My Big Family : Bhineka Tunggal Ika.

Pada tanggal 25 Desember 2009, Umat Kristiani diseluruh dunia akan merayakan Natal.  Yang terbayang di depan mata adalah pohon Natal, Kado, perasaan suka cita, kebahagian dan kumpul bersama dengan keluarga.  Kiranya tidak perlu jelaskan lagi arti natal tersebut karena semua juga sudah tahu jika Natal dalam perayaan keagamaan umat Kristen berarti merayakan Lahir Yesus Kristus ke Dunia.

Loh, Pak, Mas, Bang, Om, Dek…Aldy kok menceritakan Natal ? memang merayakan Natal juga ?

Pribadi saya memang tidak merayakan natal, karena saya penganut Islam.  Walaupun bukan penganut yang baik.  Tetapi saya masih ingat ketika waktu kecil dulu, jika sudah mendekati Natal, semua keluarga berkumpul dan menghiasi rumah dengan apa adanya.  Biasanya kami membuat pohon Natal dan Gua Maria.  Dan saya paling senang mengerjakan/membuat Gua-nya, mungkin bagi yang lain sulit, tetapi bagi saya itulah pekerjaan yang paling mudah.

Kebetulan, keluarga besar saya terdiri dari berbagai suku dan agama.  Tetapi perbedaan itu justru membuat setiap hari raya menjadi meriah dan ramai.   Setiap hari raya keagaamaan kami selalu diwajibkan oleh orang tua ( terutama bapak ) agar berkumpul bersama dirumah beliau.

Kok bisa ? Pertanyaan ini mungkin terasa aneh untuk sebagian orang tetapi tidak untuk lingkup keluarga saya.  Bapak orang yang sangat moderat bahkan cenderung liberal dalam urusan kepercayaan kepada Yang Maha Esa.

Mari sama-sama kita lihat ke-bhineka-an dalam keluarga saya :
Bapak saya berasal dari Suku Dayak sub suku Daya Ransi Dakan, Ibu Pertama ( istri bapak yang pertama; sudah berpulang kerahmatullah (kami menyebutnya Ibu Pertama)) dari suku Dayak, setelah Ibu Pertama berpulang Bapak menikahi Ibu Kandung saya yang berasal dari keturunan Cina Campuran ( Kakek Dayak dan Nenek Cina ).

Kami semuanya enam bersaudara, tiga saudara dari Ibu Pertama dan tiga saudara dari Ibu Kedua. Bapak Penganut Katolik yang  baik, sementara ibu walaupun sudah menganut Katolik tetapi tradisi China-nya masih sangat kental, kami anak-anaknya wajib berkumpul jika tiba hari Raya Imlek.

Sementara anak-anak beliau setelah dewasa dan masing-masing berkeluarga; juga menganut agama yang berbeda-beda.
Abang yang paling tua, tetap  menganut Katolik karena dia menikah dengan yang seagama.
Kakak Perempuan Nomor dua, menikah dengan I Made Gusti Sudana yang menganut Hindu dan Kakakpun mengikuti Abang memeluk agama Hindu. Saat ini Kakak saya di Denpasar.

Abang Yang Nomo Tiga, menganut Protestan dan menikah dengan Kakak dari suku Cina.
Saya sendiri Menganut Islam walaupun tidak bisa digolongkan kedalam kelompok Islam yang baik ( muslim ?), istri dari Jawa timur.
Adik perempuan saya yang pertama juga menganut Islam dan menikah dengan Laki-laki dari suku Jawa (Jawa Tengah).
Adik perempuan saya yang nomer dua, tetap menganut Katolik mengikuti orang tua dan mendapatkan suami yang satu Agama.

Bingung ? Aneh ? Kami sekeluarga justru sangat mensyukuri keberagaman ini, makanya setiap hari besar Agama kami selalu berupaya untuk berkumpul. Tetapi seiring berjalannya waktu, kebersamaan ini ada kalanya tidak dapat dijalan seperti dulu lagi. Terutama Kakak dan Abang yang di Denpasar. Makanya Natal tahun ini pun merupakan kemeriahan buat saya dan keluarga. Saya memang tidak pulang, tetapi istri dan anak-anak tanggal 24 Desember 2009 nanti sudah pasti berkumpul dirumah Kakek dan Neneknya.  Dan bersama-sama mendengarkan Merdunya lagu “Malam Kudus”.

Rekan, Sahabat Blogger yang merayakan Natal, pada kesempatan ini saya Mengucapkan Selamat Hari Raya Natal.  Semoga kita diberkati dan menjadi insan blogger yang bermanfaat bagi sesama.

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari dua orang putu. Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

28 Tanggapan

  1. ganda says:

    Bhinneka Tunggal Ika banget ya bang. Tidak pulang ke kampung halaman kah? Saya sendiri sebenarnya ingin pulang ke kampuang, tapi cuti tak cukup memadai.

  2. nakjaDimande says:

    Bundo juga punya sobat yang dalam keluarganya menganut beragam kepercayaan tapi tetap rukun, karena kepercayaan adalah hak pribadi masing-masing maka sudah sewajarnya kita saling menghargai. Rasulullah SAW mengajarkan itu pada kita semua.

