Naturalisasi

burung garudaBeberapa waktu yang lalu, ramai terdengar bahwa beberapa pemain sepakbola dari negara lain tetapi berdarah keturunan Indonesia akan direkrut menjadi pemain nasional dan harus melalui proses naturalisasi. Entah bagaimana kelanjutannya, sekarang malah sepi.

Dalam menjalankan tugas didaerah terpencil, jauh dari keangkuhan modernisasi kota, tingkat pendidikan yang rendah memaksa saya melakukan naturalisasi dalam pengertian yang lain.
Dalam kondisi seperti ini salah satu langkah yang wajib dilakukan adalah membaur dengan pola kehidupan dan adat istiadat setempat. Dengan cara ini lebih mempermudah untuk melakukan komunikasi, jika komunikasi sudah lancar, maka untuk melakukan pendekatan, jauh lebih mudah.

Beberapa langkah sudah dilakukan, diataranya :

  • Belajar bahasa,
    Untuk menguasai bahasa pada suatu daerah tentu butuh proses dan perjuangan. Dan tidak mungkin dilakukan secara instan. Dan ini sangat sulit, karena hampir setiap sungai, kelompok suku dayak memiliki bahasa yang berbeda. Perbedaan tersebut terkadang hanya intonasi pengucapan, tetapi ada juga yang berbeda semuanya, dialek maupun arti setiap kata. Ini belum termasuk kata-kata yang saling bertentangan.

    Percuma saja menggunakan bahasa teknis yang terdengar canggih, karena mereka tidak mengerti. Menggunakan kata-kata sederhana lebih mudah mereka pahami. Masalahnya, pada banyak kejadian, sering kesulitan mencari padanan kata yang cocok.

    Salah satu trik agar cepat menguasai sebuah bahasa, yaitu dengan mempraktekannya langsung. Jangan takut salah. Hajar saja, urusan belakangan.

  • Adat istiadat setempat,
    adat istiadat tidak terlalu sulit, hampir pada setiap daerah memiliki adat istiadat yang mirip dengan daerah lainnya. Namun demikian ada hal-hal tertentu yang harus menjadi perhatian, contohnya minum baram. Pada suatu daerah, jika disuguhi barem, gelas yang digunakan untuk minum baram jangan diletakkan kembali dalam posisi normal, karena dengan begitu berarti kita mengisyaratkan agar baram dituangkan kembali (tambahan). Gelas harus ditelungkup sebagai tanda kita tidak kuat minum baram.

    Tetapi pada daerah lainnya, jangan pernah menelungkupkan gelas baram yang diminum, karena dengan menelungkupkan gelas baram yang digunakan, berarti kita secara tidak langsung menantang tuan rumah untuk menyediakan baram yang lebih banyak. Jangan ragu untuk mengatakan tidak, karena tuan rumah tidak akan memaksa kita untuk minum jika kita mampu memberikan penjelasan yang rasional.

  • Menceburkan diri dengan lingkungan,
    Salah satu cara yang baik, menyatukan diri atau menceburkan diri dengan lingkungan (tentu dalam batasan-batasan yang wajar), dengan cara ini kita akan dianggap seperti keluarga. Dalam kondisi ini, serumit apapun sebuah masalah, sangat mudah dicarikan jalan keluarnya.

Dalam pandangan garis besarnya, dimana bumi dipijak disitulah langit dijunjung. Mungkin, rekan-rekan memiliki cara lain?

  Copyright secured by Digiprove © 2010 Aldy Markopiola

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari dua orang putu. Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

32 Tanggapan

  1. usagi says:

    pagi om…..eh salah deng siang (^_^)
    yup..dimana langit di pijak di situ bumi di junjung..
    kayak pepatah minang yak…

    belajar beradaptaasi dan gak ngerasa mentang..mentang dari kota
    trus jadi sok hebat…

    kalau aku pulang kampung..aku juga ngomng pake bahasa minang..
    walaupun bahasa minang ku intonasinya ancur..tapi itu lebih baik
    daripada sok betawi.. (^_^)

  2. mm.. apa yah, bs aja dgn cr bljr kebudayaan Indonesia misalnya πŸ˜€

  3. Jeprie says:

    Baram tu apa?

    • Aldy says:

      Sejenis minuman keras, terbuat dari ketan yang difermentasi. Seperti tapai ketan yang diambil airnya.

  4. Saya setuju dengan peribahasa itu Pak Aldy. Saya sempat merantau 3 tahun di kabupaten lain (masih di Bali), tapi banyak perbedaan. Semua hal diatas menjadi hal wajib jika ingin “diterima” di daerah baru yang belum pernah kita kunjungi. Dan jangan pernah bersikap angkuh, karena kita bukan siapa-siap di daerah mereka.
    πŸ™‚

  5. tyan says:

    kalau masalah nanturalisasi pemain bola…
    jika memang perlu sepertinya bisa dilakukan…,

  6. Malam Om….

    Belum ada goresan indah..
    Masih lembur di kantor…..
    πŸ˜€

  7. budiarnaya says:

    Bang…di footer themes abang kan terpasang logo p, nah ditempatku kan tak ganti, saya mohon maaf kayaknya itu melanggar hak cipta dech, sebaiknya saya bagaimana? memasangnya kembali atau gimana (ngak enak banget sama Abang) heee

  8. Masbro says:

    Saya sependapat dengan kalimat sakti itu Om, dimana bumi dipijak disitulah langit dijunjung. Menghargai tata aturan yang berlaku di tempat dimana kita berpijak, itu sangat bijaksana..

  9. Sahabat Blogger says:

    hmm…saat saya di MKS dulu jg seperti itu, harus bisa berbaur dengan masyarakat sekitar…tapi kalo minum seh masih bisa ditolak dengan halus. orang sana paling suka main domino, sampe akhirnya sy juga bisa main domino..hehe