Gong Xi Fa Chai.

Besok, tanggal 14 Februari 2010 masyarakat Tionghua/China akan merayakan hari raya Imlek yang ke 2561. Sejak pemerintahan Abdurahman Wahid Presiden RI yang ke-4, masyarakat Tionghua tidak perlu lagi takut merayakan imleks. Sebuah bentuk demokrasi yang seharusnya kita junjung dan kita hormati. Lantas apa hubungannya dengan saya ?

Saya memang pemeluk agama islam ( walau bukan pemeluk agama yang baik ), saya tidak lagi merayakan Imlek, tetapi ibu saya, orang yang melahirkan saya dengan taruhan nyawa masih merayakannya dan saya menghormati beliau sebagai ibu. Tanpa ibu saya tidak pernah melihat gemerlapnya dunia, gelimangnya kemaksiatan dan indah blogging.


Betapa menyenangkan membayangkan lampion yang berwarna merah bergantungan dan jeruk bali yang tersimpan sebagai simbol kebahagiaan. Betapa indahnya melihat anak-anak berjingkrak kegirangan menerima angpau dari neneknya dan betapa ramainya berkumpul dengan seluruh keluarga, makan bersama, bersenda gurau dan membunyikan petasan yang bersahut sahutan.

Tetapi ada hal yang mengganjal setelah saya membaca artikel pada sebuah blog, namun saya memutuskan untuk mengabaikannya.

Silahkan simak artikel blog yang tautannya saya sertakan dibawah ini.
Pada sebuah blog ( website ) www.khifayah1924.org, menulis bahwa Imlek adalah hari raya agama kafir bukan sekedar tradisi : haram atas muslim untuk merayakannya; sungguh saya terpana dengan artikel tersebut dan menimbulkan sebuah dilema. Ternyata dengan blak-blakan disebutkan bahwa Imlek adalah perayaan agama kafir.

Bathin saya terluka, ibu yang sangat saya cintai dan saya sangat hormati secara tidak langsung dinyatakan kafir. Huhhh.

Tetapi saya berkeyakinan akan kekuasaan Allah SWT, siapapun bisa menyatakan ini kafir, itu kafir tetapi keputusan terakhir ada di tangan Allah SWT. Dan saya percaya dengan kebesaran Allah SWT, kafir atau tidaknya hanya Allah SWT yang menentukannya bukan siapapun dan tidak oleh agama apapun.

Jadi ? the show must go on…
Saya tidak perduli dan saya tidak ingin mengingkari kenyataan bahwa ibu saya masih merayakan imlek dan betapa menyenangkan memiliki kelurga yang sangat beragam (baca kembali My Big Family Bhineka Tunggal Ika ). Dan perayaan Imlek memang sudah menjadi tradisi dalam keluarga saya, sehingga apapun yang dikatakan orang lain “I Love My Big Family”.

Ibunda, maafkan saya.
Imlek tahun ini saya tidak bisa berkumpul dengan seluruh keluarga, biarlah nanti keluarga saya dan cucu-cucu dan cicit-cicit ibu yang meramaikan rumah. ( Jangan lupa lampion dan angpaunya ;).

Percayalah, aku tetap mencintai dan menghormatimu melebihi apapun yang ada didunia ini. Tidak ada satu orangpun yang mampun menghalangi cintaku sebagai anak terhadap ibu sebagai orang tuaku. Langit boleh runtuh, dalil boleh sejuta, air laut boleh meluap menghancurkan dunia ini, tetapi rasa hormat dan cintaku pada Ibu tidak akan pernah berubah.

Dan kepada rekan-rekan yang merayakan Imlek, saya mengucapkan :

  1. Gong xi fat cái
  2. Kung hei fat choi
  3. Kiong hi huat cai
  4. Kiong hi fat choi

Semoga ditahun yang baru ini Thian selalu memberikan berkah dan rejeki yang berlimpah kepada Anda semua.

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari dua orang putu. Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

48 Tanggapan

  1. sandi says:

    Menurut saya semua kembali kepada niat kita masing2 kang, kunci utamanya kita tetap yakin bahwa Allah swt adalah satu2nya yang harus kita sembah…..

    • Aldy says:

      Intinya memang seperti itu Mas Sandi, karena keyakinan itulah saya selalu merayakan Imlek dengan ibu saya.

  2. attayaya says:

    dapat pencerahan berharga dari bunda SFA di atas
    mari membahagiakan selalu kepada orang tua

  3. arkasala says:

    Saya turut mengucapkan selamat juga Mas Aldy, dan salam hangat untuk Ibundanya 🙂
    Maaf baru hadir neh, habis dibombardir offline 3 hari, puyengnya minta ampun he he.

    • Aldy says:

      Salamnya sudah saya sampaikan Kang dan Ibunda kaget dan bertanya “Yayat yang mana ?”
      saya katakan sama beliau nanti kalau saya pulang lagi akan saya ceritakan.

      • nakjaDimande says:

        Mas Aldy itu orangnya lucu ya, hihi pantes aja Ibunda bingung ujuk-ujuk disalamin dari Kang yayat.

        Selamat Tahun Baru.. ini tahunku loh mas, shioku macan!

        • Aldy says:

          Wah berarti Kang Yayat salah alamat tuh Bundo.
          Bundo Shio Macan ? Kalau gitu saya harus menyingkir jauh jauh ne…:D, soalnya saya ayam, nggak kuat melawan macan.

  4. ceuceu says:

    saya ada di bsd saat imlek kemarin dan karena hampir seluruh tetangga adalah etnis chinese maka perayaan imlek begitu terasa.. malam hari ada suara petasan di luar..sampai jam 1 malam lebih.. menemani saya lembur… hehe…

    btw.. no 2-4 itu artinya apa mas? trus hongbao juga artinya apa tu.. ah..cuma mas aldy aja dan intan yang tau.. hehheh

    • Aldy says:

      Itulah kemeriahan yang sering saya alami teh ceuceu, sayang tahun ini saya nggak bisa pulang.
      Artinya sama saja dengan Gong Xi Fat Chai.
      Hong Bao atau Ang Pao, amplop berwarna merah, didalamnya berisi uang yang diberikan orang tua kepada anaknya dimalam imlek. Terlambat balasnya teh. Maaf.