Bindang (Kelapa Hutan)

BindangTumbuhan ini masuk dalam kategori tanaman perdu (keluarga palem-paleman), dengan ketinggian sampai 20 meter. Dikenal dengan nama ilmiah borrassodendron borneensis. Saya tidak tahu nama daerah lainnya, tetapi di Kalbar pohon ini dinamakan Bindang dan ada juga yang menyebutnya kelapa hutan.

Jika buahnya masih muda, cukup nyaman disantap karena mengandung lemak yang tinggi. Sementara jika sudah tua jarang ada yang mau menikmatinya karena sudah mencapai tingkat kekerasan yang tinggi.

Yang sering dimanfaatkan adalah umbutnya (bagian batang paling ujung dan muda), digunakan sebagai sayuran dan dicampur dengan daging atau tulangan. Secara umum, rasa umbutnya manis. Setiap ada pesta, umbut bindang ini selalu menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Seperti wajib.

Begitu juga jika ada tamu-tamu yang dianggap penting atau tamu yang datang dari jauh. Begitu yang saya rasakan ketika berkunjung ke pedalaman beberapa waktu yang lalu. Sengaja gambar sayur jadinya tidak saya ambil, karena bisa jadi menjadi tatapan aneh dari tuan rumah karena saya foto.

Yang pasti rasanya cukup maknyus, cuma bagi yang kurang suka dengan rasa manis, sayur umbut bindang ini menjadi sedikit masalah. Tetapi selebihnya terasa nikmat. Setidaknya di lidah kampung yang saya miliki. Anda berminat?

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari dua orang putu. Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

74 Tanggapan

  1. Pakde Cholik says:

    Lho, baru tahu kalau ada kelapa hutan.
    Saya suka umbut, tapi bukan untuk sayuran, hanya dimakan begitu saja. Rasanya mirip bengkoang ya mas.
    Warga Kampung saya menyebutnya pondo. Mungkin takut kepleset jika menyebut gambut……
    terima kasih informasinya.

    salam hangat dari Surabaya

  2. 'Ne says:

    mirip tanaman hias palem botol ya pak Aldy,
    ngomong2 saya kurang suka masakan manis jadi gak nyoba dulu lah (lagian di sini gak ada hehe)

  3. alief says:

    walau udah hampir setaun di kalimantan kayaknya belum merasakan ntu makanna dah mas….

  4. Kelapa hutan? Wah saya baru tahu pak Aldy. Tapi kalau umbut itu semua kelapa punya kan? Sangat manis.

  5. aciid says:

    wew 20m
    sama kayag klapa donk 😀

  6. Mr, Kem says:

    apa ini buah nya warna coklat tua ya om??..kalo di makassar buah tala mungkin

  7. Assalaamu’alaikum Nanda Aldy…

    Alhamdulillah… sudah banyak kali bunda mencoba memasuki blog nanda melalui link di blog bunda ternyata hampa, selalu sampai ke tulisan Error + nomornya. Lupa. Hari ini ternyata sudah boleh.

    Kalau di Sarikei, tempat bunda, ada menjual umbut bindang ini. Ia dijual oleh masyarakat Iban kampung yang datang ke bandar pada setiap kali pasar Minggu. batangnya dibelah dihadapan pembeli untuk mendapat umbutnya. payah juga bunda lihat mereka membelah batangnya yang keras dan mengambil unbut yang sedemikian kecil. Bunda tidak pernah mencoba tetapi pernah bertanya kepada salah seorang pembeli umbut bindang ini. Katanya sangat manis dan rasanya seperti umbut kelapa biasa. Lagi sedap kalau dimasak lemak bersama udang galah. Hmm.. rasa nak masa umbut je hari ini.

    Salam mesra dari bunda di Sarikei, Sarawak. 😀

    • Aldy says:

      Waalaikumsalam bunda Siti,

      Sekarang penyebabnya sudah diketahui dan sudah buang bunda, bundapun sudah boleh memberikan komentar lagi.

      Pohon ini habitatnya hanya ada di kalimantan bunda, dari nama ilmiahnya sudah ketahuan. Sayang bunda belum menikmatinya umbut bindang.

      Hehehehe…kalau dengan udang galah, tentu udangnya habis duluan bunda.

      • Alhamdulillah, bunda senang dapat berinteraksi semula dengan nanda melalui link di blog bunda.

        Hmmm… memang benar, kalau udang galah jadi lauknya, biar sedap manapun sayuran yang dicampur… udang juga yang dipilih terutama bahagian sepit yang besar dan otaknya… haha.. kok otak udang sangat sedap ya, nanda.

        Kalau otang tua dulu, melarang makan otak udang, bimbang otak kita (anak) jadi lembab. tapi sih… bunda tidak pernah merasai demikian atau hanya satu lagenda supaya anak2 tidak makan otak udang, jadi yang makannya orang tua.. taktik kotor yang bagus. 😀

        Salam seindah suria dari bunda di Sarikei. 😀

  8. anna says:

    hehe.. tadi sempat saya kirain pohon kelapa sawit..
    tapi yang jelas kalo makan pohon itu belum pernah ,,,
    rasanya gimana tuh?

  9. budiarnaya says:

    Saya sendiri baru mengenalnya nich…membayangkan kalau menikmatinya dalam bentuk sayuran…mmmmm

  10. BENY KADIR says:

    Di daerah saya cuma ada pinggong (pinang hutan).
    Sayur umbut saya paling suka.
    Di sini terbuat dari pucuk rotan atau pucuk enau, hehehe

    • Aldy says:

      Hehehe…iya Mas, umbut memang enak.
      kalau umbut rotan yang enak itu, umbuk rua. Kalau umbut enau(aren) enaknya dimasak dengan tulang sapi 😉

  11. ganda says:

    Rasanya manis ya? Kalau manisnya standar, masih cocok ke lidah saya. Tapi jika terlalu manis, say no deh. 😀 Pedas+asin+asam adalah rasa favorit saya. 😀

  12. yusuf says:

    melihat pelepahnya hampir mirip dengan kelapa sawit ya Pak, cuma buahnya saja yang berbeda bentuk