HAM, antara perusuh dan polisi anti huru-hara

polisi-anti-huruhara

Ini realitas yang menyedihkan, polisi yang bertugas mengamankan huru hara selalu dihantui dengan ancaman pelanggaran Hak Asasi Manusia, sementara para pelaku huru-hara dapat melakukan aktifitasnya dengan bebas tanpa takut dicap pelanggar HAM sekalipun yang mereka perbuat menyebabkan orang lain cedera bahkan modar!.

Ingat! Polisi juga manusia, bukan hanya rocker.
Pelaku huru hara juga manusia sekalipun mereka merusak, menginjak, mengejek, memperolok bahkan rasis!

Nah, kalau semuanya manusia mengapa harus ada huru hara? mengapa pula harus dibentuk Polisi Anti Huru Hara? ya karena keduanya sama-sama manusia. Kalau mahluk selain manusia jarang melakukan huru hara.

Mengapa polisi anti huru-hara selalu diancam dengan tuduhan HAM?, karena tugas mereka mengamankan para pelaku huru-hara, para pelaku huru-hara ini harus diperlakukan secara manusiawi, mungkin anggapan para pejuang HAM para pelaku huru-hara bukan manusia, sehingga yang mengamankan perbuatan mereka haruslah manusia yang manusiawi yaitu polisi anti huru-hara.

Mengapa polisi anti huru-hara kadang berbuat tidak manusiawi? karena mereka diperlakukan tidak manusiawi oleh pelaku huru-hara. Diejek, dihina, dilempari telor busuk bahkan dengan benda-benda tumpul yang bisa membuat kepala mereka benjut. Selain itu karena mereka juga manusia yang butuh dihormati, dihargai. Jika para pelaku huru-hara bisa memperlakukan para polisi tersebut secara manusiawi, percayalah para pak polisi anti huru-hara juga akan memperlakukan mereka secara manusiawi, bahkan mungkin tidak dibutuhkan polisi anti huru-hara.

Walaupun tuduhan tersebut harus dibuktikan di pengadilan, tetapi menuduh terlebih dahulu tanpa bukti yang sah sudah melanggar asas praduga tidak bersalah yang selalu didengungkan dalam upaya penegakan hukum dinegeri ini. Tuduhan pelanggaran HAM terhadap para pengaman perusuh ini terkadang cukup mengerikan, bukan hanya berpengaruh terhadap kehidupan pribadi yang bersangkutan tetapi juga keluarga.

Sangat berbeda dengan para perusuh, sangat jarang terdengar jika perusuh dituduh sebagai pelanggar HAM, walaupun mereka tidak terlepas dari jerat hukum, tetapi tuduhan yang terima hanyalah sebagai pelaku tindak kriminal biasa. Bukankah disini sudah terjadi diskriminasi?

Dari kasus yang sama, tetapi memiliki implikasi hukum yang berbeda. Ataukah kita memang lebih suka dengan kerusuhan?
Bagi sekelompok kecil orang, kerusuhan bisa saja menjadi ladang ekonomi, menjadi pijakan politik untuk mencapai tujuan tertentu. Tetapi percayalah, pada dasarnya manusia tidak suka dengan kerusuhan. Tetapi karena kita manusia, kerusuhan mungkin sudah ditakdirkan menjadi bagian dari perjalanan hidup sebelum dipanggil pulang oleh Sang Pencipta. Wallahu ‘alam bisawab.

Sumber gambar :Islamic.org

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari dua orang putu. Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

45 Tanggapan

  1. yayats38 says:

    yang bikin kita khawatir lagi jika kerusuhan akan dijadikan alat bahkan strategi .. semoga saja tidak ..

  2. nique says:

    kekenyangan durian, jadi ga bisa mikir, jadi komennya segini dulu, besok baru balik lagi ya om pakde mas:D

  3. stupid monkey says:

    nah, itu dia sob, saya juga sempet bingung, dulu waktu kuliah memang pernah sering ikut demo sampai rusuh, tapi sekarang, kalau lagi di jalan trus macet sama para demonstran yg bikin rusuh, jadi kesel juga, bingungnya lagi, sebenarnya mereka itu memperebutkan hak yg bagaimana, kok gak bisa pakai jalan damai gitu, atau jalan pintar lah, mungkin para oknum pencetus kerusuhan ini nih yg kudu di bejegerin kali ya, 😀

    • Aldy says:

      Mon, posisi kita sekarang sama, sehingga ketika terjadi rusuh dan macet, terlambat masuk ketempat kerja, akhirnya kita menilai, kerusuhan hanya bikin susah orang banyak saja 😆

  4. Evi says:

    Benar juga ya, para perusuh yg suka merusak itu jarang dituduh sebagai pelanggar HAM. Kalau gitu masyarakat juga suka menetapkan hukum tebang pilih ya Pak 🙂

    • Aldy says:

      Mungkin perlu pendewasaan dulu Mbak, kan banyak pengamat yang mengatakan rakyat kita belum dewasa dalam berpolitik.

  5. kalau kita menjalani hidup ini dengna damai, pemimpin bertindak adil, semua manusia saling menghormati, mungkin tak perlu lagi Plisi AHH dan Komnas HAM ya. 🙂

    • Aldy says:

      Benar Kang, dan andai saja bisa seperti itu, komnas HAM dan Polisi Anti Huruhari tidak dibutuhkan.

  6. dmilano says:

    Saleum,
    Sebenarnya tidak adil jika status pelanggar HAM itu disematkan pada Polisi yang tugasnya mengantisipasi Huru hara. MEreka kerap dilempari batu, kayu bahkan molotov dan tidak mungkin mereka hanya diam sementara keselamatan mereka terancam dan juga keselamatn masyarakat lainpun ikut terancam.

    • dee says:

      Jika ingat masa 1998 dulu, aku gak menyalahkan aparat yang sempat menembakkan peluru karet di betisku mas, sudahlah… tugas mereka mengamankan dan wajib bertindak keras apabila sudah diluar batas toleransi hukum. itu tugas mereka….

    • Aldy says:

      Dee, tergantung pada kondisi real dilapangan dee. Kadang perusuh yang memulai, tapi ada juga justru para polisi yang memulai.