Pekerjaan = Hobby

Setiap individu pastinya membutuhkan pekerjaan jika sudah tiba waktunya atau butuh pekerjaan karena tuntutan ekonomi dan tanggung jawab terhadap keluarga. Banyak diantaranya masih dalam usia sekolah tetapi sudah harus banting tulang membantu orang tua memenuhi kebutuhan keluarga, sehingga kemudian muncul anggapan orang tua meng-eksplotasi anak. (huhh…)

Kita tidak akan membicarakan eksplotasi anak, atau ada teman yang bekerja diusia sekolah untuk membantu ekonomi keluarga, tapi kita akan berdiskusi mengubah pekerjaan rutin yang kita jalani saat ini menjadi hobby, apakah bisa ?
Jawabannya Bisa.

Cara yang paling mudah mengubah kewajiban menjadi kesenangan adalah menjalaninya dengan perasaan senang, singkirkan perasaan keterpaksaan terhadap pekerjaan yang anda jalani. Apakah ini bertentangan dengan teori ? atau lebih tepatnya anti teori ?

Seberapa sering anda mendengar nasehat, sebaiknya bekerja sesuai latar belakang pendidikan, bekerjalah sesuai dengan waktu normal, bekerjalah di perusahaan yang mampu membayar keahlian anda dengan harga yang wajar, dan seterusnya sampai kuping anda sumbat ?

Ini pengalaman pribadi, bagaimana saya menjalani pekerjaan yang saya saat ini dengan perasaan senang dan sampai pada akhirnya saya menganggapnya sebagai hobby, asyik nggak ?
Perlu diketahui basic pendidikan saya sebenarnya dibidang ekonomi, sektor kehutanan saya dapatkan kemudian. Dan saat ini saya lebih banyak berkutat pada bidang Administrator Jaringan ( hardware ), bayangkan saja saya tidak pernah memiliki dasar-dasar pengetahuan dibidang TI sebelumnya. Selain itu saya juga merangkap sebagai senior staff general affair dan pekerjaan pokok sebagai MM Log Department. Bayangkan hanya pekerjaan terakhir saja yang mendekati basic pendidikan saya.

Apakah saya menjalaninya dengan bahagia ? Jawabannya sudah pasti YA/YES.
Selain karena tanggung jawab sebagai kepala keluarga yang mengharuskan saya mencari nafkah untuk mereka, alhamdulillah saya diberikan anugerah oleh Yang Maha Kuasa sebagai orang yang sangat mudah menyenangi beban pekerjaan yang diserahkan kepada saya. Inilah salah satu penyebab saya bekerja tidak pernah mengenal waktu.

Pertanyaannya sampai kapan ? saya justru kembali bertanya apakah rekan-rekan pernah bosan dengan hobby yang dijalani ?
Ach…pertanyaan dibalas dengan pertanyaan. Oke deh kita sama-sama sharing yuk, kolom komentar kosong tuh minta tanggapan 😆

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari tiga orang putu (update). Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

46 Tanggapan

  1. rismaka says:

    Sampai kapan? Jawabannya simpel mas, sampai saya mati 😆

  2. Cahya says:

    Hmm…, rasanya saya termasuk yang memisahkan antara hobi dan pekerjaan 🙂

    • Aldy says:

      Maksud saya, pekerjaan yang dijalani sekarang ini dijadikan semacam hoby untuk mengurangi tingkat kejenuhannya Mas.
      Kalau hobby dalam pengertian yang sebenarnya ya harus dipisahkan dengan pekerjaan, kan nggak lucu mengoperasi pasien dijadikan hobby 😀

  3. febriyanto says:

    ada kalanya hobi itu melewati fase2 bosen, di dalam pekerjaan jg iy sepertinya, sekolah juga sama… hheh

    • Aldy says:

      Febri, kan bisa di akali dengan melakukan kegiatan lain yang menyenangkan ? sepanjang tidak melupakan yang utama ( sekolah ? ).

