Anak : harta yang tidak ternilai harganya

Bukannya ingin menyombongkan diri dari rekan-rekan yang belum punya anak atau pasangan yang belum punya anak, tetapi cerita berikut ini hanya sebuah contoh orang tua memperlakukan anaknya. Memperlakukan anak dengan semestinya sebagai seorang anak, menyesuaikan diri dengan kemampuan berfikirnya dan beradaptasi dengan kondisi yang sedang dihadapinya.

Kejadian ini saya saksikan tanpa sengaja dan tidak ada niat untuk menyaksikan perlakuan yang tidak semestinya ( pendapat pribadi ). Waktu itu entah kenapa tiba-tiba kebelet ingin buang air kecil, karena posisi toilet dibelakang mau tidak mau harus keluar melalui terras depan.

Setelah usai rasanya plong, dengan santai kembali lagi ke depan. Tanpa sengaja saya melihat seorang ibu ( masih muda ) memarahi anaknya ( usia anak mungkin 3 atau 4 tahun ), sepertinya sianak merengek meminta sesuatu yang pada saat itu tidak bisa dipenuhi oleh si ibu. Seharusnya siibu mencoba menjelaskan kepada sianak ( tentu saja dengan bahasa anak-anak ), bukannya malah mengumpat marah dan memaki. Yang membuat saya miris, kata-kata yang keluar dari mulut siibu sangat-sangat tidak pantas ditelinga saya dan anak sekecil itu tidak akan mengerti dengan umpatan seperti itu, tetapi ingatan bawah sadarnya akan selalu mengingatkan bahwa ibunya marah dengan cara yang tidak patut.

Andai saja siibu keluarga saya mungkin langsung saya pecat menjadi istri :mrgreen:

Anak adalah karunia dan kekayaan pemberian Allah yang tidak ternilai harganya, banyak pasangan yang mati-matian mencari anak sebagai bentuk ikatan kasih sayang dalam keluarga walaupun disisi lain ada ibu/ayah yang tega menjadikan anaknya sebagai barang dagangan bahkan di buang dipinggir jalan. Perlakuan terhadap anak ketika dia masih kecil akan sangat berpengaruh terhadap prilakunya setelah dia menjadi dewasa.

Ingat, jangan menganggap anak durhaka jika kita salah mendidiknya, justru kita sebagai orang tualah yang durhaka kepada anak karena tidak mendidiknya dengan benar !

Sampai saat ini saya tidak habis mengerti, bagaimana mungkin ada orang tua memperlakukan anaknya dengan semena-mena. Apa nggak pernah berfikir sejenak jika membuat anak adalah “pekerjaan yang paling berat ?”

Tidak bermaksud menjadi orang bijak, tetapi bagi narablog yang belum berkeluarga jika kelak diberkahi oleh Allah istri/suami dan anak, perlakukanlah mereka dengan sewajar dan sepantasnya. Mungkin itulah salah satu jalan terbaik membina rumah tangga dan mendidik anak. Atau rekan-rekan punya pendapat lain ?

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari tiga orang putu (update). Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

48 Tanggapan

  1. rismaka says:

    Saya tidak punya pendapat lain mas, semuanya sependapat πŸ˜€

    *kabuuuurr…

    • Aldy says:

      Mau kabur kemana mas πŸ˜†

      • Vulkanis says:

        Saya tangkap Mas,,,
        Terkadang sayapun jengkel ama anak Pak..tapi karena simataa .. wayang dia gak takut tuh sama bapaknya..
        tahulah terlalu saya manjakan kali…

        • Aldy says:

          Sesekali kesal dan marah dengan kelakuan anak sih wajar Kang, sepanjang tidak menggunakan kata-kata yang kasar menurut saya nggak apa-apa. Anak juga butuh pembelajaran.

  2. Febriyanto says:

    anak tiri kali tu mas, kayak di sinetron2… πŸ˜€
    iy sih, apa yg kita katakan kepada seorang anak akan membawa dampak di masa depanny, dikasih tahu dia pasti gedenya doyan tahu, dikasih itu ya doyan itu… hheh,
    ntar suatu saat nanti klo saya punya anak, saya rancang anak saya jadi semasterpiece mungkin biar bgus di masa depany. amin.. πŸ˜€

  3. Cahya says:

    Saya jadi teringat kembali saat nonton film Karate Kid kemarin, kenapa ya…

  4. dery says:

    tega bener ibunya,, memang sekarang masih jaman penjajahan? bukankah negara kita sudah merdeka? seharusnya anak juga memiliki hak untuk menentang ibunya yang salah.. πŸ™‚
    kalo saya jadi anak si ibu itu, mungkin sudah saya pecat dari seorang ibu.. :mrgreen:
    loh, apa bisa πŸ™„

    • Aldy says:

      Mungkin karena usia siibu masih muda dan pendidikannya mas Dery, ini kejadian di pedalaman kalbar/kalteng. He..he…mau mecat ibu yah ? πŸ™„

  5. nakjaDimande says:

    ok, mas Aldy.. keluarga dicintai sesuai dengan yang seharusnya.

