Hasil lain Ujian Nasional

Menyaksikan, mengamati dan membaca berita ujian nasional tahun 2012, menyisakan sebuah kisah sedih yang entah disadari atau tidak oleh orang-orang yang ‘merasa’ berkepentingan dengan dunia pendidikan. Ujian kali ini melibatkan begitu banyak komponen, mulai dari siswa sampai calon mahasiswa, orang tua sampai kaum alim ulama, politikus sampai poliwedus bahkan sampai para ‘maling soal’ serta pengaman soal.

Siswa dan calon mahasiswa sibuk belajar walaupun cuma butuh waktu tidak lebih dari membuka jejaring sosial facebook. Orang tua sibuk mengawasi putra/putrinya belajar bahkan bila perlu sampai diantar kedepan pintu ruangan ujian. Para tokoh agama sibuk mengajak siswa berdo’a mengharapkan ridho dari Yang Maha Kuasa agar diberikan kelulusan. Para politikus dan poliwedus sibuk berdebat perlu tidaknya dia adakan Ujian Nasional (korelasinya apa?), para maling soal sibuk menyamar dan para polisi/tentara sibuk mengamankan soal bahkan pelaksanaanya agar ujian nasional dapat berlangsung aman, terkendali, dan sesuai dengan proses yang semestinya.

Dari kenyataan ini, bisa ditarik sebuah kesimpulan bahwa rasa kepercayaan terhadap pelaksanaan ujian nasional sangat rendah bahkan hampir mati. Hampir semua orang tidak percaya ujian nasional akan dilaksanakan dengan jujur. Ujian nasional akan berlangsung penuh dengan kecurangan, karena kalau tidak curang, bisa dipastikan tingkat kelulusan siswa bakalan rendah, nama pendidik dan sekolah bakalan hancur.

Semua ini berawal dari niat Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yang ingin menyeragamkan mutu pendidikan nasional. Tapi, entah disadari atau tidak, niat ini kemudian berubah menjadi ambisi. Kementrian seakan-akan mengabaikan kualitas anak didik dan para pendidik disetiap daerah tidak merata. Dan akibatnya, dari niat mulia tersebut lahir efek domino yang luar biasa.

  1. Siswa menggunakan berbagai macam cara agar dapat lulus bahkan menggunakan cara-cara yang tidak pernah masuk dalam kurikulum pendidikan.
  2. Para orang tua dan para pendidik malu jika anak/siswanya tidak lulus, kemudian mereka mengupaykan membantu bahkan dengan cara membodohi diri sendiri (membocorkan soal/jawaban) hanya demi nama baik diri dan reputasi sekolah, yang pada kenyataannya justru menghancurkan nama baik pribadi, menghancurkan kredibitas sekolah bahkan menghancurkan masa depan anak/siswa itu sendiri.
  3. Karena banyak terjadi kecurangan, akhirnya aparat keamanan turun tangan, mulai dari pengamanan soal ujian sampai kepada pengawasan pelaksanaan ujian. Seakan-akan para siswa belia tersebut adalah pelaku kriminal kambuhan yang sangat berbahaya. Pernahkan para pemangku kepentingan diatas memikirkan sejenak, melibatkan aparat keamanan terlalu jauh dalam pelaksanaan unas justru akan menghancurkan kepercayaan diri para siswa?.
  4. Para politikus dan poliwedus yang ‘perduli’ dengan dunia pendidikan hanya sibuk berdebat perlu tidaknya ujian nasional, sementara tindak lanjutnya tidak pernah diketahui juntrungnya.
  5. Sementara para alim ulama justru sibuk mengajak para siswa berdo’a mengharap bantuan Yang Maha Kuasa, seakan-akan para siswa tidak pernah dan tidak pandai berdo’a.

Dan muara dari semua tindakan tersebut hanyalah kecurigaan, para siswa selalu dicurigai mencontek, para guru dicurigai membantu siswanya dengan cara curang, orang tua curiga pada penyelenggara, aparat keamanan curiga terjadi duplikasi dan pencontekan soal, para agamawan curiga siswa berbuat culas dan tidak pernah berdo’a, dan seterusnya hingga menjadi lingkaran yang tak berujung.

