Pengalaman Konyol

Sebagai seorang yang bekerja diperusahaan yang bergerak dibidang perkayuan, tinggal dilingkungan Camp (sebagian menyebutnya Mess) dan terpisah jauh dari keluarga mendatangkan pengalaman konyol dan naif. Sering terjadi, ilmu yang didapat pada dunia pendidikan tidak berfungsi dengan semestinya, apalagi saat menyelesaikan sebuah masalah.

Logika normal terbentur dan tidak berjalan, akibatnya trik-trik abunawas dan ilmu kepala batu digunakan. Kadang-kadang terasa lucu dan membuat saya tersenyum sendiri seperti wong edan, tetapi disisi lain saya juga miris menghadapi kenyataan seperti ini. Betapa jauh tertinggalnya mereka dari peradapan yang lebih maju. Semoga saja digenerasi berikutnya, ini semua bisa berubah.

Karena kuatnya tradisi leluhur yang dipegang (terutama oleh kaum tua) dan keterbatasan pengetahuan sering saya menemukan kejadian-kejadian yang bisa dikatakan konyol. Ini sering saya jumpai tidak hanya pada saat berkunjung ke desa-desa, tetapi juga pada saat menyelesaikan masalah dikantor.

Kejadian penyelesaian kasus tertabraknya seekor anjing oleh kendaraan perusahaan beberapa waktu yang lalu merupakan salah satu bukti, bahwa ilmu yang didapat dibangku pendidikan tidak berfungsi sama sekali. Dengan sangat terpaksa, keras kepala pemilik anjing dilawan dengan ilmu kepada batu milik saya. Padahal saya tidak pernah sama sekali belajar ilmu kepala batu. Dari satu sisi ada perasaan lega, tanggung jawab sebagai orang yang diserahi tugas untuk menyelesaikan kasus tersebut dapat dilaksanakan, tapi disisi lain saya juga sedih. Jika tahu seperti ini untuk apa menuntut ilmu didunia pendidikan sampai belasan tahun. 🙁

Saya juga pernah mendapati, seorang gadis yang terserang malaria tetapi oleh orang tuanya dianggap terkena guna-guna, padahal sudah jelas, dalam surat keterangan yang dikeluarkan oleh Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) menyatakan bahwa sigadis terkena malaria dan diharuskan opname. Waktu itu, saya tidak berani memberikan komentar atau pendapat, karena jika sudah berbicara masalah kepercayaan dan fanatisme idiot, yang benar akan salah dan yang salah bisa menjadi benar. Selain itu, perusahaan tempat saya bekerja sering memberikan penyuluhan tentang penyakit-penyakit endemik seperti malaria dan cara-cara penangggulangannya.

Kasus lainnya, saya pernah disamakan dengan ternak (babi) oleh seorang bapak (secara tidak langsung), hanya karena saya makan singkong, tetapi ketika saya serahkan sepotong getuk lindri ternyata sibapak dengan lahapnya menikmatinya. Dan ketika dijelaskan bahwa yang dimakannya hanya kue yang terbuat dari singkong, dengan entengnya sibapak bilang bahwa dia tidak menyangka kalau kuenya terbut singkong, tanpa ada dosa sama sekali kalau dia pernah mengatakan singkong itu hanya untuk makanan ternak.

Pernah suatu kali kami pergi kesebuah dusun (dusun sungai lalang, kecamatan Ella Hilir, kabupaten Melawi, Kalbar), waktu itu kami berangkat 6 (enam) orang, kami berempat memeluk agama Islam, sementara yang dua lagi memeluk Katolik. Salah satu diantara kami cukup kuat memegang kepercayaan yang dianut, saya sudah menasehati sebaiknya tinggal saja, karena dikhawatirkan dia tidak bisa makan melihat kondisi dusun dan cara makan penduduk setempat. Tetapi saya dan salah seorang rekan tahu, didusun tersebut ada satu keluarga yang memeluk agama Islam, sehingga urusan makan tidak menjadi masalah (kami sebelumnya sudah pernah mendatangi dusun ini). Tetapi dasar jahil, saya membisi sang teman agar mengerjai teman yang alim tersebut.

Setelah menempuh perjalan selama 4 (empat) jam, akhirnya kami tiba didusun. Dan kelihatan wajah sang teman meringis karena kecapaian, juga melihat ternak (babi) berkeliaran dikebun karet belakang dusun. Saya tersenyum simpul, pelajaran akan segera dimulai. Setelah beramah tamah dengan penduduk setempat, kami beristirahat ditempat keluarga yang muslim dan kebetulan oleh kepala Dusun memang disiapkan disana (ach…saya jadi malu, beliau tahu kalau saya memeluk agama Islam dan menyediakan tempat “khusus”).

Makan malam tiba, siteman yang alim kelihatan ragu-ragu untuk makan (tuan rumah tidak menemani, karena mempersiapkan acara pertemuan malamnya), kembali saya tersenyum simpul.
“Mas, yang motong ayam ini siapa?” dia bertanya. Dengan cueknya saya bilang, “mana saya tahu, yang pastinya penduduk disini, memangnya siapa lagi?, kamu takut?”. Dia tidak menyahut dan saya perhatikan dia hanya mengambil nasi putih dan sayur ketimun ladang. Dalam hati saya kasihan, tetapi saya juga ingin memberikan pelajaran sama dia agar bersikap mempercayai yang tua. Logika sederhananya, dia sudah tahu keseharian saya dicamp, jika saya berani memakan makanan yang dihidangkan tentu sudah melalui pertimbangan.

“Kamu ndak mau ayamnya?”, dia menggeleng. Wow…pancing dapat ikan besar. Tanpa sepengetahuan dia saya mengedipkan mata kepada teman-teman lain dan mereka dengan lahapnya menikmati daging ayam. Sampai kami kembali ke camp, rahasia itu tetap kami pegang. Jadi selama didusun itu, dia hanya makan nasi dan sayur ketimun. 3 hari didusun, sepertinya cukup untuk memberikan pelajaran tambahan, dan saya mendengar dari teman-teman yang lain, sampai dicamp dia balas dendam, makan langsung dua piring plus daging ayam. Setelah beberapa waktu kemudian baru dia tahu, tapi dia tidak berani komplain. Karena, seandainya dia komplain saya akan tersenyum tanpa dosa.

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari dua orang putu. Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

63 Tanggapan

  1. asop says:

    …. Inti yang saya dapatkan, di dunia kerja tidak selalu ilmu dari sekolah yang digunakan. 😀