin untuk memasang link sahabat juga neh.

      • andipeace says:

        😀 kenapa ya OM kalo lagi sakit itu disarankan makan bubur 😀 bener-bener ga mengerti saya..oke OM link terpasang 😀

        • Aldy says:

          Nggak ngerti juga sih Andy,
          Mungkin karena pada saat sakit kondisi pencernaan kita juga lemah.
          Yang lebih tahun Mas Dani, Mas TuSuda juga mas Cahya Legawa.

  11. narno says:

    dulu saya juga begitu, kalau belum makan nasi ya belum kenyang, tapi sekarang tidak lagi, apapun yang masuk ke mulut jika sudah terasa kenyang maka tak lagi makan nasi

  12. Epenkah says:

    mungkin maksudnya nasi yg sudah dilengkapi dgn lauk dan sayur mas Aldy, krn sumber protein & vitamin tentunya tdk bisa didapatkan si anak dari jajanan spt kue dsb.

    Halah.. sok tau bgt sih aku nih 😀 😀

    • Aldy says:

      Boleh-boleh saja kok, tapi tunggu sampai si anak lapar dulu. Sudah 3 buah jajanan pasar, menghilang dalam perut masih harus dijejali dengan nasi ? Ampun dah.

  13. rismaka says:

    Sama seperti halnya ibu saya, bahwa kalau makan itu harus dengan nasi. Sekalipun kita udah makan roti sebakul, tetap saja belum bisa dikatakan “sudah makan” 😀

    Untungnya saya udah gede, jadi mau makan nasi ataupun ubi juga ga akan dimarahin lagi, ga kayak dulu waktu jaman SD.

  14. rismaka says:

    Mas, blog yg aldymy.name itu kok ga bisa dibuka ya? Satu hosting atau ga? Kalau satu hosting dg blog ini ataupun indohijau, seprtinya harus dicek lagi deh nama servernya (NS).

  1. 06/04/2010

    […] didusun yang sama dengan sebelumnya, setelah siputri kecil pergi, saya menghampiri seorang bapak yang sudah cukup berusia; mungkin sekitar 50 tahunan. Saya tanyakan […]