Lakalantas : diam itu bukan emas

Diam itu emas.

Pepatah tua mengatakan seperti itu. Tetapi kemudian layak dipertanyakan kembali, benarkah diam itu emas?

Pada suatu hari, anda berkendara dijalan raya dan pada sebuah tikungan yang sunyi anda mendapati seseorang terkapar dan merintih tak berdaya karena kecelakaan. Haruskah anda diam dan membiarkan sikorban sendirian? jika anda mendiamkan saja berarti anda sudah mengabaikan bisikan hati nurani anda yang sebenarkan, coba bayangkan jika anda yang mengalami kecelakaan tetapi dibiarkan saja oleh orang lain. Dalam kasus ini, diam bukan lagi emas. Tetapi diam berubah menjadi mahluk yang paling mengerikan dan paling sadis yang pernah ada.

Tindakan berikut, mungkin bisa anda lakukan, setidaknya masih menunjukan bahwa anda punya hati nurani.

    Menghubungi Petugas.

  1. Menghubungi petugas terdekat dengan memberitahukan yang terjadi dan lokasi kejadian.
  2. Menyerahkan kepada Petugas yang hadir pertama kali ditempat kejadian segala apa yang diperlukan dan ceritakan dari awal sampai akhir kejadian, jawab pertanyaan yg diajukan dengan jujur dan ikuti petunjuk petugas lebih lanjut.
  3. Memindahkan kendaraan dilakukan setelah diketahui oleh petugas.
    Pertolongan medis

  1. Dalam memberi pertolongan, gunakan pertolongan pertama pada kecelakaan dengan tepat, jika anda tidak mampu melakukan tindakan medis, jangan dipaksakan. Serahkan saja pada ahlinya.
  2. Hentikan kendaraan yang ada pada kesempatan pertama bila ada korban yang perlu dibawa ke Rumah Sakit, catat nomor kendaraan dan kemana korban dibawa.
  3. Usahakan menghubungi keluarga korban berdasarkan petunjuk/keterangan yang ada padanya.

Cuma itu?
Masih banyak yang bisa anda lakukan, tetapi ketahuilah dengan pasti kemampuan anda. Jangan karena ingin berniat baik, justru petaka yang didapat. Berfikiran postif merupakan langkah awal yang baik saat melakukan pertolongan pertama pada kecelakaan.

Andai saja dalam kondisi ini anda masih tetap diam juga, entah apa yang ada dibenak anda saat itu.

Masih ingin diam? Terlaaallluuuu…..

  Copyright secured by Digiprove © 2010 Aldy Markopiola

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari tiga orang putu (update). Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

97 Tanggapan

  1. Sugeng says:

    Saat pertama kali aku mempunyai camdig, ida selalu aku bawa kemana-mana saat aku pergi akrena siapa tahu ada moment yang perlu di abadikan. Pas berangkat kerja ada lakalantas yang menyebabkan korban tewas di TKP. Padahal niat sudah bulat untuk bisa mengabadikam moment2 penting. Lha pas ada peristiwa itu koq aku malah ngacir karena tidak berani melihat kejadian yang sebenarnya apalagi melihat sudah ada petugas yang hadir mengatur keadaan disana. Tambah ngacir saja aku biar gak melihat keadaan yang sebenarnya 🙄
    Salam hangat serat jabat erat selalu dari Tabanan

  2. tary-ssi says:

    harus pintar2 menempatkan diam itu sendiri, kalo pada kasus seperti ini, kita diam, kyknya kita gak layak disebut manusia. dan tipe manusia seperti ini pantesnya disumpahin jadi kodok. terlalu…

  3. kangmas ian says:

    hehe mungkin diamnya dari berbicara dan berlaku yang tidak penting mas .. kalao ceritanya kaya gitu mah bener kata mas aldy..sungguh terlalu… ^^

    • Aldy says:

      Kang Ian, bagaimanapun nurani kita pasti tidak tega melihat sesuatu yang buruk terjadi didepan mata, jika kita hanya diam berarti kita memang terlalu…

  4. Masbro says:

    Harus pinter membaca situasi. Kalau seperti contoh kasus di atas dan kita tetap diam, wah..TERLALU..Salam hangat Om;

    • Aldy says:

      Salam Masbro, situasi dan kondisi sangat memegang peranan untuk menentukan apakah sikap diam kita emas atau pecundang.

  5. mamah Aline says:

    kalau ada lakalantas seperti itu, saya gak bisa diam mas aldy…. kasian kan. betul, diam itu emas untuk hal atau ucapan yang kira-kira bakal menjadi kisruh. kita mesti fleksibel dalam menafsirkan pepatah itu

  6. Darin says:

    Kebanyakan dari kita memang hanya bisa menonton kalau ada kejadian seperti itu. Dan mungkin saya salah satunya…

    Tapi coba bayangkan kalau yg ditabrak itu teman, sahabat atau keluarga kita sendiri. Bagaimana? Masih mau diam? Terlaaluuuuu!

    • Aldy says:

      Hehehe….
      benar mas Darin, kalau urusannya berhubungan dengan kelurga sendiri saja masih diam, mendingan masuk liang k***r.

  7. indam says:

    jika kondisinya seperti diatas, yah “diam itu bego’. namun ada kondisi tertentu ‘dimana’ diam itu jauh lebih baik.

    kira-kira, seperti ini;
    misal ada orang yang di kejar golok, trus kita lihat dia bersembunyi di misal di got, lalu yang bawa golok bertanya ‘eh lihat orang lewat sini nggak?’ kalo kita jujur ‘mungkin hal buruk bisa terjadi. 🙂 🙂

  8. indam says:

    oia, plugins yang menampilan jenis browser dan OS yang digunakan pada si pemberi komentar namanya apa ya?

  9. sedjatee says:

    setuju Kang…
    kondisi dan situasi terkadang tak sama
    mungkin diam itu emas
    tetapi terkadang tak selalu begitu
    thanks pencerahannya, salam sukses..

    sedj

  10. TuSuda says:

    Setuju Mas, sepanjang masalah itu dikuasai dan diketahui prosedurnya, harus cepat tanggap demi kebaikan bersama. 😉

    • Aldy says:

      Dalam memberikan P3K kan ada prosedur standar, kalau memang tidak bisa, menurut saya tidak perlu memaksakan diri.

  11. Dulu ada kejadian, orang yang masih saya kenal mencoba menolong orang yang seperti pak Aldy ceritakan di atas, tapi oleh polisi orang yang saya kenal ini disangka penyebab kecelakaan dan berurusan cukup lama. Kalau sudah begini, dilema. Tapi saya suka kata-kata “Berfikiran postif merupakan langkah awal yang baik”. Saya setuju.

    • Aldy says:

      Bli Tamba,
      saya sendiri pernah mengalaminya, namun karena niat awalnya ingin membantu, saya menjalaninya dengan senang hati.

  12. iskandaria says:

    Wah, kalo diam begitu cenderung diam berupa tidak melakukan sesuatu yang bersifat tindakan. Kalo diam itu emas, setahu saya kan diam berupa tidak bicara 😆

    Tapi saya setuju dengan konteks bahwa diam ketika melihat lakalantas itu bukan emas. Makna diam kan tidak selalu berarti tidak bicara ya Pak.

    • Aldy says:

      Saya tidak bisa membayangkan, jika saya menyaksikan kecelakaan pada jalan yang sepi, kemudian saya berlalu begitu saja 🙁

  13. Kalau diam-diam, nanti malah menghanyutkan, gimana tuh Mas… 🙂

    BTW, tentang templatenya tusuda, letak tanggal dll. sudah Oke, terus bisa minta tolong, kalau judul postingan dan oleh nya, diposisikan ditengah-tengah (centre), gimana Mas, kira-kira bagus ya… MAAFKAN terlalu banyak “menyuruh-nyuruh”
    TERIMAKASIH atas bantuannya.
    SALAM dari Kendari… 😉

    • Aldy says:

      Bli Putu, bisa dibuat center, nanti akan saya benahi dulu. Maaf bli, codingnya hanya bisa dimalam hari, siang hari kerja menyelesaikan tenggat.

  14. diam juga memalukan di kelas karena membunuh antusiasme belajar murid dan pengajaran guru. kayak ngajar tembok.

  15. MENONE says:

    knp sich banyak yang diem krn mereka mrs klo kita menghubungi si…..(maaf ga bs nyebut merk ato nama ehehehehehehehe) kebanyakan malah nambah ribet kadang juga bebean……… kadang korban udh sial tertimpa tangga lagi…….. contoh udh kecelakaan waktu sembuh hrs nebus motornya………..gmn dunk? blom lg urusannya yang jadipanjang…………… ni jujur dr hati sobat

    • Aldy says:

      Menone, saya akui kejadian tersebut sering terjadi dan akibatnya banyak yang cuek jika ada kecelakaan. Entah masyarakat sadar atau tidak, membiarkan korban kecelakaan juga salah dan dapat dikenakan hukuman 😀