Renungan Suci

Bertahun-tahun yang lalu, ketika masih duduk dibangku sekolah. Malam ini, tepatnya jam 12:00 nanti selalu menjadi kegiatan yang dinantikan. Upacara renungan suci di Taman makam pahlawan, mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur, sekaligus mengingatkan bahwa individu yang sombong ini suatu saat akan terbaring bawah tumpukan tanah yang basah.

Sayangnya, kegiatan tersebut sudah lama tidak diikuti. Sejak memasuki dunia kerja yang serba egois, renungan suci tidak pernah lagi diikuti. Sekarang tinggal pintar-pintarnya saja membuat renungan sendiri, entah masih suci atau tidak.

Bukannya ingin membuat renungan suci menjadi sesuatu yang sakral, tetapi banyak hal yang bisa dipetik dari kegiatan tersebut. Selain itu, sebagai orang yang berjiwa muda tentu saja memanfaatkan peluang tersebut untuk berduaan dengan sidia (hmmm, cerdik memanfaatkan peluang atau menyalahkan gunakan kesempatan?)

Dalam kegiatan tersebut kita diajak untuk merenungkan kembali, jasa-jasa orang-orang yang telah gugur demi membela kemerdekaan bangsa dan negara. Betapa kita yang hanya tinggal menikmati dan mengisi kemerdekaan ini, terkadang lena, lupa dengan jasa-jasa mereka. Padahal tugas kita hanya mengisi kemerdekaan ini hanya sebatas pada kemampuan yang kita miliki, kita tidak lagi diminta untuk bertaruh nyawa, kita tidak lagi diminta menjadi umpan peluru yang empuk.

Walaupun disadari, mengisi kemerdekaan itu sama beratnya dengan memperjuangkan kemerdekaan bahkan ada yang mengatakannya lebih berat, tetapi coba kita renungkan kembali, sudahkah kita menjalankan kewajiban kita sebagai seorang warna negara yang baik?

Membayar pajak tepat pada waktunya?, tidak melakukan pencurian setrum Perusahaan Listrik Negara yang sedang kembang kempis?, berkendara dengan memenuhi ketentuan yang sudah digariskan? dan sebagainya. Hal-hal kecil seperti ini sering kita lupakan atau ingat, tetapi kita abaikan. Dengan menjalankan kewajiban-kewajiban tersebut, secara tidak langsung kita sudah menjalankan amanah para pendahulu kita yaitu mengisi kemerdekaan dengan kemampuan yang bisa kita lakukan.

Semoga saja, renungan suci tidak hanya menjadi acara seremonial belaka. Masih ada tersisa makna yang terkandung didalamnya. Setelah renungan suci malam ini, besok tanggal 17 Agustus 2010, Negara ini secara serentak akan memperingati detik-detik proklamasi dan saat kita kembali meneriakan dengan lantang, MERDEKAAAA!!!!

Note: Untuk yang pernah ikut acara renungan suci bersama, salam Merdeka.

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari dua orang putu. Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

105 Tanggapan

  1. dgadget says:

    MERDEKA!!!
    ga pernah ikut renungan suci tapi MERDEKA!!MERDEKA!!!

  2. caride says:

    merdeka!!merdeka!!!pokok’e merdeka!!!

  3. ganda says:

    Saat kita berteriak merdeka, terkadang hati saya pilu juga, sebab masih ada dari teman-teman kita juga, yang belum merdeka dari belenggu kemiskinan, belenggu mendapatkan air bersih, pendidikan yang layak dan lain lain. Padahal diatur dalam undang-undang, tapi kok yang diatas malah hanya memandang rakyatnya membantu rakyatnya, tanpa mau turun tangan. *Mudah2an saya salah*

    Anyway, bagi buku HTML5 nya dung.. 😀 Saya dah membulatkan tekat untuk melaju ke HTML5. Maaf bagi pengguna perambang lawas seperti IE6<, Firefox 1.5< dll. Lha, ini komentar saya kok kayak postingan. Fufft…

    • Aldy says:

      Bro Ganda,
      pemerataan tidak bisa serta merta dilakukan seperti membalikan telapak tangan, walaupun harus kita akui ada kegagalan pada fase pemerintahan kita terdahulu. Mudah-mudahan kedepan bisa lebih baik lagi.
      HTML5? ntar saya sending via email saja ya?

      • ganda says:

        Iya sih. Ya tapi keadaan tidak membaik. Bahkan, mungkin memburuk. *Semoga saya salah lagi*

        Oke bro. Di tunggu banget. 😀 Saya lagi mendalami canvas-nya. Bikin pusing juga.

