Solitaire dan sendiri

Solitaire dan sendiri…apa yang ada dalam fikiran anda? kartu remi atau permainan game digital komputer? main game solitaire sendirian? atau anda membayangkan sesuatu yang kelam? susah dan tidak nyaman? bisa jadi…seperti permainan solitaire yang anda mainkan.
Solitaire dan sendiri itu identik?, sebentar… jika mendengar kata solitaire mayoritas anda pasti membayangkan game dengan kartu remi, sendiri mengocok kartu dikamar yang sumpek, bagi sendiri, mikir sendiri…wes pokoke dhewean kabeh dan kemudian fikiran anda beralih ke game default System Operasi Windows besutan Microsoft, anda juga memainkannya sendiri, jengkel sendiri, kesal sendiri bahkan diam-diam anda meng-undo langkah yang sudah terlanjur. Yakin?

Sendiri, jika kata ini yang ada dibenak, anda akan membayangkan melakukan segala sesuatunya sendiri, yang jomblo membayangkan enaknya kalau punya pasangan, yang punya pasangan tapi jauh membayangkan betapa enaknya jika pasangan ada disamping dan yang punya pasangan tapi dekat membayang alangkah bebasnya jika pasangan tidak ada. Sendiri tak selamanya sakit dan tentu saja tidak selamanya enak. Hmmm…

Selain pori kayu, tentu ingat tentang Game Solitaire.
Biasanya sih main karo dengan teman-teman, kalau sedang sendiri yang main solitaire, sekalian merenungi nikmat sendiri dimalam minggu. Sejak ada perangkat digital yang dapat memainkan game solitaire, minatpun berganti ke game digital, namun kemudian dihentikan pada 15 (lima belas) tahun yang lalu, sejak ada kebijakan tidak boleh main game di meja kerja, ada perintah dari komandan supaya game dikomputer di nonaktifkan (karena game default tidak bisa diuninstall). Dilain sisi, mau beli perangkat sendiri dananya belum cukup 🙁

Hampir semua hal aku lakukan sendiri, mulai dari cari pacar sampai dia jadi istri aku upayakan sendiri, tak sedikitpun meminta bantuan orang tua atau pihak ketiga. Bahkan sejak tahun 1994, sejak anak pertama masuk Taman Kanak-kanak praktis aku hidup sendiri. Terpisah jauh dari istri yang mati-matian aku cari sendiri itu. Sedihkah dalam kesendirian ini? ya iyalah, tapi mau bagaimana lagi? Hidup sebagai rimbawan ya begini ini resikonya, sudah dingin istri tak ada pula, sudah jatuh tertimpa tangga, untuk gak modar!Disamping susahnya melakukan sesuatu dalam kesendirian, selalu ada terselip kenikmatan dalam kesendirian. Karena kebetulan dilokasi kerja dapat pondokan sendiri, jadi bisa bebas, mau katokan dirumah gak ada yang larang, membunyikan sound system kencang-kencang gak ada yang larang, rumah tidak dipel selama seminggu gak ada yang ngomel, mau online semalam suntukpun gak ada yang ngajak bobo’, dah pokoke lengkap sangat.

Saat paling menyenangkan adalah bila tiba waktunya cuti/izin pulang menjenguk keluarga. Segala peralatan tempur dipersiapkan, mulai dari sangkur, senjata laras panjang/pendek, belati pemotong kawat, magazine penuh dengan peluru. Prepare to die…!!! and Fire…!!!!
Kalau sudah kumpul dengan keluarga, kemana-mana berdua, belanja berdua (sering ngomel, wong beli kangkung satu ikat saja bisa satu jam), masak berdua, dari pagi sampai tengah hari dirumah berdua, sore hari jalan-jalan satu keluarga, lapor kepada Yang Maha Kuasa berdua…dan seterusnya…dan seterusnya (silahkan lanjutkan dan ilustrasikan sendiri) dan ujung-ujungnya berakhir duka.
Kok gitu? hmmm…
Setelah kembali ketempat tugas, jalan sendiri, naik angkot sendiri, sampai dilokasi kerja mandi sendiri, nyapu sendiri, ngepel sendiri, tidur sendiri…sendiri dan solitaire? it’s me.
Sendiri lagi seperti yang dulu, tanpa dirimu disisiku…
*plakkk…hoiiii bangun, kesiangan tuh!
Tulisan ini diikutkan pada perhelatan GIVEAWAY : PRIBADI MANDIRI yang diselenggarakan oleh Imelda Coutrier dan Nicamperenique.

Dengan tidak mengurangi segala rasa hormat kepada anda yang datang dilaman ini, kami mohon maaf borang komentar ditutup

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari dua orang putu. Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik