Prosedural

copma

Ilustrasi | wisnuap.com

Benarkah prosedural selalu identik dengan kelambanan proses?, proses apa saja, mulai proses buang air kecil sampai pada proses memutuskan perang bubat terhadap pembatalan buang air kecil. Apakah prosedural itu buruk? tentu saja tidak. Justru sesuatu yang dilakukan secara prosedural, sesuai dengan SOP berjalan dengan sangat baik, terukur, tersruktur dan cepat.

Jika kita bicara birokrasi pemerintahan, kita masih menemukan bahkan pada setiap jenjang jabatan, pada setiap simpul proses kelambanan sangat sering terjadi dengan alasan harus melalui prosedur. Padahal dibalik prosedural yang kita dengar, ada prosedural lain yang harus dilalui dan prosedur ini hanya diketahui oleh pihak pertama dan pihak kedua. Istilah kasarnya tahu sama tempe. Kalau bisa diperlambat mengapa harus dipercepat? hmmm…klop.

Bukan saatnya menyalahkan salah satu pihak, ‘prosedur lain’ tersebut hanya bisa terjadi jika ada kesepahaman kedua belah pihak, seperti suami istri, seperti pasangan yang sedang berpacaran, harus seiya sekata, seiring sejalan, bila perlu sepiring makan berdua, segelas minum berdua, tidur berdua dan kalau sudah nyenyak tidur masing-masing.

Sangat tidak rasional jika sesuatu yang prosedural dianggap sebagai biang kelambanan dalam menyelesaikan masalah.
Contoh kasus, pernahkah membayangkan seorang mekanik mesin bekerja tanpa prosedur? dalam upaya bongkar pasang mesin si mekanik harus mentaati prosedur yang sudah tertera dalam buku petunjuk . Apa jadinya, jika rantai api dipasang duluan tetapi gearnya belum, atau memasang ban dalam lebih duluan dari ban luar. Bisa?

Namun demikian, perlu dikaji lagi apakah prosedur yang dibuat, SOP yang dijadikan patokan sudah memenuhi standar efesiensi yang baik? jika tidak saatnya dilakukan perombakan, jika prosedurnya sudah memenuhi standar efesiensi, apakah pelaksana dilapangan sudah memenuhi kriteria standar, jika belum ganti, jika sudah, apakah pelaksana tersebut sudah mendapatkan salari yang layak sesuai dengan beban kerja dan tanggung jawabnya? dan seterusnya sampai ditemukan akar permasalahan yang sebenarnya.

Menyalahkan prosedur untuk dijadikan kambing bego dalam upaya menutup kemampuan tenaga opersional yang memang bego, adalah cara yang paling bego. Apakah sulit menyederhanakan sebuah prosedur sehingga sesuatu yang prosedural itu menjadi singkat dan cepat? sekarang tinggal kemauan dari pengambil keputusan, apakah mau menyederhanakan prosedur yang panjangnya membentang dari barat ke timur itu atau tidak. Jika mau perkara ditutup. Jika tidak? nikmatilah prosedur itu sebagai rahmat Yang Maha Kuasa. Bukankah Yang Maha Kuasa hanya akan memberikan cobaan sebatas kemampuan umatnya?

Sumber Gambar : wikipedia.org

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari dua orang putu. Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

59 Tanggapan

  1. riez says:

    aku kok pusing baca masalah prosedural

  2. nchie says:

    segala sesuatu pasti ada prosedurnya ya MAs ..

  3. Tina Latief says:

    kalau untuk yang berjiwa kreatif prosedur itu menyusahkan mas, engga bisa kreatif, tetapi kalau untuk yang hanya suka ngopy saja itu langkah mudahnya..
    tinggal pilih mau jadi founder atau followers..

    • Aldy says:

      Kadang menjadi benturan, tapi dalam kondisi tertentu kreatifitas juga harus mengacu pada prosedur, walaupun prosedurnya sudah disederhanakan sedemikian rupa.

  4. marsudiyanto says:

    Yang parah adalah ketika prosedurnya sendiri nggak jelas, karena bukan tak mungkin sesuatu yg dianggap sudah prosedural ternyata jauh.
    Lihatlah aparat yg kadang “mbedhili” orang, slalu berdalih dibalik alasan sudah sesuai prosedur.

  5. Ipras says:

    Mungkin kalau perlu, tidak hanya diperbaiki saja, tapi juga diusahakan agar terus ditingkatkan keefektifan serta efisiensi dari prosedural yang ada, secara suatu prosedur saat ini mungkin saja tidak akan lagi sesuai dengan keadaan di lapangan pada masa mendatang 🙂

    • Aldy says:

      Tujuan dari pembuatan SOP memang untuk peningkatan efesiensi, karena SOP harus mengadopsi kondisi termutahir dilapangan.

  6. m-amin says:

    Biasanya kalau sudah dijalankan sesuai dengan prosedur yang ada banyak amannya atau sampai tujuan yang ingin dicapai. Supaya cepat mendapatkan apa yang akan diraih maka prosedur harus di desain simpel.

    • Aldy says:

      Benar Mas Amin, prosedur tidak harus rumit, yang sederhana umumnya lebih cepat dan mudah diterapkan.

  7. stupid monkey says:

    yang lucu itu prosedur yg hanya di ketahui oleh pihak pertama dan kedua, beeehhh, 😀

  8. fitrimelinda says:

    terkadang memang prosedur malah bikin sesuatu itu jadi makin lambat

    • Aldy says:

      Dalam beberapa kasus ya mbak, tapi kalau prosedural disertai dengan SOP yang baik, hasilnya akan baik.

  9. Betul sekali
    jalani saja dengan indah dan ikhtiar yg sungguh2 🙂

  10. dmilano says:

    Saleum,
    Sering banget kudapati prosedural yang membuat adrenalin meningkat. setiap kali di prostes selalu dijawab ” sudah prosedurnya begini pak…”. terpaksa deh sering2 istigfar….

  11. Not To Bad says:

    Pada proses berkomentar pada sebuah blog sahabatpun kita butuh prosedural
    kita harus mendatangi blog tersebut melalui url pada navigation bar
    membuka sebuah artikel, mengisikan field yang perlu diisi

    terkadang dengan filter spamboot kata yang tidak diinginkan dapat tertahan
    apalah daya tanpa prosedural

    • Aldy says:

      Benar mas, sekecil apapun sebuah proses pasti melalui prosedural, tapi yang kebangetan prosedur dijadikan alasan untuk membuat sesuatu menjadi lamban.

  12. jarwadi says:

    dalam keadaan normal, prosedur itu selalu bagus. 🙂