Stupid Guy : Suara Hati dan Realitas

burung cantikMenurut Bung Chairil Anwar “Hidup ini hanya menunda kekalahan”, sebuah kalimat frustasi yang sampai hari ini belum pernah saya paraf sebagai tanda persetujuan :D.  Mungkin dari satu sisi kalimat tersebut mengandung kebenaran, tetapi dari sisi lain mengandung keputus asaan yang tidak berujung.  Semua mahluk hidup pasti akan mati sesuai dengan pasangan kata hidup.  Tetapi apakah hidup ini hanya menunda kekalahan  ? mengapa hidup ini tidak dijadikan langkah awal untuk “hidup” yang lebih panjang ? kemudian apa hubungannya dengan suara hati dan realitas ?

Apa itu suara hati ?

Dalam pengertian bego-nya suara hati kita artikan sebagai dorongan kebenaran yang harus kita lakoni sesuai dengan pakem yang berlaku.  Sebuah keinginan untuk melakukan kebaikan dengan sesama, berbagi suka dan duka selayak dalam lingkungan sebuah keluarga.  Bukan hanya hubungan antar manusia tetapi hubungan dengan pencipta manusia itu sendiri.

Apa itu Realitas ?

Masih perlu penjelasan ? Ok, katakanlah realitas itu kenyataan yang kita hadapi saat ini, kemarin, kemarin lusa atau 1 tahun lalu.  Pahit dan manis, benar dan salah tidak perduli kita mampu melakukan perubahan atau tidak.

Esensinya ?

Pertanyaan dasar, apakah suara hati selalu sejalan dengan realitas ? atau apakah realitas selalu sama dengan suara hati ?

Jika jawabannya YA, ada pendapat ?

Jika jawabannya TIDAK, mengapa ?

Saya memilih jawaban kedua, karena terlalu banyak perbedaan.  Bahkan dalam pekerjaanpun seringkali diminta untuk bersabar padahal kenyataan yang terjadi didepan mata sangat bertentangan dengan hati nurani, kenyataan ini jika tidak kita sikapi dengan bijak, tidak mustahil suatu saat kita akan tenggelam dalam pusaran pertentangan antara hati nurani dan realitas yang kita hadapi.

Jalan keluarnya banyak, silahkan dipilih yang sesuai dengan Agama/aliran kepercayaan yang dianut masing-masing narablog atau lebih kasarnya sesuaikan dengan selera masing-masing.Happy blogging.

Images : www.sxc.hu

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari dua orang putu. Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

40 Tanggapan

  1. TuSuda says:

    Maksud hati menjangkau langit, apadaya tangan tak sampai.
    Demikianlah dilemanya Mas, antara keinginan dan kenyataan seringkali tidak sejalan.

  2. Epenkah says:

    Saya jg gak setuju donk kalo memastikan kita akan kalah di ujung2nya, apalagi utk masalah hidup ini. Kata orang2 bahwa impian tak selalu seindah kenyataan itu memang benar but… live must go on.. (sok english mode:on) 😀

  3. kalau bicara mengenai pahit atau manis kehidupan, dan mendengar suara hati atau tidak, bunda rasa kita semua pernah mengalami semua hal tsb dlm meniti kehidupan ini.
    Kembali pd niat awal, jika segala sesuatunya kita lakukan dgn ikhlas, meskipun tdk sesuai dgn suara hati, kita tetap tdk akan kecewa, krn kita telah melakukannya dgn maksimal dgn nilai ibadah semata.
    so……..lets enjoy our precious moment in our lives, Mas Aldy 🙂
    salam

  4. ardianzzzz says:

    Yang jelas membuat kita semua berpikir.. Tuhan menciptakan akal untuk berpikir.. Kenapa kita hidup, dihidupkan dan mati nanti. Untuk apa? Beruntunglah yang bisa menemukan jawaban meski hanya untuk dirinya sendiri…

    btw, CSS nakde day kan sudah lewat Pak Aldy :p

  5. aming says:

    izin berkunjung saja pak,
    memahami gaya penulisannya…

  6. rawit says:

    kenapa ya pilihan kata yang dipakai Chairil anwar kesannya pesimis gitu…kok terkesan kita ni hidup ngalir aja, mau ga mau tetep harus kalah..mekso banget..mungkin yang dimaksud itu kematian ya..emang dah takdir

  7. tampilan yang asik………… 🙂
    salam

  8. rismaka says:

    Kejadian yang mas aldy alami mungkin bisa dibilang sebagai ujian. Yup, ujian ketika kita bekerja di suatu instansi yang memerintahkan kita utk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani, maupun dengan keyakinan kita. Dilema memang.

    Di satu sisi kita sangat menentang realita yang ada. Namun di sisi lain kita harus menerima realita tersebut.

    Jika kondisinya demikian, mungkin saya akan terpaksa menerima keadaan tersebut, tapi karena kondisinya kterpaksaan, semoga saya tidak betah berlama2 dengan kondisi itu, dan semoga bila ada kesalahan, Tuhan mengampuni saya. 🙂