Mengapa, wajah itu semakin beringas?

“Bunda, sekarang kita tidak memiliki lagi tempat untuk berjualan…”
“Sabarlah anakku, mungkin saat ini “Sang Penguasa” sedang tidur dan dia tidak melihat yang sedang terjadi…”

Dialog singkat antara anak dan ibu diatas mengandung multi tafsir, silahkan pembaca menafsirkannya masing-masing. Dan saya akan menafsirkannya dari sisi yang berbeda.

Di negeri antah berantah tersebut, sianak menyaksikan kebrutalan sekelompok orang yang mengaku dirinya menegakan kebenaran, menjauhkan masyarakat dari kemaksiatan dan pembusukan. Wajar jika sianak meratapi warung yang mereka miliki, karena hanya warung itulah sumber penghidupan dan mereka hanya berjualan makan serta minuman berlabel “halal”.

Sialnya rejeki mereka yang halal menjadi biang amuk pengawal kebenaran dengan melakukan tindakan yang tidak benar. Benar dalam perpektif yang sangat sempit, hanya untuk golongan mereka sendiri. Seperti hanya mereka roh kebenaran.

Kebenaran yang bagaimanakah, yang harus ditegakan dengan menimbulkan sikap anti pati dan kebencian? benarkan “Sang Penguasa” sedang terlelap dan tidak mengetahui kejadian yang sedang berlangsung?

Ketika semua orang mengaku dirinya benar, ketika semua mengklaim bahwa dirinya yang paling benar, maka pada saat itulah dia secara tidak langsung telah mengatakan bahwa dirinya melakukan yang tidak benar. Fanatisme buta tersebut telah merusak logika dan akal sehat, akibatnya, bom waktu menunggu untuk meledak.

Sikap ini umumnya ditunjukan oleh orang-orang yang merasa dirinya besar, ditakuti, disegani dan memiliki “power”. Tidak lagi bertindak berdasarkan “tepa selira”, tetapi bertindak atas asas kebenaran dalam lingkup yang sempit. Dan “Sang Penguasa” benar-benar tertidur pada saat ini.

Dan haruskan kebenaran ditegakan dengan wajah-wajah jelek yang semakin beringas?

Semoga saja kejadian di negeri antah berantah tersebut tidak terjadi di negeri yang berasaskan Pancasila.

  Copyright secured by Digiprove © 2010 Aldy Markopiola

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari tiga orang putu (update). Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

62 Tanggapan

  1. kangmas ian says:

    PERTAMAX kah? 😀

  2. kangmas ian says:

    Pancasila aja g diamalkan apalagi ayat alquran hahaha 😀

  3. Nurdiana Atmanagara says:

    Miris bacanya… 🙁

  4. Dalam pancasila di setiap butir dan ayatnya di tegaskan tentang ketuhanan, keadilan, kasih sayang dan demokrasi….

    Semoga itu tak hanya menjadi sebagian dari sejarah saja…
    Karena banyak terlihat ketidka adilan di mana-mana di mana mereka yang kuat seakan semena-mena dan dengan angkuhny amenciptakan kebenaran sendiri dan ini bukan kebenaran, melainkan pembenaran….

    beugh, aku comment serius….

    • Aldy says:

      Tidak akan menjadi sejarah, sudah diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari dan bernegara, cuma belum maksimal 🙁

  5. budiarnaya says:

    Dia bukan sedang terlelap namun pura-pura buta dan tertidur, sehingga tidak lagi mempunyai rasa, semoga kita tidak termasuk dalam bagian manusia-manusi seperti itu Bang…..

  6. budiarnaya says:

    Kayaknya keluhan kita hampir sama Bang yach….

  7. TuSuda says:

    seharusnya tidak boleh terjadi..

    • TuSuda says:

      terimakasih ya Mas, atas kiriman themesnya, sudah berhasil diinstall..sesegera mungkin dipasang sebagai themes baru tusuda…tunggu tanggal mainnya… :mrgreen:

    • Aldy says:

      Seharusnya ya, tidak boleh terjadi. Tetapi pada prakteknya tetap terjadi.

  8. Deden Hf says:

    Miris.
    semoga penguasa negeri antah berantah itu segera sadar dan kembali ke jalan yang benar. supaya bawahannya yang berwajah jelek dan beringas itu dapat bertindak dengan benar pula.

  9. BENY KADIR says:

    Ya, begitulah orang mengklaim kebenaran tanpa melibatkan nurani.
    Masih mending kalo rakyat kecil masih sadar bahwa penguasa negerinya masih ada, walau terlelap.
    Kalo sebaliknya, maka bom waktu benar2 meledak.

    • Aldy says:

      Berharap bom waktu itu tidak pernah meledak. Karena jika terjadi ledakan, yang rugi masyarakat kecil juga 🙁

  10. Sang Penguasa pastinya gak pernah terlelap.
    Sang Pura2 Penguasa lah yg sering terlelap hati nuraninya ,Mas 🙁
    kok , aku jadi emosi ya?
    gemessss……..gemezzz………
    justru krn hal diatas terjadi sering terjadi di negeri ini(negeri yg beazaskanPancasila) 🙁
    salam

  11. Darin says:

    Kebenaran versi penguasa itu kadang dicecar oleh kepentingan pengusaha berduit. Wajar saja bila terkesan penguasa selalu melindas yang kecil, itu dilakukan demi memuluskan apa yg jadi kepentingan cukong2.

    Semoga negri ini segera menemukan kembali roh pemikiran Bung Hatta…

  12. Cheat Point Blank Terbaru says:

    ane juga ga tau ni

  13. Kebenaran akan selalu menang bang…
    Yang serakah akan Punah,….

  14. Fadly Muin says:

    Tulisan kali ini bermakna sangat filosofis mas.
    namun, makna-makna tentang fungsi pengayoman bagi penguasa, sangat kental terabaikan.

    dalam dimensi yang berbeda, penguasa bisa berbentuk premanisme yang terbungkus dalam kemasan yang lebih elegan.