Celetuk

jangan nyeletuk

Pernah menyela dengan kalimat pendek ketika asyik ngobrol dengan rekan kerja atau teman-teman satu group? menyela dengan kalimat ejekan (bergurau)?, menyela dengan kalimat untuk memanaskan suasana (si api biru)? atau menyela dengan kalimat yang tidak jelas juntrungnya? Jika tidak berhati-hati dan celetukan yang dikeluarkan ditempat dan kondisi yang salah, maka celetukan tersebut bisa berakhir dengan cerita duka.

Celetukan seperti ini hanya diperbolehkan dilingkungan yang sangat akrab, karena dilingkungan seperti ini biasanya antar individu sudah saling mengenal dan tahu karakter masing-masing. Sehingga celetukan yang berakhir dengan prahara bisa diminimalkan. Walaupun demikian, sangat disarankan jika punya kebiasaan menyeletuk diantara gurauan, perhatikan situasi yang sedang berlaku, jika suasana sedang cair dan sangat akrab celetukan seperti ini biasanya ditanggapi dengan tawa. Tetapi jika suasananya sedang panas, sebaiknya kunci mulut rapat-rapat atau resikonya mulut kita akan dikunci oleh orang yang kita celetuki. Pilih yang mana?

Aku sendiri sering nyeletuk jika sedang berbincang dengan rekan-rekan kerja tetapi karena masuk kategori senior, celetukan ku sering ditanggapi dengan tawa, walaupun aku juga menyadari yang terkena celetukan wajahnya merah padam, entah itu malu atau menahan marah. Bahkan dalam kasus tertentu, aku juga sering nyeletuk di jejaring sosial atau saat memberikan komentar pada sebuah blog.

Namun demikian, sekali lagi, seakrab apapun sebuah suasana, berhati-hatilah jika ingin nyeletuk dengan tujuan membanyol, karena jika salah suasana tadinya cair dan akrab bisa berubah menjadi ajang caci maki. Dan hanya boleh dilakukan dilingkaran orang-orang yang dirasa cukup akrab.
Jika ternyata celetukan yang dikeluarkan masih juga menimbulkan rasa yang tidak nyaman, segeralah meminta maaf kemudian coba cairkan kembali suasananya. Jika tidak memungkinkan, segeralah cari alasan agar dapat segera meninggalkan rekan-rekan anda untuk beberapa waktu.

Tetapi jika celetukan tersebut meninggalkan kesan tidak baik yang cukup dalam, cobalah ajak bicara empat mata rekan yang tersinggung tersebut, jelaskan tujuan celetukan yang dimaksud. Masih tersinggung juga? sekali lagi MINTA MAAF. Jika sudah berkali-kali minta maaf, tetapi yang bersangkutan masih merasa tersinggung atau berubah menjadi besar kepala sehingga menjadi jumawa, sebaiknya tinggalkan. Dan pada lain kesempatan jangan pernah mengeluarkan celetukan lagi jika yang bersangkutan sedang bicara atau menjadi bahan olokan teman-teman yang lain. Atau jika mau ekstrim, anggap saja yang bersangkutan tidak ada dalam lingkaran pergaulan anda. Resiko paling berbahaya anda kehilangan seorang teman, padahal kata para bijak pandai, seorang teman lebih berharga dari seribu musuh.

Sumber gambar : superstock.com

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari dua orang putu. Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

33 Tanggapan

  1. nandini says:

    dulu saya tukang celetuk yang spontan tanpo tedeng aling-aling.. tapi kebiasaan itu memudar setelah beberapa kali celetukan saya dianggap terlalu polos dan blak-blakan.. sekarang, saya lebih banyak mendengarkan dan belajar mengendalikan diri untuk tidak nyeletuk meski kadang gatal juga 😀

  2. Aulia says:

    waspada celutuk 🙂
    bisa menyebabkan hilang teman bahkan bisa membuat permusuhan 😀

  3. TuSuda says:

    pada masa pergaulan sekolahan, seringkali nyela pembicaraan maksudnya mau guyon, tapi kadang-kadang kesannya diterima lain. 🙁
    BTW..maafkan juga ya Mas, kalau ada celetukan kata sy disini yg salah kaprah atau miskomunikasi.

    • Aldy says:

      Memang, dalam prakteknya sering terjadi salah dalam mengartikan celetukan, Bli.
      Kalau dilaman blog ini, bebas nyeletuk dan tidak ada sensor, paling-paling diperingatkan sementara sama si Aki.