    • Aldy says:

      Ada suka dan dukanya juga bunda. Yang pasti kalau menjelang hari raya selalu ramai. Dukanya, sejak kakak pindah ke Denpasar kalau ngumpul jarang komplit seperti dulu lagi.
      Saya sungguh berterima kasih kepada-Nya karena diberikan orang tua yang tidak mendikte putra-putrinya terlalu berlebihan. Bahkan saya masih ingat, ketika SMP saya memeluk Islam beliau hanya berpesan “Ingat baik-baik, ingin masuk surga tidak cukup hanya dengan masuk Islam”, Subhanallah.

  3. Deka says:

    waaahhhhhhh bener-bener Bhineka Tunggal Ika om dan ditambah tut wuri handayani (ala). heheheh..

    • Aldy says:

      Yup, secara tersirat sebenarnya sikap Tutwuri handayani sudah ditunjukan oleh Bapak dan Ibunda kami. Kalau Deka Handayani mungkin masih harus saya bawa kelaboratorium dulu untuk diuji keabsahanya 😆

  4. semoga tetap rukun y bang
    salam hangat selalu

  5. guskar says:

    keberagaman agama di keluarga saya sih dari pihak kakek dan nenek saya mas. paman2 dari nenek pertama (saya punya 3 nenek tp kakeknya satu 😛 ) merayakan natal, keluarga kakak nenek saya imlek-an, lainnya merayakan idul fitri. dulu ketika generasi kakek nenek masih ada, pada ketiga perayaan tsb rumah kakek nenek ramai, pd kumpul semua.
    **btw, mas aldy blm infokan alamat ke mana saya kirimkan kado acara MTBI?

    • Aldy says:

      Begitulah sebuah silsilah Gus, kadang saya sering mendengar teman-teman saya mengatakan suku ini begini, agama itu begitu. Sementara dalam lingkungan keluarga saya tidak pernah menyinggung hal-hal seperti itu.
      Ops…ntar saya kesana, sekalian ambil oleh-olehnya.

  6. ceuceusovi says:

    wuih… saya membayangkan bagaimana rasanya punya keluarga besar dengan berbagai suku dan agama… bagaimana indah kebersamaannya..bagaimana nuansa saling menghormati lebih terasa di sana…. hebat mas.. keluarga besar saya paling dari dua suku saja..sunda dan jawa 🙂 dengan satu agama, islam. benar kata bundo, bahwa kepercayaan adalah hak prerogatif masing-masing individu…tidak ada alasan untuk saling menjelekkan… salam buat keluarga besar ya…

  7. Aldy says:

    Wah Asik Ceuceusovi, pokoke ramai sampai-sampai ibu pernah bilang, kalau sudah kumpul semua seharusnya pasat malam ditiadakan saja. Dan Insya Allah, bulan Januari 2010, keponakan saya akan menikah dengan Lelaki Ganteng yang kebetulan bersuku Sunda. Makin Komplit Dah. Insya Allah saya sampaikan.

  8. sudah terbayang kemeriahan dan kemesraan antar agama yg akan terjadi nanti di dlm keluarga besar Mas Aldy.
    disini benar2 dapat disaksikan indahnya kebersamaan.
    Kita memang hrs selalu saling menghormati kepercayaan masing2 orang, dan Rasulullah pun mengajarkan begitu.
    Salam.

    • Aldy says:

      Benar bunda, kemeriahan memang selalu terpancar dari keberagaman.
      Ini semua memang berkat didikan Bapak dan Ibu juga, merekalah yang mengajarkan kami (kita semua), menghadapi/menjalani kehidupan ini. Dan kami tidak pernah mempertanyakan kepercayaan masing, bahkan jika sedang kumpul dan terdengar Azan biasanya abang atau kakak akan bilang “hayo yang dipanggil, silahkan duluan…” hiks…, secara tidak langsung kami disuruh sholat. Salam Bunda.

  9. Deka says:

    Maaf OOT, cuma pengen…. [duh lupa,tar aja deh]

  10. blue tak merayakan natal namun blue berharap beberapa postnya blue mengenai natal is bentuk keakraban blue pada semua sahabat
    salam hangat selalu

  11. saiful says:

    nah kali ini baru tahu saya dengan p aldy. Dibilang dayak, dialek jawanya kuat kalo bicara. Dibilang jawa, secara fisik nampaknya lebih dekat k dayak/cina, sesuai lokasi lahir. Eh trnyata istrinya org jawa…
    Sy sendiri lahir dan dibesarkan di ligkungan islam yg kuat (gada yg nanya sih, hehe) , belajar keberagaman ya di SBK.
    Salut dengan keberagaman di keluarga….

  1. 13/02/2010

    […] masih merayakan imlek dan betapa menyenangkan memiliki kelurga yang sangat beragam (baca kembali My Big Family Bhineka Tunggal Ika ). Dan perayaan Imlek memang sudah menjadi tradisi dalam keluarga saya, sehingga apapun yang […]

  2. 26/12/2010

    […] Image Source : Maaf, saya lupa linknya. Tetapi saya sudah meninggalkan komentar pada blog tersebut, jika image-nya saya gunakan. Mohon konfirmasi, jika ada yang tahu. TQ. Rekan-rekan blogger, saya sendiri sudah berpuluh tahun yang lalu tidak merayakan Natal. Penasaran? silahkan baca kembali arsip lama. […]

  3. 26/02/2012

    […] ? Maklum saya sendiri sudah berdarah campuran antara Cina dan Dayak, Yang belum tahu baca kembali My Big Family, Bhineka Tunggal Ika. Karena sudah hybrid kepekaan jadi […]