Jadilah yang terbaik!

become the bestMenjadi yang terbaik, jangan mencari yang terbaik!
Memilik pasangan atau calon pasangan hidup yang cantik/ganteng/tajir bisa jadi menjadi dambaan setiap orang, untuk mendapatkan pasangan seperti itu berbagai macam cara dilakukan. Dari yang halal sampai yang haram, mulai rayuan sampai ancaman bahkan pembunuhan. Cinta ditolak dukun bertindak. Uh…sampai segitunya gara-gara mencari pasangan hidup yang sesuai.

Setelah pasangan hidup yang didapat dengan perjuangan darah dan doa’ itu diresmikan dalam lembaga pernikahan, mengapa banyak diantara pasangan itu kemudian berpisah? mulai berpisah dengan cara baik-baik sampai dengan pertengkaran dahsyat yang berakhir dipengadilan dan sompret, dengan bangganya jika cerita duka itu diliput oleh media infotaintment yang pada pemberitaannya terkadang justru menyudutkan pihak tertentu. Perang mediapun menjadi hal biasa dalam kehidupan rumah tangga, apakah ini termasuk kekerasan lembaga perkawinan dengan memanfaatkan tangan pihak ketiga? walahualam.

Diluaran sana, banyak berdiri lembaga-lembaga penasehat perkawinan, psikolog, psikiatri yang siap membantu memecahkan permasalahan dalam rumah tangga. Yang sejatinya, lembaga-lembaga tersebut tidak diperlukan jika setiap kepala yang melangsungkan pernikahan tersebut menyadari hak dan tanggung jawabnya, mengerti dan menyadari fungsinya sebagai kepala rumah tangga, memahami dan melukukan dengan baik fungsinya sebagai ibu rumah tangga.

Namun pada kenyataannya, banyak kaum ibu yang beralih fungsinya setelah berumah tangga karena pendapatannya lebih besar dari suami. Banyak kaum bapak yang berniat menjadi maharaja dengan memiliki selir dimana-mana. Akhirnya sang nyonya rumah berubah menjadi indukan yang mencari bibit diseantaro jagad dan sang suami mengubah dirinya menjadi pejantan tangguh yang tidak memiliki moral.

Menyatukan dua ekor manusia, menjadi satu manusia seutuhnya sebenarnya sangat mudah, bukankah yang betina diciptakan Tuhan dari tulang rusuk si jantan agar kelak ia bertugas mendampingi asal usulnya?, Tuhan sengaja menciptakan sang betina dari bagian tubuh sang jantan agar si jantan memiliki rasa kasih sayang, agar si jantan menjagai sibetina karena kodratnya seperti itu?

Intinya, kembalikan semuanya ke fungsi awal maksud dan tujuan Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan. Masing-masing pihak seharusnya menyadari kodratnya, menyadari tugas dan fungsinya. Jika tips sederhana ini diterapkan dalam kehidupan rumah tangga, percayalah keutuhan rumah tangga akan terbina dengan baik dan kelak anda mati tidak meninggalkan dosa yang terlalu banyak, setidaknya anda sudah berani membayangkan surga. Riak-riak kecil, perbedaan pandangan, perbedaan paham, perbedaan pendapat merupakan gula-gula pemanis dalam perjalan bahtera rumah tangga, bahkan ada yang bilang tanpa riak-riak kecil itu, seperti makan sayur tanpa garam. Riak-riak kecil itu seharusnya tidak pernah membesar, karena sebelum keputusan menyatukan dua ekor manusia yang berbeda itu sudah melalui tahapan perkenalan, pacaran dan lain sebagainya sampai terjadi kesepakatan membentuk rumah tangga.

Hal lain yang tidak kalah penting, jangan pernah mencari pasangan hidup yang paling cantik, paling sesuai, paling cocok dan paling-paling yang lainnya. Cobalah ubah diri anda sebagai mahluk pemberi, berilah yang terbaik untuk pasangan anda, berilah yang terindah, berilah yang ternyaman dan ter-ter lainnya, balasanya? anda akan mendapatkan yang terbaik, terindah dan ternyaman dari pasangan anda. Ingat, hukum ekonomi juga berlaku disini. Jangan bermimpi mendapatkan kualitas barang yang bagus jika anda hanya berniat membayar dengan harga termurah.

Gambar dari :chillyoislamyo.com

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari dua orang putu. Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

22 Tanggapan

  1. Cahya says:

    Ya, hidup ini yang sedang-sedang saja Pak :).

  2. Dery says:

    Jangan nikahi orang yang kamu cintai, tapi cintai orang yang kamu nikahi..
    jadi intinya kita harus bersyukur, sudah diberi ini, malah minta yang lain.. hehe.. 😀

  3. Keponakan says:

    Om, latarnya baru ya? Bacanya jadi pelan pelan, hehe. Tapi pesan sudah tersampaikan Om.

  4. narno says:

    kalau yang dicari adalah yang paling paling, akhirnya ketemu dengan rasa kecewa

  5. TuSuda says:

    kayaknya kembali ke komitmen masing-masing… 😉

  6. jarwadi says:

    hehe, saya juga tidak tahu kenapa paman dan bibi saya tidak pernah akur. suatu kali saya sarankan mereka bercerai. mumpung tetangga yang kerja di pengadilan agama belum pensiun. jadi urusannya bisa dibantu diperlancar, 😀

    • Aldy says:

      😆 saran yang sangat jarang mas, jika salah ditanggapi bisa-bisa sampeyan menghadapati tuduhan yang berat.

  7. ririe khayan says:

    cintai org yg bisa membuat kita lebih baik

  8. Budi Arnaya says:

    hahahah saya ngak bakalan mencari lembaga-lembaga itu kang…karena pas nikah juga ngak ngundang mereka, jadi mari saling memahami dan menjadi KK yang terbaik.

  9. andank says:

    lebih ke pendirian masing-masing saja pak, seperti kata bli tusuda

  10. Citro Mduro says:

    Manusia menerima dari apa yang diberikan. Pengertian diantara keduanya. Kembali kepada tugas pokok dan fungsi masing-masing

  11. Cutro NMduri says:

    Semoga saya dapat memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang saya cinta

  12. Aldy says:

    Benar Mas, berbuat dulu baru meminta, berbuat yang terbaik baru boleh mengharapkan yang terbaik.

  13. Hijihawu says:

    Memberi tanpa pamrih memang perlu latihan ekstra.

  14. BloggerAddict says:

    Jangan tanya apa yang bisa pasangan beri pada Anda tp tanyalah apa yang bisa Anda beri untuk pasangan.

    Jangan selalu berpikir bahwa Anda punya daftar panjang yang berisi keinginan2 Anda yang belum dia penuhi karena bisa jadi pasangan Anda punya daftar yang lebih panjang lagi tentang keinginan2nya yang belum Anda penuhi.

  15. applausr says:

    carinya yang sedang sedang saja…. semoga mendapatkan yang terbaik…. yang penting sungguh sungguh ya…