    Selamat Pagi, mas.. ud lama aku gak kesini.
    mau numpang sarapan di sini ah. πŸ™‚

    • Aldy says:

      Bundo udah lama nggak maen kesini,
      Beberapa waktu terakhir ini waktu blogwalking saya turun drastis, banyak kerjaan offline yang tidak bisa ditinggalkan.
      Bundo Makan Siang saja ya ? sarapannya belum siap.

  6. ganda says:

    Berarti ibunya tidak bijak ya? Kalau saya jadi suaminya, saya pecat juga tuh wanita. πŸ˜€ Dulu sewaktu saya masih SMP kalau tidak salah, pernah baca cara mendidik anak dengan baik. πŸ˜€ Hehehe.. Jadi saya udah punya bekal nanti sebagai Bapak. πŸ˜€

    • Aldy says:

      Tidak bijak karena usia muda dan pendidikan yang kurang memadai, mungkin itu faktor utamanya bro.
      Sudah siap menjadi ayah ne ? πŸ˜‰

      • ganda says:

        Mungkin lebih tepatnya karena faktor pendidikan, bukan usia bro. πŸ˜€ Sebab waktu saya SMP itu lah saya tahu gimana mendidik anak yang baik, tapi saya melihatnya dari sisi sebagai anak, bukan sebagai orang tua. πŸ˜€

        Saat ini belum bersedia, darah lajang masih bergejolak. πŸ˜€

        • Aldy says:

          Keduanya bisa bolak-balik bro. Anak SMP sekarang tidak seperti anak SMP jaman bro Ganda atau Jaman Saya, sekarang ini bisa dipilih dengan sebelah jari anak SMP yang mampu berfikir dewasa.

          • ganda says:

            Hahaha…. Dewasa sebelum waktunya ya? Oh ya, saya mengenal komputer pertama kali ya SMP juga. πŸ˜€ Waktu tingkat III disuruh menulis makalah Biologi. πŸ˜€ Kirain komputer itu dulunya adalah buat maen game doang. πŸ˜€ Tertarik deh masuk SMK TI. πŸ˜€ Eh ternyata ada programming. Hahaha…

            Wah udah off topic, kita kembalikan ke on topic lagi. πŸ˜€
            Apakah itu karena faktor lingkungan? Atau faktor keinginan si anak? Ada hubungannya dengan video mes*m anak SMP?

            • Aldy says:

              Saya pribadi tidak mengenal istilah dewasa belum waktunya secara baik πŸ˜†
              Anak yang cerdas, memang cenderung lebih dewasa pemikirannya dibanding anak sebaya.

              Lingkungan sudah pasti memiliki pengaruh, tapi yang paling besar pengaruhnya ya dari rumah, didikan orang tuanya sendiri. Kalau video parno anak SMP mungkin sebuah pengecualian lainnya πŸ˜‰

  7. Daiichi says:

    Kalut menghilangkan lpgika… kalo logika sudah hilang tak ubahnya seperti hewan liar.. eit tapi hewan liar pun masih sayang ma anaknya.. jadi kayak apa dung???

  8. budiarnaya says:

    Gimana bang yach…saya mungkin saat itu si ibu lagi panik dan bingung, dengan situasi yang lain, tapi saya yakin dia pasti sayang sama anakknya.
    btw proses membuat anak pekerjaan yang berat hikhikhikhik heeee πŸ™‚ jangan disebar luaskan haaaa πŸ™‚

    • Aldy says:

      Hmm…, kalau persoalan internal saya juga nggak tahu Bli, tetapi pengalaman saya tidak pernah keluarga berkata sekasar itu terhadap anak, mungkin saya saja yang risih.
      πŸ˜€ ada pekerjaan yang lebih berat lagi dari membuat anak Bli ?

  9. Nina says:

    Waah..aku pernah tuh ngalamin kejadian kek gitu..pas lewat ada ibu2 marah ma anaknya..aku spontan melotot..eh si ibunya malu..akhirnya berhenti ngomong kasar..

    aku jadi inget tulisan ini :

    Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.

    JIka anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.

    Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.

    Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri.

    Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.

    Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.

    Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.

    Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan.

    Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya.

    Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

    ( Dorothy Law Nolte…)

    *jiaah..maaf..maaf..komen kok kek postingan..heheheh..

    • Aldy says:

      OOT, di multiply kalau mau komentar harus menjadi member ya mbak ?

      Banyak faktor yang membentuk karakter anak, salah satunya perlakuan/didikan orang tua.
      Yang didik dengan “benar” dirumah saja masih banyak yang melenceng, apalagi dilingkup keluarga saja mendidiknya sudah tidak benar.

  10. ardianzzz says:

    Heheh, jadi teringat kotbah jumat tadi :p
    temanya mirip, jangan-jangan khotibnya habis baca tulisan ini πŸ˜€

  11. Hm, Pak Aldi, sebenarnya saya tidak pernah setuju jika seorang tua menyebut anaknya durhaka. Anak mau jelek, nakal, bodoh, itu sebenarnya kan hasil didikan orangtuanya juga. Jadi kalau anak itu jelek, berarti memang kualitas orangtuanya jelek karena gagal mendidik.

    Kita sudah banyak dengar anak menjadi korban bullying atas orangtuanya sendiri. Tapi kok jarang banget ya, kita dengar orang tua ditindak karena sudah bertindak KDRT psikologis kepada anaknya sendiri?

    • Aldy says:

      Hmmm… sebagai orang tua tersundut juga neh πŸ˜‰
      Aniwati, saya sepaham anak adalah representasi orang tuanya. Sebutan untuk anak yang durhaka biasanya berlaku pad orang tua yang tidak mau kalah karena menang tua. Tetapi tidak dipungkiri ada juga anak yang durhaka dalam artian sebenarnya, sudah didik oleh orang tua, tapi lebih cenderung kepada lingkungan pergaulannya yang cenderung sesat. akhirnya….

      Ada banyak kasus, orang tua masuk penjara karena memperlakukan anak dengan tidak semestinya. Contoh kecil ibu yang membuang bayi-nya ( jangan persoalkan halal dan haramnya πŸ˜€ )

  12. agung says:

    ” Mungkin kak Roes lebih atau masih wajar saat memarahi si Upin – Ipin ”
    tidak usah menggunakan bahasa yang kasar, membiasakan dengan bahasa yang santun, mudah-mudahn si anak bisa belajar dengan baik πŸ™‚

    • Aldy says:

      Kalau Kak Roes hanya galak mas Agoeng, nggak kejam. Tapi cantik loh kalau sudah mengenakan kerudung πŸ˜†

  13. yanrmhd says:

    siiip..mantafff pak :mrgreen:
    hasil yang baik harus diawali dengan baik, anak akan tumbuh baik jika diberi masukan jasmani dan rohani yang baik pula…

    • Aldy says:

      Yah…
      Cuma sering kita temui asupan energi-nya tidak seimbang, kecenderungan asupan jasmani lebih mendominasi dari asupan rohani.

  14. Khery Sudeska says:

    Saya saja yang belum bekerluarga dan belum punya anak juga miris melihat prilaku ortu yang begitu. Alhamdulillah, orang tua selama ini telah membesarkan saya dengan kasih sayang yang cukup, dan saya amat mensyukurinya.

    Saya tak akan pernah bisa tak meneteskan air mata kalau sudah melihat ibu saya menangis kalau suatu waktu melihat perangai saya tak dikehendakinya. Ia tak marah kepada saya, menangis itu sajalah yang dilakukannya. Oleh sebab ia menangis karena saya itulah saya menjadi tidak jadi berkelakuan nakal. Luar biasa, kekuatan seorang ibu justru ada pada kelemahannya; air mata…

    • Aldy says:

      Your Mom is the best women in the world, begitu kata Guru Agama tetangga sebelah. Beliau selalu memiliki senjata pamungkas yang tidak pernah dimiliki oleh Arjuna sekalipun.
      Tapi tidak banyak anak (masa kini) yang tergugah dengan penderitaan orang tuanya. Bahkan protes terhadap orang tuapun dengan berperangai aneh.

  15. Puskel says:

    Iya Mas, bagaimanapun kondisinya, anak-anak adalah titipan berharga. Namun kadangkala karena berbagai situasi, sikap ortu ada yang spontan “memarahi” mereka. Sikap marah perlu juga asalkan mendidik dan melatih sikap mental anak.

    • Aldy says:

      Spontan marah dengan marah sambil mengeluarkan kata-kata kasar dua hal yang berbeda Bli, sebagai orang tua kadang kita juga marah sama anak, tetapi masih dalam batas-batas yang wajar.