We Are The Family.

Menjalan tugas kepedalaman memang penuh dengan resiko, berjalan kaki sekian kilometer, naik longboat melewati riam dan sampai ditempat tujuan harus siap menyicipi hidangan berupa baram/tuak.

Tetapi semuanya, jika dijalankan dengan senang hati justru membawa kesan dan kenangan tersendiri, bahaya dan lelah yang dilalui dalam perjalan punah setelah bertemu dengan peradaban desa yang masih jauh dari modernisasi dan keramahan penduduk setempat.


Foto-foto berikut ini, lanjutan dari perjalanan kepedalaman tempo hari. Perhatikan rekan-rekan narablog harus melalui beberapa acara agar dapat diterima dengan baik dilingkungan sekitar.

pemotongan-ompong

Gambar 1 : Salah seorang rekan narablog bersiap untuk memotong ompong

Pemotongan ompong (sejenis pagar yang dihiasi dengan daun kelapa, kemudian ditengah-tengahnya dilintangkan bambu/tebu), agar sebagai tamu kita diterima oleh tuan syaratnya harus memotong ompong tersebut. Dan hati-hati, setelah memotong ompong, sipemotong harus mencicipi baram 1 gelas.

pemotongan-ompong-II

Gambar 2 : Ompong berhasil dipotong dengan sempurna oleh rekan narablog

Awas bro, ntar kliyeng-kliyeng kena baramnya :mrgreen:

welcome-drink

Gambar 3 : Setelah ompong berhasil dipotong, seluruh anggota yang datang disambut tuan rumah dengan minuman welcome drink.

Jangan terkecoh, welcome drinknya bukan Orange Juice, Juice Alpukat tetapi baram/tuak. Tidak ada paksaan untuk mencicipi baram tersebut, tetapi tamu lebih dihormati jika ikut serta menikmatinya.

minum lagi

Gambar 4 : Salah seorang rekan narablog, meminum baram setelah makan malam, karena sebentar lagi acara hiburan.

Minuman berupa baram/tuak, biasanya juga disajikan setelah makan malam. Karena setelah acara makan malam dilanjutkan dengan hiburan/joget bersama; baik dengan lagu dangdut maupun lagu-lagu daerah. Mungkin dengan pancingan baram, berjogetnya menjadi sedikit berani.

joget bok

Gambar 5 : Berjoget bersama, gaya bebas.

Acara joget ini bisa berlangsung sampai dinihari, dan sepanjang acara joget biasanya baram/tuak selalu disajikan. Jika tidak kuat sebaiknya katakan terus terang dengan si pemberi baram. Yang penting selama musik masih berbunyi, joget musti jalan terus. Dan jika sudah dalam kondisi fly, semuanya menjadi keluarga. Dan jangan coba-coba membuat keributan, karena denda adat menunggu dengan setia. Asyik nggak ?

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari tiga orang putu (update). Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

47 Tanggapan

  1. agoenk70 says:

    kekerabatan dan kekluargaaanya kut banget yah kayanya..
    dan tradisi nya unik juga tuch pak, pasti pengalaman yang ga akan terlupa yah..

  2. kyaine says:

    dr tulisan ini saya mendapatkan informasi baru mengenai salah satu kekayaan adat di negeri ini 🙂

  3. Deka says:

    Asyik asyik asyik Om.

    Saya suka acara jogetnya especially dangdutnya, ikutan dunk. heheheheh
    btw baram/tuak itu apaan sich om..??? minuman alcohol gitu..???

  4. nakjaDimande says:

    hehhhe, si Bundo sempat bingung.. klo dah ompong apanya yang dipotong ya..?

  5. budiastawa says:

    Mas Aldy. Ada yang aneh di adat istiadat yg saya baca di atas. Yaitu ketika orang sudah fly, jarang ‘kan yang logikanya normal. Lha kalo ada kejadian ini itu, kenapa harus sanksi adat? Padahal kalau orang lagi mabok, itu pasti lupa akan dirinya.

    • Aldy says:

      Sangki tersebut merupakan salah satu cara agar yang sudah dalam kondisi kelewat mabuk, tidak ikut dalam acara lagi bli, intinya pengendalian diri dan tahu diri.
      Minum tuak itu tersebut hanya sebagai perangsang agar jogetnya nggak malu.
      Denda adanya dua jipen/ulun atau Rp. 400.000,– 😀

      • Harry says:

        Saya kira sangsi adatnya disuruh joget sampai pagi lagi atau dicekokin lagi dengan baram Om. 🙂 Ternyata rupiah juga tho ? terus 400 ribu itu untuk keperluan adat atau untuk yang lain Om ? kas desa misalnya. fmwiw

        • Aldy says:

          Sebenarnya sih bukan berupa rupiah Mas, sangsi berupa Ayam, Baram, Kain Batik atau Babi. Tetapi untuk praktisnya diganti dengan uang. Uangnya dijadikan dana simpanan untuk acara adat berikutnya atau dijadikan kas Desa setelah dipotong biaya “sapu meja” ( untuk kepala adat sebesar Rp. 10.000,–).

  6. arkasala says:

    acara-acara seperti ini saya sangat suka … sayang di daerah saya tidak menemukan yang sejenis … keramaian dan keakraban satu sama lain sangat terasa .
    Trims Mas ..
    Salam 🙂

  7. yanrmhd says:

    wah, kekeluargaannya siiip dah…
    sampei harus ‘fly’ juga sama2 >_< :mrgreen:

  8. attayaya says:

    huaaaaaaaaaaaaaa……..
    asiknya jalan2
    pengen ikut

  9. achoey says:

    wow seru Pak
    Dahsyat deh kegiatannya

  10. sunflo says:

    doooh.. kok pake acara kliyeng-kliyeng segala seeh… 🙄

  11. fansmaniac says:

    Wah makasih mas Aldy telah memperkenalkan budaya di daerah pedalaman… andwe are the family…
    Seru kalo begitu mas bisa keliling2 di pedalaman

    • Aldy says:

      Seru Mas, bisa dibilang seluruh pedalaman kabupaten Sintang, Melawi Dan Kapuas Hulu sudah pernah dijelajahi.

  12. Usup Supriyadi says:

    wah, saya paling suka tuh yang perjalanannya penuh dengan tantangan . :mrgreen:

    alhamdulillah, jika memang tidak ada paksaan dalam hal baram/tuaknya.

    😉

    • Aldy says:

      Saya juga menyukainnya Mas.
      Kalau mengenai Baram/Tuak tidak ada paksaan kok, mungkin teman-teman merasa tidak enak dengan tuan rumah saja.

  13. idebagusku says:

    pak aldy juga ikutan fly yah? kalah dong superman

    • Aldy says:

      Nggak Mas, saya hanya jadi Juru Kamera saja. Lagian tidak dipaksa kok, bagi yang mau ya silahkan, yang tidak silahkan cari cola saja 😀

  14. Den Hanafi says:

    Baram itu seberapa memabukan om?? saya mah mending dikasih air kelapa muda aja deh. :mrgreen:

  15. shafira says:

    tambahan wawasan tentang budaya. 🙂 makasih pak