  4. TuSuda says:

    semasa sekolahan seringkali nyela omongan teman, maksudnya mau guyon, diartikan lain. 🙁
    BTW..maafkan ya Mas, bila ada celetukan sy disini yg sering salah kaprah atau miskomunikasi. 8)

    • Aldy says:

      Sekalipun blog ini laman pribadi, tidak ada kebijakan dari admin melarang celetukan. Jadi? bebas bli dan dijamin tidak akan dipidana 😆

      • TuSuda says:

        He..he…jadi malu nih…komentarnya muncul berulang-ulang, tadinya sy kira tidak mau muncul saat dikirim via HP.
        Makasi ya Mas..atas keramahan admin blog ini. 😉

        • Aldy says:

          Saya juga sedang dilanda kebingunan Bli, si Aki akhir-akhir ini sering salah tangkap. Bli Putu selalu diterima dengan tangan terbuka disini, walaupun satpamnya sering salah pengertian.

  5. nique says:

    hehehe seperti Nandini, saya juga paling2 dah klo sudah soal nyeletuk.
    celetuk yang pas bisa menyegarkan suasana yang tadinya tegang bin serius, mencair karena suara tawa grrrr yang bersamaan. Tapi tentu saja, ada yang tidak suka dengan celetuk itu, mungkin karena konsentrasi dia jadi buyar, misalnya. Hhehehe … *amit2* jangan sampai mengalami dibungkam orang gara2 nyeletuk, karena hobi nyeletuk itu.

    Biasanya dalam satu pertemuan, klo saya diam saja, tidak nyeletuk sekalipun, sampai dikira sedih, sakit, atau sejenisnyalah. Itu saking terkenalnya saya jadi tukang nyeletuk. *memalukan ga seeeeeeeeeh* Hahaha

    • Aldy says:

      Nyeletuk itu asyik. Itu yang pernah saya rasakan jadi tukang celetuk, apalagi jika yang diceletuki jadi gimana gitu. 😉
      Memang ada ‘kerinduan’ tersendiri jika tukang celetuk diam seribu bahasa, maka wajar jika kemudian si tukang celetuk dianggap sakit, sedih atau semacamnya jika tak bersuara.

  6. serambipuisi says:

    tadinya mau nyeletuk, gak jadi akh….takut Mas Aldy tersinggung ……… 😛

    aku juga kalau mau nyeletuk lihat2 situasi dulu Mas, dan biasanya sih kalau dilingkungan yg sudah akrab saja, kalau gak, ya gak berani…. hehehehe.. 🙂
    bukannya lutju, malahan dipelototin …. 😀 😀
    salam

    • Aldy says:

      😀 untuk bunda dan yang datang ke blog ini tidak ada kata tersinggung, paling-paling manyun 😉
      sesekali boleh lha bunda, asal jangan sampai dipelototin aja.

  7. narno says:

    mohon maaf kalau cetelukanku yang jarang nongol diblog ini tak berkenan bagi pemilik blog ini

  8. nyeletuk dulu ah “wani piro…!!!”…

  9. Adib mahdy says:

    wa emang bner kita harus tau karakter orang yg kita ajak komunikasi
    kalau orangnya mudah tersinggung pasti akan hasilnya g baik hehe

    • Aldy says:

      Benar mas, jika salah seperti yang sampeyan tulis, yang diceletuki tersinggung, akhirnya berantem 🙁

  10. marsudiyanto says:

    Celetukan lebih kepada kebiasaan
    Orang yg terbiasa nyeletuk, maka dia nggak berasa kalau apa yg dilakukan itu banyak kurang baiknya ketimbang nilai positifnya, kecuali dalam hal tertentu.
    Kalau dia pelawak, celetukan justru punya nilai tambah. Tapi dalam hal lain kayaknya banyak nggak baiknya.
    Bisa terjadi hanya karena celetukan, bisa berakibat fatal.
    Nyeletuk musti liat situasi. Sekali2 kayaknya harus, tapi jangan jadi kebiasaan.

    • Aldy says:

      Benar mas, kebiasaan nyeletuk bisa membawa petaka. Tujuannya membanyol malah berakhir konyol. Situasi yang sedang berlangsung harus menjadi pertimbangan paling utama kalau mau nyeletuk.

  11. marsudiyanto says:

    Saya komentar panjang kok hilang sia2…

  12. dee says:

    Saleum,
    Aku biasanya nyelutuk kalau sudah merasa akrab aja, kalau belum akrab biasanya aku ngopi mas.

  13. Citro Mduro says:

    saya numpang nyeletuk ya om
    Yang bisa nyeletuk seperti saya harus belajar mengendalikan diri dan menempatkan posisi yang tepat untuk melontarkan celetukan

    • Aldy says:

      Monggo Cak, mau nyeletuk sekuat-kuatnya atau semampunya pun silahkan, adminnya sudah ‘jinak’…

  14. Una says:

    Hihihi aku kalau asal nyeplos nyeletuk cuma di yang temen deket aja.
    Kalau nggak, takut ah kalau kenapa kenapa @_@