Bekas tidak selamanya bekas…

Ada pertanyaan menarik yang selalu menggelitik hati saya, terutama melihat barang-barang bekas yang ada dirumah. Biasanya barang-barang tersebut dikumpulkan dan selanjutnya dibuang ketempatnya.
Kemarin, saya diberi sebuah pelajaran berharga, bahwa barang bekas untuk ukuran kita belum tentu bekas bagi saudara-saudara kita yang lain.

Seperti waktu sebelumnya, saya mengumpulkan beberapa barang bekas yang saya anggap tidak lagi dibutuhkan, dari pada membuat sesak rumah lebih baik barang-barang tersebut saya musnahkan dan cara yang paling praktis membuangnya ketempat sampah. Dari sekian banyak barang bekas yang saya buang, terdapat roti kaleng biskuit khongguan yang isinya tinggal seperempat kaleng. Belum kadaluarsa, tetapi karena sudah cukup lama terbuka dan saya fikir sudah lembut karena cuaca lebih baik dibuang saja.

Pada saat membuat barang-barang tersebut, ada anak kecil usia 8 atau 9 tahun memperhatikan saya, karena kaleng biskuit yang paling menonjol, kelihatan sekali pandangan matanya tidak lepas dari kaleng tersebut. Saya diam, karena saya tahu anak ini hari-hari bermain dilingkungan camp tempat saya bekerja. Dia anak penduduk sekitar. Saya tetap melakukan ‘tugas’ dengan baik, membuang sampah pada tempatnya.

Setelah itu, saya balik lagi kerumah, karena masih ada satu keranjang lagi barang bekas yang harus dibuang. Ketika saya datang lagi ke tempat pembuangan sampah, betapa terkejutnya saya. Sianak tadi sedang lahap menikmati roti biskuit yang tadi saya buang. Karena tidak ingin membuat dia kaget, saya dekati perlahan. Saya tegur perlahan. Ach…. dia membalikan badan dengan sangat cepat menatap dengan nanar kearah saya, tangannya dengan kuat mencengkram kaleng biskuit. Ingin rasanya ngakak tertawa, tetapi khawatir dia merasa terhina. Walaupun saya tahu sisa biskuit yang saya buang belum kadaluarsa, tetapi kualitasnya sudah tidak baik lagi, karena sudah cukup lama terbuka.

Ops…, saya ingat, masih ada satu kaleng lagi yang masih utuh dirumah. Saya mencoba berbicara dengan sianak, menggunakan bahasa daerah setempat, meminta dia tidak memakan lagi biskuit tersebut dan saya akan memberikannya yang baru. Dia mengangguk. Segera saya berlari kecil kerumah untuk mengambil biskuit, kemudian saya serahkan kepada dia, sekalian saya ingatkan lain kali tidak boleh memakan makanan yang sudah dibuang pada tempat tersebut. Dia hanya tersenyum dan kemudian berlalu. Saya bisa melihat kegembiraan dari caranya berlari seperti seekor kancil.

Saya jadi berfikir, benarkah barang yang sudah tidak kita gunakan lagi benar-benar barang yang tidak berguna? nyatanya tidak bahkan untuk makanan sekalipun. Ops, saya jadi ingat juga tulisannya Mas Fadly Muin. Wajah ini menjadi panas seperti ditampar, dibalik kata bekas yang kita sematkan, masih ada kata berguna bagi saudara-saudara kita yang lain.

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari dua orang putu. Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

28 Tanggapan

  1. Fadly Muin says:

    terlepas dari substansi tulisan ini.
    ngomong2 berbakat mas, nulis fiksi.

    makasih dulu untuk sundulan link nya mas Aldy.

    soal pesona kaum miskin, saya pernah juga mengalaminya mas. waktu itu pemulung yg saya kasih sekotak susu. memang benar, rasanya kebahagiaan tersndiri ketika melihat binar matanya yang menyala.

  2. lunarweed says:

    I would like to exchange links with your site personfield.web.id
    Is this possible?

  3. Masbro says:

    Sepenggal cerita sederhana yang menggugah. Mengingatkan saya bahwa daur ulang itu penting.