  4. narno says:

    saya juga Mas, basic pendidikan saya biologi non pendidikan, kini berkutat dengan dunia pendidikan kadang masih diminta juga membantu matematika dan kimia, tambahan lagi pekerjaan yang sesuai hobi banget adalah ngobrak-abrik huruf di media pesantren

    • Aldy says:

      Yang penting pekerjaan mas Narno sekarang membuat senang dan tidak membosankan. Dengan begitu kita bisa fokus dan menikmatinya seperti hobby.

  5. ganda says:

    Pekerjaan saja adalah salah satu hobby saya juga. Maklum, maniak coding, selain maniak manga dan maniak lainnya, termasuk maniak kuliner. 😀 😆

    • Aldy says:

      Kalau bro Ganda sih emang hobby dan menu sehari-harinya coding mulu.
      Tapi sekali lagi saya ingatkan, jangan sampai kirim sms sama doi juga dengan menggunakan bahasa c++ 😉

      • ganda says:

        Hahaha… Bahasa C++ memang belum bro. Tapi QuickBasic, PHP dan Java udah pernah. Jujur loh. Ngirim sms ke dia pakai 3 bahasa ini udah pernah. Hahahaha… Bahkan awal2, pernah ngirim puisi a la programmer. 😀 Hahaha.. Gak tahu deh apa responnya. 😀

        • Aldy says:

          😀 wah…wah… kalau dianya mengerti sih nggak apa-apa dan pastinya diterima dengan senyum (ach, nggak kecut kali…).
          Kalau kena saya mungkin akan saya retur sms-nya 😀

          • ganda says:

            Yah, pastinya mengerti. Tapi yang puisi itu sepertinya kurang di mengertinya. Hahaha.. soalnya campur2 dengan bahasa hacker juga. 😀 wkwkwkwkwk… Apalagi saat itu dia baru tahu programming. Hahahaha…

            Oh. Pernah juga saya kirim SMS pakai bahasa pemrograman(lupa bahasa apa), sama seorang yang mengaku ‘cewe’ dan sering menggangu saya. Sok kenal sok dekat gitu deh bro. Akhirnya saya kirim sms setelah saya enkripsi, abisnya orang yang ngaku cewek ini pakai bahasa yang “alay” yang bikin sakit mata saya. Hahaha…. dia ngebalas, “itu apaan sih? aku gak ngerti”. Wkwkwkw… Ku balas juga, decrypt aja sendiri. Wkwkwkwkwkw.. Bwahahahaha.. Puas deh ngerjain balik orang mau kenalan dengan cara seperti itu.

            • Aldy says:

              Berarti bahasa Alay dibalas dengan bahasa program yang di enkrip ? cocok tuh bro, yang satunya sakit mata sementara yang satu buta aksara…ha….ha….ha….

              • ganda says:

                Hahahaha… Setelah itu, si ‘dia’ gak berani menggangu lagi. Mungkin kapok. Hahahaha

  6. aming says:

    setuju pak, dengan menganggap pekerjaan sebagai hobi, insya alloh semua beban akan terlewatkan dengan mudah

    • Aldy says:

      Aming,
      Iya mas. Semuanya akan terasa ringan dan enteng mengerjakannya, walaupun ada kalanya bosan, tetapi lebih banyak asyiknya.

  7. fety says:

    masih belajar, pak, untuk bisa menganggap perkerjaan sebagai hobi..

  8. gak bisa kasih komen, krn dah pensiun 🙁
    dulu sih,iya, kerja rasanya seneng banget ,kebetulan hobi jalan2 gratis , eh kerjanya jalan2 terus, dan dibayar lagi 😀 😀
    salam

    • Aldy says:

      Bunda malah enak sudah pensiun dan hebatnya tidak mengalami post power syndrom.
      Karena hobby-nya jalan-jalan berarti sekarangpun bunda sesekali masih dong jalan-jalan.