Bukannya unas tidak menghasilkan apa-apa, tetapi dibalik keberhasilan unas menyisakan kecurigaan berkepanjangan bahkan membentuk bola salju. Saatnya Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mengkaji kembali format ujian nasional jika hasil ujian nasional masih dianggap relevan sebagai barometer keberhasilan dunia pendidikan. Walahualam.

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari dua orang putu. Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

41 Tanggapan

  1. Pardjo says:

    program udah bener… realisasi yang ga pernah bener. Persoalan klasik republik tercinta ini

  2. Sugeng says:

    Ada cerita miris dibalik suksesnya unas itu dan kebanyakan cerita itu off the record. Dan di Bali yang pada tahun lalu mempunyai siswa dengan nilai unas tertinggi tingkat SMU tidak seperti yang diberitakan. Dan ini betul-betul off the record. Saat ujian sang guru juga membawa nama besar sekolahnya tidak mau kalah dan tercoreng gara-gara unas. Dan yang melakukan kecurangan itu juga gurunya sendiri yang gak mau anak didiknya tidak lulus dan itu bisa mencoreng nama sekolahan. Yang bisa berubah dari sekolah favorit menjadi sekolah emprit.

    Jadinya segala cara dilakukan oleh oknum guru meskipun yang jaga guru dari sekolah lain namun masih bisa di siasati 🙁
    Semoga dunia pendidikan Indonesia bias lebih berkembang dan maju lagi dan bebsa dari kecurangan.

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    • Aldy says:

      Guru-guru seperti ini lebih mementingkan prestise sekolah, dia bahkan tidak pernah berfikir kalau yang dilakukannya sebenarnya justru menghancurkan sekolah itu sendiri 🙁

    • Pardjo says:

      gak off the record sih, kalo menurut saia. di harian lokal di daerah saia udah sering diekspos masalah seperti ini tiap pra dan setelah un.. namun ya itu tadi… this things keep going on and on

      • Aldy says:

        Berita-berita seperti ini biasanya sengaja ditimpa dengan berita lain, agar tidak berkembang. Keknya hampir terjadi disemua daerah 🙁

  3. Sugeng says:

    Malah ketangkap bang sat pam komeng ku.
    Tolong dong ajarin bang sat pam nya tatakrama dalam melayanai tamu yang masuk. Kasian yang datang jauh2 tapi malah gak dapat minum pluss masuk kerangkeng 😥

  4. BAITOPATI says:

    dasarnya kurangnya kesadaran bahwa menimba ilmu itu penting. rangking ialah racun. kerena krn ranking belum tentu anak itu pandai. krn rangking maka anak merasa puas kemungkinan sok pintar dan ini berbahaya. yang tidak rangking juga belum tentu dia bodoh. gara2 rangking inilah masalahnya. baik rangking siswa maupun rangking sekolah

    • Aldy says:

      Sistim rangking sebetulnya tidak terlalu jelek, cuma masalahnya itu bero, rangking malah dijadikan tolok ukur padahal akurasinya kadang meragukan.
      Sistem pendidikan kita cenderung hanya berpatok pada angka, bukan ilmu yang terkandung dibalik angka-angka yang diperoleh siswa.

  5. applausr says:

    secara program dan system menurut saya sih sudah ok. hanya saja negara kita selalu gagal dalam tatanan implementasi. Semoga masalah ini cepat terselesaikan, karena ini menyangkut masa depan bangsa.

    • Aldy says:

      Kita selalu berharap tatanannya semakin tahun semakin baik, tapi menurut aku, yang terjadi malah sebaliknya.

  6. Evi says:

    Kayaknya ujian nasional sdh perlu ditinjau ulang ya Pak. Chaos banget kayaknya..Seakan tanpa ujian nasional hidup akan berhenti dan anak-anak tidak bisa jadi seseorang..Ribet banget…

    • Aldy says:

      Aku ndak paham cara berfikir mereka (kurang cerdas kali ya…), pelaksanaan unas makin tahun makin ribet…

  7. Fajar says:

    sebenarnya ujian nasional itu sama dengan ebtanas.. namun..kalau dulu.. masalah ketidaklulusan bukan menjadi.. persoalan yang krusial..sehingga.. tidak menjadi momok.. namun kalau sekarang…harus..lulus.. semua.. setuju dengan ungkapan komen sebelumnya.. demi prestise sekolah… bukan demi siswa….

