One More Time: First Love

Pada tulisan Last Love, saya membahas singkat mengenai hal ini. Beragam jawaban dari rekan-rekan blogger, tetapi intinya first love (bertolak belakang dengan judulnya :D), memberikan kesan yang mendalam. Tidak terlupakan.

Saksi-saksi sah? saya yakin jika ada saksi pada saat itu dan kita tanyakan pastilah semua saksi akan menjawab sah, bahwa cinta pertama itu berkesan, indah, dan tak terlupakan. Pertanyaanya, saya sudah berkeluarga, punya istri cantik dan dua putri yang lebih cantik lagi mengapa menanyakan cinta pertama?

Pernahkah rekan-rekan mendapati teman/sahabat yang selalu ingat cinta pertamanya sampai dia hanyut dan sepertinya enggan memikirkan/memiliki cinta kedua, ketiga dan keseribu? mungkin tidak, mungkin juga ya.

Salah seorang teman sampai dengan saat ini belum menikah (usianya hampir sama dengan usia saya). Dan ketika hal tersebut ditanyakan dia selalu mengatakan belum berani memikul tanggung jawab menghidupi anak gadis orang. Ops…, saya sahabatnya, jadi saya tahu persis apa yang terjadi dibalik tragedi ini. Saya kenal dengan dia sejak masih belum sekolah. Sang teman orangnya periang, selalu ceria dan tiada hari tanpa canda tawa.

Ketika kami sama-sama duduk dibangku Sekolah Lanjutan Menengah Atas, diantara semua teman hanya saya sendiri yang masih jomblo dan pada saat itu seringkali digelari “banci”, baru pada semester 4 saya juga punya teman wanita (katakanlah pacar). Semua hubungan berlanjut sampai kami menamatkan SLTA, bertahun kemudian saya mendengar sang teman tidak lagi berhubungan dengan pacarnya tanpa saya ketahui dengan jelas alasan putusnya hubungan tersebut. Dan sejak itulah saya ketahui, sang teman lebih memfokuskan dirinya pada karier sampai dengan hari ini. Sikap focus yang tidak sia-sia, karena dia saat ini jauh lebih mapan dari sisi ekonomi dibandingkan saya, tetapi tidak berani menikah.

Mungkin karena sifatnya yang sangat perasa selain bawaannya yang periang memberikan andil yang besar terhadap keputusannya. Tetapi selain itu saya yakin, type laki-laki super setia seperti dia akan terus-menerus ingat dengan orang yang pernah dekat denganya. Setahu saya, pacar waktu di SLTA tersebut adalah wanita pertama dan terakhir dalam perjalanan cintanya. Saya pernah mengingatkan, usia sudah tinggi dan saatnya mengubur kenangan tersebut dan mencari pasangan yang sesuai, tetapi selalu ngakak mentertawakan saya (anehnya, saya tidak pernah sakit hati), dan selalu dilanjutkan dengan kalimat bahwa dia belum siap bertanggung jawab terhadap anak gadis orang lain.

Rekan-rekan blogger, adakah saran dan pendapat mengenai hal ini?

Semoga sahabat yang “menggantung diri” untuk tidak menikah tersebut membaca tulisan ini. Tidak ada unsur benci, marah atau apapun dalam tulisan ini. Dan saya tidak ada maksud meminta bantuan rekan-rekan blogger untuk membenarkan pendapat pribadi saya. Kita memang beda keyakinan (agama), tetapi jika sudah mampu, lebih baik menikah setidaknya untuk menghidari syak wasangka yang tidak baik.

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari dua orang putu. Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

25 Tanggapan

  1. Ari says:

    hhmmm….setidaknya beliau, (teman om aldy) belum mengetahui bagaimana rasanya menanggung anak gadis orang, jadi kalo belum dicoba, mana kita tau? ya kan? hehe
    sok taunya keluar…padahal aku juga blm nikah, tapi kan masih berondong, hihihi

  2. Fadhly says:

    Wah…kalau masalah cinta pertama, ya g mungkin bisa saya lupakan begitu saja pak aldy..hehe :mrgreen:

  3. Fadly Muin says:

    faktor penyebabnya bisa juga karena “firs love complex” bisa juga karena faktor efek gaya hidup mas Aldy.

    atau karena kombinasi keduanya, maka sahabat tsb menemukan semacam ritme nyaman dan aman. sehingga peluang untuk berfikir lebih serius ke arah hubungan sakral, terasa lebih jauh.

    apalagi kehidupan ekonomi semakin mapan, semakin selektiflah.

    yang bisa merubah pendiriannya hanyalah sebuah “guncangan bathin” yang menuntutnya untuk segera menemukan pasangan jiwanya..

  4. Abu Ghalib says:

    Cinta pertama memang indah, tetapi sikap orang seperti teman Mas Aldy itu menurut saya sudah keterlaluan. Menyesal atau kecewa itu boleh, tetapi kalau sudah berbulan2 bahkan bertahun2, itu sangat merugikan diri-sendiri. Itu pertanda orang pecundang. Kalah dengan situasi dan kondisi. Dan sebenarnya, cinta tanpa ikatan pernikahan itu hanya ilusi, hanya kesenangan sesaat yg tiada arti. Cinta yang sejati adalah cinta yang diikat dalam bingkai pernikahan.

    Buat saya sendiri, cinta pertama memang asyik, tetapi setelah memiliki cinta yang terakhir, maka cinta pertama sudah saya lupakan, karena memang itu hanya masa lalu.

    Topiknya menarik Mas, komennya jadi panjang begini, maaf ya… 😀

  5. gw doank says:

    betul mas, cinta pertama itu memang dahsyat, nggak heran banyak orang yang ngerasain sakit yg luar biasa saat kehilangannya.
    tapi kalo ngikutin perasaan terus, ya gitu…bagai katak dalam tempurung.
    mendingan keluar dari genggaman duka, melihat keindahan dunia yang lain.