  9. Achmad Allam says:

    Terus terang saya punya pekerjaan dengan basic yang memang sesuai, tetapi jujur saja tidak begitu happy nih, soalnya ada hal-hal yang kadangkala bertentangan dengan prinsip-prinsip pribadi. Dunia kerja berbeda dengan waktu sekolah, langsung berhubungan dengan personal-personal dengan berbagai macam keinginan, watak, ambisi, prinsip, dan lain-lain. Tetapi meski demikian, relax & enjoy………….! Have a nice blogging!

    • Aldy says:

      Mas Achmad Allam,
      Banyak juga rekan-rekan yang bekerja sesuai dengan basic pendidikan tetapi mereka justru merasa tertekan karena bertentangan dengan nurani. Bahkan ada salah satu teman yang berlaku ekstrim beralih profesi menjadi petani, padahal dia-nya lulusan STIE Perbanas. Dan karena dijalaninya dengan happy, alhamdullillah kehidupannya saat ini mungkin lebih mapan dibandingkan jika di bekerja di Bank atau lembaga keuangan.
      Kuncinya memang relax dan enjoy…

  10. Masdin says:

    Saya yakin hobby masih bisa mengalami perubahan. Waktu beranjak remaja saya hobi nonton dan berlangsung beberapa tahun tetapi sekarang tidak hobi lagi…. hehehe

    Jadi semuanya masih akan berubah karena tidak ada yang abadi melainkan perubahan itu sendiri 😀

    • Aldy says:

      Ops, yang abadi memang perubahan itu sendiri Masdin.
      Sementara kita akan selalu ikut berubah cepat atau lambat. Tapi inti postingan diatas adalah apakah kita bisa menganggap pekerjaan rutin yang kita jalani saat ini sebagai hobby sehingga walaupun tidak sesuai dengan basic pendidikan yang kita miliki tetapi kita mampu menjalaninya dengan enjoy.

  11. budiarnaya says:

    Kalu tidak salah maksud bang Aldy mungkin bagaimana kita mencintai pekerjaan itu sama dengan mencintai hoby itu sendiri ? tujuannya satu yaitu senang dan tidak jenuh.
    kadang kala berkutat dengan pekerjaan membuat kita jenuh, nah saat itulah diluangkan waktu mengisi hoby.
    Mengenai bosan dengan hoby ? terkadang hoby bisa mengalami suatu perubahan dalam perjalanannya, dan itu tidak bisa dikatakan bosan, cuman mencari suasana baru.. ah…jadi terinspirasi untuk menulis nich.. trims bang 🙂

    • Aldy says:

      Bli Budi,
      Yap benar bli, yang saya maksudkan bagaimana kita menganggap pekerjaan rutin tersebut seperti hobby sehingga beban yang demikian berat menjadi terasa ringan.

  12. salam kawan..
    hobi saya suka tanam bunga..hehee

    suka mendegar lagu..menari 🙂

  13. Pekerjaan saya juga gak menyentuh bidang pendidikan yang dulu saya tekuni kakang prabu…

    Tapi saya suka dengan pekerjaan ini…..

    • Aldy says:

      Yang penting bisa happy Adipati…
      Sesuai dengan latar pendidikan tetapi dalam kondisi tertekan juga sulit kan ?

  14. dery says:

    hehe.. belum masuk usia kerja,, 😀
    seru juga kalo menganggap pekerjaan sebagai hobi, apalagi kalo yang dikerjakan itu mendapatkan gaji yang gede.. wuow..
    hobi yang saya utak-utik komputer, apalagi kalo yang berhubungan dengan internet.. disamping itu saya juga suka dengan membaca buku, apalagi pelajaran biologi,, bisa kerja jadi apa saya ya? 😀

    • Aldy says:

      Mas Derry,
      Seru kok, pekerjaan dijadikan seperti hobby, beban kerja menjadi ringan gaji gede… 😉
      Mas Derry masih memiliki waktu yang sangat panjang untuk menentukan pilihan; kalau komputer dan internet mungkin bisa terus dipupuk.
      Kalau suka biologi wah malah makin menyenangkan, berminat menjadi peneliti ?

  15. sunflo says:

    bosen akan menyergap kalo terlalu over terhadap hobby tersebut keknya