        • Aldy says:

          Yang muda seharusnya tidak boleh pesimis, ingat yang muda inilah kelak akan meneruskan generasi yang ada sekarang 😆
          Emailnya sudah saya sending barusan, maaf bro agak terlambat.

          • ganda says:

            Terima kasih banyak bro. Ya, hanya saja saya merasa kasihan melihat saudara-saudara kita yang masih tidur di emperan stasiun kereta.

  4. Deden Hanafi says:

    MERDEKAAAA..!
    saya juga pernah tuh Om ikutan yang begituan. Bingung saya juga, waktu itu renungannya suci atau tidak, soalnya ada misi terselubung sih,, hehe.. yaitu ingin lihat gadis impian di malam hari. 🙂

    tapi lepas dari itu, renungan seperti itu harus sering diadakan,, supaya kita tau,, kita bisa enak facebookan, twitteran, dan ngblog itu karena jasa para pahlawan yang telah gugur mendahului kita.

    Sekali lagi.. MERDEKAAAA.

    • Aldy says:

      Den Hanafi,
      Om sih maklum, karena niat awalnya bukan renungan suci tetapi merenung yang bening-bening. Nah itu dia, kalau bukan jasa para pahlawan, mungkin hari ini kita belum punya blog. 😀 Merdeka!!!

  5. Bee'J says:

    salam merdeka juga om…. 😀

    untuk renungan seperti itu saya ga pernah ikutan, tapi kalo untuk merenung secara pribadi sih lebih asyik dan syahdu, apalagi di bulan Ramadhan ini…. saat yang tepat untuk beri’tikaf di 10 malam terakhir….

    • Aldy says:

      Bang Bee’J,
      Ha…ha…esensinya agak beda dikit bang, tapi kalau dijalani sama-sama asik, secara individu tentulah lebih asik 10 malam terakhir ramadhan.

  6. hendro says:

    Merdeka mas aldy..semoga bangsa kita lebih baik lagi dengan persatuan dan kesatuan..mempertahankan yang sulit..
    merdeka indonesia!!!

    • Aldy says:

      Merdeka Mas, mempertahankan memang sulit, tetapi kalau kita mau bersatu tentu tidak sulit. Tentu saja dengan mengakomodir perbedaan-perbedaan. Karena kalau seragam, sepertinya tidak seru 😀

    • Aldy says:

      OOT, saya buka blognya dari tadi sore time out melulu, sedang direparasi? atau koneksi saya yang sedang “Dahsyat lemotnya?” 🙁

  7. Denuz BURUNG HANTU says:

    terakhir ikut renungan suci 5 taon yang lalu waktu masih SMA…kangen juga sih.. waktu itu terasa banget auranya…terasa banget perjuangan para pahlawan…serasa perang kemerdekaan baru berlalu beberapa hari…
    walaupun gak bisa ikut renungan suci lagi… kita semua harus bisa memberikan semangat kepada diri sendiri untuk bisa mengisi kemerdekaan ini dengan hal-hal yang bermakna bagi negeri

    salam akrab dari burung hantu…

    • Aldy says:

      Denuz, sekarang sudah memasuki dunia kerja?
      Waktu SMA? ach iya, masa yang tidak pernah terlupakan. Renungan suci disertai juga dengan sambilan? Apa hanya kita yang dikabupeten saja yang ikut renungan suci?

  8. TuSuda says:

    Iya Mas, stlh itu muncul box plih jenis blog. saya pilih wordpress, muncul URL jarak jauh untuk blog anda “http://hostname/wp_path/xmlrpc.php”. Pada bagian URL jarak jauh ini sy ndak ngerti harus isi apa Mas?. Terimakasih tlh membantu… 🙂

    • Aldy says:

      Bli putu menggunakan Windows Live Writer versi berapa? terbaru mungkin, saya masih menggunakan windows live writer 2008, coba saya update dulu bli, nanti saya kabari lagi.

    • Cahya says:

      TuSuda,

      Seharusnya tidak muncul Dok, karena sudah diatur secara otomatis, tapi kalau di blog Dokter, alamatnya adalah http://tusuda.com/xmlrpc.php.

      • Aldy says:

        Mas Cahya, agak “aneh” juga milik bli putu.
        Ya, pengaturannya harusnya otomatis, kalau begini menjadi manual ya mas?

        • Cahya says:

          Pak Aldy,

          Kadang ada konflik dengan berkas .htaccess, tapi jarang sekali terjadi, sehingga posisi berkas .xmlrpc.php harus ditembak dengan manual - menurut cerita entah di mana saya pernah membacanya. Sepertinya yang versi beta awal memiliki konflik seperti ini.

          Saya sekarang menggunakan WLW lawas (ver. 14.x), tidak ada masalah sih.