    • Aldy says:

      Memang sama saja bero, saya sendiri sulit memahami mengapa unas sekarang membuat begitu banyak orang ketakutan. Saya dulu menghadapi ebtanas dengan gampang, tidak disertai perasaan takut dan tidak perlu dikawal aparat keamanan segala 🙁

  8. Endi says:

    Mengenai poin ke 5 tampaknya saya kurang setuju neh Om 🙂

    Saya percaya, manusia dalam melakukan kegiatannya mesti didahului dengan berdoa dulu, jadi apa salahnya sebelum ujian nasional para siswa di kumpulkan dan dilakukan doa bersama, toh untu kebaikanya juga Om.

    Namun satu yang patut kita pikir, bahwa sejatinya ita berdoa dalam batas yang wajar, disalah satu daerah saya lihat di media malah memberikan semacam doa-doa kepada pensil ujiannya, nah ini sudah termasuk syirik namanya kalau sudah seperti ini.

    • Aldy says:

      Bero endi, yang saya maksud do’a diatas porsinya sudah berlebihan, saya percaya setiap siswa selalu berdo’a sebelum unas dilaksanakan, tetapi jika sampai harus diajak segala macam, mengesankan seakan-akan mereka tidak pernah melakukannya.

  9. mintarsih says:

    hems sungguh hidup itu repot apabila berlebih-lebihan. pak menteri tak percaya kepada orang lain boleh jadi berangkat dari dirinya sendiri meraih jabatan menteri. saya suka jujur sebab selama jadi siswa hingga tua yg masih kuliah di UT tetap memegang jujur. tetapi klo melihat pengamanan UN yang berlapis lapis sungguh sangat berlebih lebihan. sangat dibuat buat heboh dan dramatis.

    • Aldy says:

      Mintarsih, mungin analisanya bisa tepat, karena secara umum orang akan menilai orang lain mengaca pada dirinya sendiri.
      Yeah, yang berlebihan kadang terasa memuakkan. :mrgreen:

  10. Djawa says:

    aku malah pernah nemuin salah satu blog yang memperjualbelikan jawabannya., 😀

  11. Andank says:

    mantan SMA saya pun pasti banyak kecurangan pak, saya yakin itu

  12. Deka says:

    Ini Indonesia Om, Abiz masa reformasi perasaan tambah aneh aja negeri ini. Sebenernya lebih ke arah ‘lucu’ sih,…

  13. arif says:

    UN jaman sekarang bisa relevan, asalkan pemerataan pendidikan mencukupi. sayannya pemerataan pendidikan dari dulu susahnya minta ampun

    • Aldy says:

      Itulah pangkal masalahnya mas, saya sendiri tidak anti UAN, tapi pemerintah seharusnya memilah, bukan menyamaratakan seakan-seakan mutu pendidikan kita sudah sama baiknya untuk tiap daerah.

  14. ysalma says:

    Hayo staf Mendikbud yang membaca ini, jangan terlalu memaksakan untuk seragam yang hasilnya hanya di atas kertas.
    lebih baik sedikan pendidikan berkualitas yang bisa diakses oleh semua masyarakat, semua soal akan dikunyah sama siswa2.

  15. bunda lily says:

    kalau aku sih liat UN sekarang kok ya malah lutju …
    siswa diperlakukan berlebihan dlm pengawasan , seperti Mas Aldy bilang, sudah tdk ada kepercayaan diri dr berbagai pihak terkait…
    sampai2 dipasangi cctv segala
    ( kelas apa supermarket yaaak… ) 😛

    mari menunggu sama2, utk melihat apakah sistem pendidikan kita akan bertambah maju atau tambah parah ……

    Salam

    • Aldy says:

      Mudah-mudahan kedepan ada perbaikan Bunda, dengan mendengarkan saran pendapat dari berbagai pihak tentunya.