Nokan Sengkumang (Senggumang), Saksi Bisu Rusaknya Lingkungan Karena Pembalakan Yang Salah.

nokan-sengkumang-2

Pembalakan hutan dengan cara serampangan dan mengabaikan prinsip-prinsip pemanenan hutan secara berkesinambungan, pada akhirnya hanya menyisakan sejarah kelam kerusakan hutan dan pencemaran lingkungan. Nokan Sengkumang terletak di kaki pegunungan Muller-Schwaner, menjadi saksi bisu rusaknya hutan dan lingkungan dikarenakan cara pemanenan yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah kelestarian.

Nokan Sengkumang (Air Terjun Sengkumang), terletak di Sungai Sakai, anak Sungai Ambalau, Desa Nanga Kesangei, Kecamatan Ambalau, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Untuk mencapai lokasi, bisa ditempuh (starting point Pontianak) menggunakan jalur darat (naik bus selama 12 jam) sampai di Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi.

Dari Nanga Pinoh perjalanan dilanjutkan melalui jalur air (menumpang speedboat 40Hp selama 5,5 jam) sampai bagian hilir nokan, dilanjutkan berjalan kaki selama 30 menit melalui jalan setapak dengan kondisi hutan masih muda dan medan berbukit. (menurut penduduk setempat, jalan kaki hanya ditempuh sebatang rokok).

Dalam perjalanan menuju nokan, kita akan disuguhi betapa besarnya kekuasaan Illahi dan alam, gemuruh air dan tumpukan batu-batu gunung memenuhi sungai. Alur sungai hanya mungkin dilalui ketika sungai banjir besar, itupun terputus hanya sampai di Nokan.

Setelah tiba ditempat tujuan, pengunjung disambut sebuah petajahan, lokasi yang biasanya digunakan oleh masyarakat sekitar untuk melakukan ritual niat yaitu mengajukan permohonan kepada “penunggu nokan” dengan memberikan sesajen dan pembuatan patung-patung kecil yang ditanam sekeliling petajahan. (Sssstttt…saya dapat bisikan, katanya ada juga pejabat yang datang ke Petajahan tersebut minta sesuatu) Selain itu ada beberapa buah sampan yang sengaja ditinggalkan oleh pemiliknya, jika suatu saat hendak ke bagian hulu sungai sampan sudah tersedia.

Gemuruh air dan hijaunya lingkungan sekitar membuat mata teduh, walaupun harus disesali pohon-pohon yang terdapat disekitar nokan merupakan pohon-pohon muda yang merupakan hasil proses hutan meremajakan dirinya setelah pohon-pohon tua sebelumnya habis ditebang.

Ketika saya tiba di nokan, pagi harinya ternyata hutan, alhasil air terlihat sedikit keruh, sedimentasi lumpur yang menempel pada batu menambah kekeruhan warna air.

nokan-sengkumang-3

Dibagian kepala Nokan terlihat endapan lumpur yang cukup tebal, menurut penduduk setempat, dulunya sudah ada endapan lumpur tetapi tidak setebal setelah dilakukannya pembalakan hutan. Ini bisa dimaklumi, karena sungai yang melintantasi nokan bukan sungai berpasir. Pada keseluruhan permukaan pinggir sungai yang tampak hanya batu alam yang besar dan tanah.

Masih terlihat sisa-sisa kegiatan pembalakan, dibagian hilir tampak satu buah logs yang cukup besar dan kondisinya sudah membusuk. Masyarakat sekitar mengakui, mereka masih berusaha untuk menghidupi keluarga dengan membuat bahan bangunan berupa balok dan papan. Mereka sadar bahwa yang mereka lakukan bertentangan dengan hukum, tetapi jika tidak mereka akan kesulitan memenuhi hajat hidup, sementara pemerintah daerah hanya sebatas melarang dan menghimbau tanpa disertai dengan solusi.

Saya tidak menemukan adanya mesin menambang emas di sungai Ambalau maupun sungai Sakai, inilah salah satu sebab mengapa sungai-sungai ini jernih pada saat tidak hujan. Selain itu, informasi yang saya dapat menyebutkan ternyata kedua sungai hampir bisa dikatakan tidak mengandung emas.

Belajar dari kenyataan diatas (kembali hijaunya sekitar Nokan), jika pembalakan tidak dilakukan dengan sembarangan, menjaga kelestarian hutan bukan keajaiban. Kemampuan tumbuh memperbaiki diri dapat dilakukan hutan dengan cukup baik, terlepas dari hilangnya beberapa spesies, jika dibiarkan bertumbuh kembang, bukan mustahil hutan disekitarnya kembali seperti semula. Semoga.

Di Kabupaten Sintang, izin HPH 100 Ha dimungkinkan setelah terbitnya Keputusan Bupati No. 19/1999, tentang Pemberian Izin Hak Pemungutan Hasil Hutan Melalui permohonan dengan luas Maksimal 100 Ha. Izin dapat diberikan kepada Koperasi, Kelompok Tani maupun perorangan. Tujuannya memberikan kesempatan kepada masyarakat sekitar hutan terlibat langsung dalam pengelolaan sumber daya hutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tapi yang terjadi hanya memperkaya segelintir orang, kerusakan hutan dan lingkungan serta masuk penjaranya si pembuat keputusan. Mikhael Abeng di Penjara Mantan Bupati Sintang Ditangkap
Tulisan ini pernah di muat di : Kompasiana, tanggal : 17 Mei 2015.

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari dua orang putu. Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik